Primbon

Pawukon ke-2
Wuku Landep
Serial Primbon (17)
disusun kembali oleh : Herjaka HS

Wuku Landep mengambil nama dari isteri prabu Watugunung yang tidak memberikan keturunan.


Dewi Landep (kiri) menghadap Batara Mahadewa
yang sedang mencelupkan kakinya di bokor air.
Ada gambar rumah gedong dan burung atat kembang
yang hinggap di pohon gendayakan

(karya herjaka HS, Agustus 1997)

Ciri-ciri wuku Landep adalah sebagai berikut :

Namun sayang, ada pamrih di balik perbuatan baik tersebut.
Rumah gedhong yang terletak di depan, memberi tanda bahwa orang yang berwuku-Landep termasuk orang yang suka pamer.

Datangnya bahaya : tertimpa kayu atau bangunan roboh
Hari naas : Rebo Pahing, agar waspada, dan jika berpergian perlu ekstra hati-hati.
Hari baik : Minggu Wage, untuk dapat dipergunakan pada setiap keperluan penting.

Untuk mencegah agar terhindar dari celaka dan kemalangan, perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat tumpeng, dang-dangan beras atau meliwet/memasak beras dengan cara di-dang (dengan kukusan). Banyaknya beras yang di-dang adalah sapitrah atau 3,5 kg. Lauknya adalah daging menjangan dimasak kolak, digecok (dicacah/dipotong) dan dibakar.

Selain itu, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh pergi dari rumah ke arah barat, karena tempat sengkala (bahaya) terletak di barat.