Primbon


Menembus Batas, Adipati Karna ketika menikahi Surtikanti
(karya Herjaka HS)

Serial Primbon 74
Menghitung Nama untuk Memilih Pasangan

Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa jodhoh atau pasangan hidup itu ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Walupun demikian tentunya ada kerjasama dari pihak manusia. Upaya yang dilakukan manusia untuk meyakinkan apakah seseorang benar-benar jodhoh yang diberikan Tuhan salah satunya adalah dengan menggunakan perhitungan memilih pasangan. Jika setelah dihitung dan ternyata hasilnya baik, itu artinya bahwa pasangan tersebut adalah jodhoh yang diberikan Tuhan. Tetapi jika, setelah dipasangakan dengan dirinya dan dihitung hasilnya tidak baik atau jelek, itu artinya bahwa orang yang dimaksud bukan jodhohnya..

Namun begitu, perhitungan yang hasilnya baik belum merupakan jaminan rumah tangga yang baik dan demikian juga sebaliknya. Karena pada dasarnya perhitungan memilih jodoh tersebut merupakan langkah awal untuk menanyuh, atau keinginan untuk mengetahui hal-hal yang belum nampak di permukaan. Perhitungan ini merupakan ilmu titen, yaitu ilmu yang terbentuk dari hasil niteni atau mengenali kejadian-kejadian perihal memilih pasangan, yang terus berlangsung dalam waktu panjang turun temurun.

System perhitungan untuk mengetahui baik dan buruknya pasangan laki-laki dan perempuan yang akan melakukan hidup berumah tangga ditulis dalam Serat Centhini Pupuh 182 dan dilanjutkan Puppuh 183.

Adapun dasar yang dipakai untuk menghitung adalah Aksara Jawa dengan rumus sebagai berikut:

HA = 1, NA = 2, CA = 3, RA = 4, KA = 5,
DA = 6, TA = 7, SA = 8, WA = 9, LA = 10,
PA = 11 DHA = 12, JA = 13, YA = 14, NYA = 15,
MA = 16, GA = 17, BA = 18 THA = 19 NGA = 20

Setelah mengetahui huruf-huruf hidup yang diangkakan, atau dipadankan dengan angka, langkah selanjutnya adalah menjumlah huruf-huruf hidup yang dipakai untuk membentuk sebuah nama, baik yang laki-laki dan yang perempuan.

Misalnya calon pasangan tersebut yang laki-laki bernama : BAMBANG SUPRIYANTO dan yang perempuan bernama : NIKEN PALUPI

Huruf hidup yang ada pada nama BAMBANG SUPRIYANTO adalah :
BA-BA SA-PA-YA-TA
diangkakan sesuai rumus yang ada menjadi :
BA = 18
BA = 18
SA = 8
PA = 11
YA = 14
TA = 7 +
Jumlah = 76

Huruf hidup yang ada pada nama NIKEN PALUPI adalah :
NA-KA PA-LA-PA
Diangkakan sesuai rumus yang ada menjadi :
NA = 2
KA = 5
PA = 11
LA = 10
PA = 11 +
Jumlah = 39

Jumlah angka nama laki laki dan perempuan masing masing di ambil sembilan dan lagi diambil sembilan sampai pada jumlah yang tersisa tidak memungkinkan lagi untuk diambil sembilan. :

Untuk nama laki-laki = 76 ─ 9 ─ 9 ─ 9 ─ 9 ─ 9 ─ 9 ─ 9 ─ 9 sisanya = 4

Untuk nama perempuan = 39 ─ 9 ─ 9 ─ 9 ─ 9 sisanya 3

Sisa angka yang dimiliki laki-laki dan yang dimiliki perempuan itulah yang menjadi kunci untuk dilihat baik buruknya pasangan, sesuai rumusan yang ada.

