Primbon


Sang Kala - Sang Waktu (karya Herjaka H )

Serial Primbon 52
Mengenal 7 kelompok Nama-nama Hari

1. Triwara :

Satu siklus atau satu putaran waktu yang jumlah harinya ada 3 (tiga) yaitu :
hari pertama Pasah,
hari ke dua Betheng
hari ke tiga Kajeng.
Hari-hari yang berjumlah tiga atau Triwara ini sampai sekarang masih digunakan di Bali.

2. Caturwara :

Satu siklus atau satu putaran waktu yang jumlah harinya ada 4 (empat) yaitu:
hari pertama Sri
hari kedua Laba
hari ke tiga Jaya
hari ke empat Menala
hari-hari yang berjumlah empat atau Caturwara ini sudah tidak pernah dipakai baik di Jawa maupun di Bali, kecuali untuk perhitungan hari baik dalam mengawali kegiatan pertanian yang disebut dengan hari Sritumpuk.

3. Pancawara:

Satu siklus atau satu putaran waku yang jumlah harinya ada 5 (lima) yaitu:
hari pertama Pahing atau Jenar (nama kawi)
hari kedua Pon atau Palguna (nama kawi)
hari ke tiga Wage atau Cemengan (nama kawi)
hari ke empat Kliwon atau Kasih (nama kawi)
hari ke lima Legi atau Manis (nama kawi)

Hari-hari yang berjumlah lima atau Pancawara ini masih berlaku di Jawa dan lebih dikenal dengan nama hari pasaran karena ada kaitannya dengan kegiatan perdagangan di pasar pada jaman dahulu. Pasar tradisional pada waktu itu dalam melakukan kegiatan perdagangan umumnya berlangsung setiap lima hari sekali. Oleh karena hal tersebut, kebanyakan nama-nama pasar disesuaikan dengan nama hari saat kegiatan perdagangan tersebut berlangsung di pasar yang bersangkutan. Sehingga munculah nama Pasar Paing, Pasar Pon, PasarWage, Pasar Kliwon, Pasar Legi.

Dikarenakan nama-nama hari Pancawara ini dijadikan tanda berlangsungnya kegiatan perdagangan di pasar, maka muncullah istilah ísepasarí yaitu satu putaran waktu yang terjadi setiap lima hari sekali.

4. Sadwara

Satu siklus atau satu putaran waktu yang jumlah harinya ada 6 (enam) yaitu:
hari pertama Tungle
hari kedua Aryang
hari ketiga Wurukung
hari keempat Paningron
hari kelima Uwas
harike enam Mawulu

Hari-hari yang berjumlah enam atau Sadwara ini disebut hari Paringkelan, dari kata ringkel, atau dina apes yang berarti hari naas. Oleh masyarakat jaman dahulu hari-hari Sadwara ini menjadi pertimbangan utama dalam hal perhitungan memilih hari.

Masing-masing hari Sadwara ini mempunyai ringkel atau naasnya sendiri-sendiri.

Tungle: disebut ringkel godhong, hari naas untuk aktivitas yang berkaitan dengan godhong atau daun. Maka untuk pekerjaan misalnya, memangkas pohon, jual beli sayur-mayur, sebaiknya ditangguhkan. Jika terpaksa dilakukan perlu ekstra hati-hati.

Aryang: disebut ringkel jalma, hari naas untuk aktivitas yang berkaitan dengan manusia. Maka untuk kegiatan yang melibatkan orang banyak seperti misalnya menikahkan anak dan hajatan yang lain sebaiknya ditangguhkan.

Wurukung: disebut ringkel sato, hari naas untuk aktivitas yang berkaitan dengan hewan. Maka kegiatan seperti misalnya berburu, memotong hewan dan jual beli binatang sebaiknya ditangguhkan terlebih dahulu.

Paningron: disebut ringkel mina, hari naas untuk aktivitas yang berkaitan dengan ikan. Maka kegiatan memancing, menjala ikan, menjual, memasak dan memakan ikan ditangguhkan.

Uwas: disebut ringkel kukila, hari naas untuk aktivitas yang berkaitan dengan burung atau unggas. Maka pada hari Uwas kegiatan yang menyangkut burung dan unggas ditangguhkan.

Mawulu:disebut ringkel wiji, hari naas untuk aktifitas yang berkaitan dengan benih. Maka kegiatan menanam, pembuahan, penyerbukan, menyebar biji dan lainnya pada hari Mawulu perlu dihindari, bila diterjang kurang baik hasilnya.

5. Saptawara

Satu siklus atau satu putaran waktu yang jumlah harinya ada 7 (tujuh) yaitu:
hari pertama Minggu atau Radite (nama Sansekerta)
hari kedua Senin atau Soma (nama Sansekerta)
hari ketiga Selasa atau Anggara (nama Sansekerta)
hari keempat Rabu atau Buda (nama Sansekerta)
hari kelima Kamis atau Respati (nama Sansekerta)
hari keenam Jumat atau Sukra (nama Sansekerta)
hari ketujuh Sabtu atau Sanscara/Tumpak (nama Sansekerta)

6. Asthawara

Satu siklus atau satu putaran waktu yang jumlah harinya ada 8 (delapan) yaitu:
hari pertama Sri
hari kedua Endra
hari ketiga Guru
hari keempat Yama
hari kelima Ludra
hari keenam Brama
hari ketujuh Kala
hari kedelapan Uma

dikarenakan menggunakan nama-nama Dewa dan Dewi, hari Asthawara ini disebut dina padewan.

7. Nawawara.

Satu siklus atau satu putaran waktu yang jumlah harinya ada 9 (sembilan) yaitu:
hari pertama Dangu
hari kedua Jagur
hari ketiga Gigis
hari keempat Kerangan
hari kelima Nohan
hari keenam Wogan
hari ke tujuh Tulus
hari kedelapan Wurung
hari kesembilan Dadi

di Jawa hari Nawawara ini disebut hari padangon, diambil dari nama hari pertama yaitu Dangu dan menjadi padangon.

Kecuali hari Caturwara hari-hari yang lain masih dicamtumkan di penanggalan Bali. Sedangkan di Jawa yang masih dipakai secara luas adalah penggabungan dari hari-hari Pancawara (Pahinng, Pon, Wage, Kliwon dan Legi) dan hari-hari Saptawara (Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu). Dari penggabungan antara hari-hari Pancawara dan hari-hari Saptawara maka lahirlah hari-hari baru sebanyak 5 x 7 = 35 hari. Satu siklus atau putaran waktu yang jumlah harinya ada 35 disebut selapan dina.

Herjaka HS
Sumber : Djoko Mulyono, Melihat Saat Tahu Waktu.