Primbon

Merawat kandungan karya Herjaka HS
Serial Primbon 105
Selamatan Kandungan
Rangkaian upacara panggih adalah merupakan puncak dari seluruh rangkaian acara perkawinan. Upacara panggih ini diakhiri dengan sungkeman kedua pengantin kepada orang tua, serta diteruskan sungkem kepada para sesepuh yang ngombyongi jalannya upacara dari awal hingga akhir.
Urut-urutan acara perkawinan seperti yang ditulis di depan berlaku jika pengantin laki-laki masih jejaka dan pengantin perempuan masih perawan, atau disebut tigas.
Jika antara pengantin laki-laki dan pengantin perempuan masih ada ikatan saudara misan, atau tunggal embah buyut, dan secara darah tua dari pihak perempuan ada syaratnya yaitu: 1. pengantin laki-laki mencangkul tumpeng dan memancik pipisan. 2. Setelah upacara panggih, pengantin laki-laki dan pengantin perempuan menerjang lawe wenang ketika berjalan beringingan menuju kobongan.
Mantu anak sulung ditambah satu syarat yaitu membuat rujak pada waktu panggih di pelaminan, rujak tersebut dihidangkan kepada pengantin laki-laki dan pengantin perempuan serta dihidangkan kepada bapak dari pengantin perempuan. Sewaktu mereka menyantap rujak, ibu dari pengantin perempuan bertanya :apa rujaknya enak? Dijawab : rujak ini rasanya enak, tidak ada kekurangannya.
Mantu anak bungsu, istilahnya tumpuk ponjen atau biasa disebut tumplak punjen. Ponjen adalah wadah jamu. Pada waktu mantu anak bungsu, rangkaian upacara perkawinan lengkap seperti yang sudah ditulis dan ditambah dengan upacara tumplak ponjen. Pelaksanaannya: ponjen yang telah disiapkan diisi dengan aneka macam uang (kertas dan logam), aneka macam jamu. Kemudian ponjen tersebut ditumpahkan oleh ibu dari pengantin perempuan di depan pelaminan kedua pengantin. Para tamu undangan dipersilakan berebut uang dan aneka jamu yang disebar. Ada cara lain, ponjen yang penuh berisi uang dan aneka macam ubarampe jejamuan di sebar mengelilingi para tamu undangan yang hadir, dan kemudian dijadikn rebutan.
Mantu antara jejaka dengan lanjar atau janda kembang (belum mempunyai anak). Upacara lengkap, ditambah dengan satu syarat yaitu pengantin laki-laki menyiram tumpeng di tengah pintu
Mantu antara perawan dengan duda kembang (belum mempunyai anak) disyarati dengan pengantin perempuan menyiram tumpeng di depan pintu
Setelah sepasar atau 5 hari upacara panggih berlalu, diadakan slametan sepasar pengantin. Pada slametan sepasar ini pengantin baru tersebut memakai tua. Ubarampenya adalah: sega tumpeng, jenang abang putih, baro-baro, jajan pasar, kembang telon, sega punar, sega golong
Dalam perjalanan selanjutnya kedua pengantin mengadakan selamatan pada hari ke tiga-puluh enam untuk ungkapan syukur. Ubarampenya sama seperti selamatan sepasar. Demikian selanjutnya, setiap selapan atau 35 hari sekali sejak perkawinannya mengadakan slametan sebagai ungkapan syukur dan memohon keselamatan.
Setelah pengantin putri mengandung selamatannya adalah sebagai berikut:
herjaka HS