Primbon


Pengantin putra memberikan kacar-kucur kepada pengantin putri di depan
kobongan (karya Herjaka HS 2010)

Serial Primbon 104
Kacar-Kucur

Pengantin putra dan pengantin putri yang telah menjalani upacara panggih di kuncungan pendopo, yaitu struktur bangunan rumah paling depan, kemudian diarak oleh pangombyong menuju kobongan atau senthong tengah. Senthong adalah ruangan atau kamar yang merupakan struktur bangunan rumah paling belakang. Ruangan senthong dibagi tiga, yaitu: sentong tengah disebut kobongan, sethong kiwa dan senthong tengen. Di dalam senthong tengah ada tempat tidur yang diset khusus dan istimewa namanya pedaringan atau pasren, fungsinya untuk bersemayamnya Dewi Sri, dewinya padi atau dewinya kesuburan kesejahteraan. Selain pasren ada sarana berdoa dan meditasi. Tuan rumah menggunakan senthong tengah sebagai tempat berdoa mohon kepada Tuhan agar berkenan menghadirkan dewi Sri untuk bersemayam di rumah ini. Dengan bersemayamnya dewi Sri atau dewi kesuburan, artinya bahwa panen bakal melimpah dan keluarga sejahtera lahir batin. Sedangkan senthong tengen dinamakan patunggon difungsikan untuk tempat tidur bapak dan ibu. Dan senthong kiwa difungsikan sebagai lumbung, untuk menyimpan hasil bumi dan padi.

Oleh karena fungsinya yang disakralkan, kobongan dijadikan tempat untuk mendudukan dan mahargya pengantin. Setelah pengantin berdua duduk berdampingan di pelaminan yang berada di depan kobongan, mereka kemudian melakukan uapacara dahar walimah, yaitu makan bersama dengan lauk pindang antep atau pindang hati.

Di dalam upacara dahar walimah ini pengantin pria mengepal nasi serta lauknya beberapa kepal, berjumlah ganjil, untuk kemudian di’dulang’kan atau disuapkan dengan tangan telanjang kepada pengantin putri. Ada juga yang melakukan upacara dahar walimah ini dengan dulang-dulangan atau saling menyuapi dengan sendok. Pengantin pria me ‘dulang’ pengantin putri dan penganti putri me’dulang’ pengantin pria. Makna dari upacara dahar walimah ini ialah, lauk pindang hati adalah wujud dari kemantapan hati dalam memilih pasangannya. Saling mendulang, menyuapi, memberikan makan artinya adalah saling bahu membahu, saling melayani, saling melengkapi kekurangannya, dan saling mengidupi pribadi pasangannya.

Setelah dahar walimah dilanjutkan dengan upacara kacar-kucur. Pelaksanaannya: pengantin putra menuang kacar kucur yang ditempatkan di kantong kain, dan diterima oleh pengatin putri di atas pangkuannya dengan selembar saputangan besar. Isi kacar-kucur adalah: kacang, kedelai, beras, jagung dan uang logam yang antara lain disebut: sen (1/4 kethip), benggol (1/2 kethip) kethip (1/10 rupiah), talen (1/4 rupiah) tengahan (1/2 rupiah). Atau uang logam yang masih beredar: Rp.100, Rp. 500 atau Rp.1000. Penjabaran dari upacara ini adalah, pengantin pria memberikan, guna kaya, nafkah lahir batin hasil dari jerih payahnya kepada pengantin putri. Sedangkan pengantin putri menerima dan mengelolanya dengan hemat dan baik, jangan ada yang berceceran tanpa guna.

Pada saat penuangan kacar-kucur, para sesepuh yang ngombyongi mengatakan : kacar-kucur atuta kaya sedulur, kacang kawak, kedele kawak atuta kaya sasanak. Setelah kacar-kucur selesai dituang, pengantin putri mengikat saputangan pada keempat ujungnya, jangan sampai ada yang jatuh, dan kemudian diberikan kepada ibu pengantin putri atau sesepuh yang mewakili. Oleh ibu pengantin putri kacar-kucur tersebut dipindah dari saputangan ke klemuk (tempat dari tanah liat yang bentuknya seperti kendil). Ada sepasang klemuk yang disiapkan. Kacar kucur dimasukan pada klemuk yang sudah diisi beras kuning, kluwak, kemiri, gepak jendhul, bendha, endhog ayam lan dhuwit, dicampur jadi satu di dalamnya. Sedangkan klemuk lainnya berisi air tempuran, yaitu air yang didapat dari dua sungai yang bertemu.

Setelah upacara kacar kucur, pengantin putri melakukan ‘ujung’ kepada pengantin putra. Caranya, pengantin putri mencium lutut pengantin pria, sebagai tanda bakti dan hormat. Dilanjutkan dengan upacara timbang bobot. Upacara ini dilakukan oleh Bapak dari pengantin puteri. Pelaksanaannya: pengantin pria dipangku dipaha sebelah kanan, sedangkan pengantin puteri dipangku di paha sebelah kiri, setelah keduanya pengantin berdua dipangku oleh bapak dari pengantin puteri, Ibu dari pengantin puteri bertanya kepada suaminya katanya: “abot endi bapakne, anakmu lanang lan anakmu wadon?”(berat mana diantara anakmu laki dan anakmu perempuan?) dijawab oleh bapak dengan kata: “padha wae” (sama saja)

Makna dari upacara ini adalah bahwa kedua pengantin baik anaknya sendiri ataupun menantunya, keduanya sudah menjadi anaknya sendiri yang sama bobotnya. Jika nantinya ada masalah yang menimpa rumah tanggan, orangatua dalam membantu menyelesaikan masalah harus adil, tidak pilih kasih, karena keduanya adalah anaknya sendiri.

Setelah upacara bobot timbang, kedua pengantin turun dri pangkuan sang bapak, kemudian dilanjutkan dengan sungkeman. Pengantin berdua sungkem kepada kedua orang tua secara bergantian dan dilanjutkan dengan sungkem kepada para sesepuh yang megombyongi. Pada saat sungkeman pengantin berdua mengucapkan kata yang intinya memohon doa restu agar dalam menjalani hidup berumah tangga dapat lancar, selamat dan jauh dari segala mara bahaya.

herjaka HS