Perempuan - Laki-laki
sisa 1 dengan sisa 1 = awet rumah tangganya
sisa 1 dengan sisa 2 = baik kasihnya atau romantis
sisa 1 dengan sisa 3 = sering cekcok, tidak harmonis
sisa 1 dengan sisa 4 = tidak awet dan bercerai
sisa 1 dengan sisa 5 = lestari pasanganya
sisa 1 dengan sisa 6 = tidak lestari, akhirnya berpisah
sisa 1 dengan sisa 7 = cepat bercerai terus bermusuhan
sisa 1 dengan sisa 8 = sentausa, utama, baik budi, anaknya sehat
sisa 1 dengan sisa 9 = cocok, membawa keberuntungan, derajat dan pangkat

sisa 9 = jumlah yang ada habis dibagi sembilan

Perempuan -- Laki-Laki
sisa 2 dengan sisa 2 = bahagia penuh cinta, mendapat Rahmat Allah
sisa 2 dengan sisa 3 = tidak prayoga, salah satu mati
sisa 2 dengan sisa 4 = baik selamanya tidak putus
sisa 2 dengan sisa 5 = tidak layak, berpisah
sisa 2 dengan sisa 6 = rukun jejodohannya, dalam waktu lama atau panjang
sisa 2 dengan sisa 7 = langgeng jejodohannya
sisa 2 dengan sisa 8 = sentausa rumah tangganya
sisa 2 dengan sisa 9 = awet dan mendapat kedudukan
sisa 3 dengan sisa 3 = sering menemui kesulitan, jarang berada di rumah
sisa 3 dengan sisa 4 = tidak baik, malah cenderung menjadi jelek
sisa 3 dengan sisa 5 = tidak awet, jadi putus
sisa 3 dengan sisa 6 = rukun sampai kaki-kaki dan Nini-nini, diterima Tuhan, jauh dari halangan dan bahaya
sisa 3 dengan sisa 7 = banyak menemui bilahi atau halangan
sisa 3 dengan sisa 8 = tidak baik, berakibat cerai, lebih baik dihindari
sisa 3 dengan sisa 9 = baik, diberkati Allah, tutug, rukun, tenteram
sisa 4 dengan sisa 4 = baik, yang laki-laki di kuasai oleh perempuan, sangat terpana kepada pasangannya dan selalu ingin berkasih-kasihan
sisa 4 dengan sisa 5 = tidak baik, berakibat perceraian
sisa 4 dengan sisa 6 = juga tidak baik, berakhir dengan perceraian
sisa 4 dengan sisa 7 = saling mengasihi, tetapi perlu waspada, ada yang memusuhi
sisa 4 dengan sisa 8 = berkasih-kasihan tanpa putus
sisa 4 dengan sisa 9 = tidak baik, banyak kejahatan
sisa 5 dengan sisa 5 = banyak menemui bilahi
sisa 5 dengan sisa 6 = juga tidak baik, mengalami perpisahan
sisa 5 dengan sisa 7 = yang perempuan menurut kepada yang laki-laki
sisa 5 dengan sisa 8 = tidak baik, besar kemungkinan untuk bercerai
sisa 5 dengan sisa 0 = selalu berkasih-kasihan, dapat nikmat lahir batin
sisa 6 dengan sisa 6 = baik selamanya, selalu tumbuh dan berkembang
sisa 6 dengan sisa 7 = lestari, saudara dan famili mengasihinya
sisa 6 dengan sisa 8 = baik, bahagia yang didapat
sisa 6 dengan sisa 9 = baik, tetapi yang perempuan sering jadi sasaran pergunjingan
sisa 7 dengan sisa 7 = tidak baik, tidak awet dengan kebesaran yang didapat, selalu menuruti kehendak perempuan
sisa 7 dengan sisa 8 = awet rumah tangganya, yang laki-laki diperintah menurut dengan yang perempuan
sisa 7 dengan sisa 9 = lama-kelamaan jadi bercerai
sisa 8 dengan sisa 8 = sangat baik,selamanya tanpa halangan
sisa 8 dengan sisa 9 = baik, awet, rukun tapi hati-hati jika memanjat
sisa 9 dengan sisa 9 = perempuan sungkem pada laki-laki, tetapi kadang bertengkar, dan bisa sampai pada perceraian.

Mengacu pada cara menghitung dengan rumus dan patokan seperti yang dipaparkan di tulisan ini, pasangan laki-laki yang memakai nama Bambang Supriyanto (sisa 4) dengan pasangan perempuan yang bernama Niken Palup (sisa 3), tidak baik, malah cenderung menjadi jelek.

Ibarat mata rantai yang telah putus, perhitungan memilih calon pasangan yang cocok tersebut sudah tidak dikenali lagi oleh generasi sekarang. Tahap awal untuk meyakinkan apakah pasangan tersebut jodohnya yang cocok dan baik, tidak lagi dilakukan dengan perhitungan seperti yang dipaparkan dalam tulisan ini.

Herjaka HS