Primbon

Awal Mula Terjadinya Pawukon
(zodiak Jawa)
Serial Primbon (14)
disusun kembali oleh : Herjaka HS

Dikisahkan ketika batara Wisnu sedang bercengkrama di negara Mendang, ia terpikat oleh seorang putri cantik yang kemudian diambil sebagai istri. Batara Wisnu tidak tahu bahwa Putri Mendang yang ia nikahi adalah putri simpanan batara Guru ayahnya, yang rencananya akan dibawa naik ke Suralaya. Tentu saja hal tersebut membuat batara Guru murka, dan memerintahkan sanghyang Narada menjatuhkan murkanya dan mengambil alih keratonnya. Batara Wisnu merasa bersalah, ia meninggalkan negaranya dan isterinya yang sedang mengandung dan pergi bertapa di hutan di bawah pohon beringin berjajar tujuh.


Prabu Watu-Gunung Raja Gilingwesi
(karya Herajaka. HS 1993)

Tersebutlah di negara Gilingwesi, yang menjadi raja bernama prabu Watu-Gunung. Istrinya dua, yang pertama bernama dewi Sinta yang ke dua dewi Landep. Dari rahim Dewi Sinta lahirlah 27 anak laki-laki yaitu : Wukir, Kurantil, Tolu, Gumbreg, Warigalit, Wariagung, Julungwangi, Sungsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Mandasiya, Julungpujud, Pahang, Kuru Welut, Marakeh, Tambir, Medangkungan, Maktal, Wuye, Manahil, Prabangkat, Bala, Wugu, Wayang, Kulawu, Dukut. Sedangkan dari rahim dewi Landep tidak satupun anak dilahirkan.

Pada saat itu Negara Gilingwesi sedang paceklik, mengalami masa sulit. Harga kebutuhan pokok melambung tinggi sehingga tak terjangkau. Di mana-mana terjadi bencana dan kerusakan lingkungan. banyak rakyat kecil yang sengsara. Sering terjadi gerhana Matahari dan gerhana Bulan, hujan salah musim, gempa bumi sehari tujuh kali. Itu semua menjadi tanda bahwa tidak lama lagi negara Gilingwesi akan mengalami kerusakan hebat.

Prabu Watu-Ggunung sedih melihat kesengsaraan rakyatnya. Adakah kesalahan besar pada diriku? Menurut kepercayaan yang ada jika sang raja melakukan dosa atau kesalahan yang besar negara dan raktyanya akan ikut menanggung kutukan. Namun pertanyaan Prabu Watu-Gunung tidak mudah untuk dijawab.

Pada suatu sore, Prabu Watu-Gunung tiduran di balai panjang, kepalanya berbantal paha dewi Sinta istrinya. Ketika tangan Sang Dewi membelai rambut Sang Prabu, terkejutlah ia melihat luka di kepala Prabu Watu-Gunung. Dewi Sinta bertanya kepada suaminya, dengan suara yang bergetar dan dalam.

“Kanda Prabu, mengapa ada luka di kepala? Berceritalah Kakanda, aku sangat ingin mengetahuinya.”

Prabu Watu-Gunung menceritakan masa kecilnya, ketika ia ribut meminta enthong (alat untuk mengaduk nasi yang dibuat dari kayu) yang sedang dipakai ibunya mendinginkan nasi, sehingga diantara ibu dan anak itu saling tarik menarik enthong. Si ibu marah, dengan spontan memukulkan enthong tersebut pada kepala Watu-Gunung hingga berdarah. Watu-Gunung menangis. Tangisnya tidak semata-mata rasa perih karena kulit kepalanya sobek sehingga darah keluar bercampur keringat. Namun hatinyalah yang pedih, karena gara-gara enthong, ibunya yang selama ini ia jadikan sumber kasih sayang begitu tega mencelakai dirinya. Bocah kecil berusia sekitar 6 tahun tersebut lari meninggalkan rumah. Walaupun tidak mempunyai tujuan, ia tidak berniat pulang, karena di rumah sudah tidak ada lagi cinta yang tulus dari seorang ibu.

“Sampai sekarang aku tidak pernah berusaha mencari kabar tentang ibuku, apakah masih hidup ataukah sudah meninggal. Jika masih hidup pun sudah tidak ada lagi cinta yang mengalir di sana.”

Mendengar cerita sang Prabu, naluri sebagai seorang ibu terpukul karenanya. Dewi Sinta teringat anaknya yang pergi dan tidak pernah pulang, karena hal yang sama seperti yang dialami Watu-Gunung.. Perasaannya semakin kuat mengatakan bahwa anak di pukul dengan enthong puluhan tahun lalu itu adalah prabu Watu-Gunung, yang sekarang menjadi suaminya.

Dewi Sinta tak kuasa menahan kesadarannya, ia terjatuh tak sadarkan diri. Prabu Watu-Gunung terkejut penuh keheranan, Apakah penuturan masa kecilnya telah menyinggung perasaannya? Atau ada penyakit tertentu yang menyebabkan istrinya dengan tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri?

Tak tergambarkan seberapa besar dan dalam kesedihan dan rasa sesal dewi Sinta, karena Prabu Watu-Gunung yang menjadi suaminya dan telah memberikan benih untuk 27 anaknya, adalah anaknya sendiri.

Oh Dewa hukuman apakah yang patut ditimpakan kepada kami berdua atas dosa besar ini? apakah dosa ini pula yang menyebabkan negara Gilingwesi mendapat kutukan?

Semenjak kejadian itu, dewi Sinta, tidak banyak bicara, wajahnya murung. Pelayanan prabu Watu-Gunung dan dewi Landep tidak mampu mengurangi kesedihnnya.

Ia tidak akan membuka aib ini kepada siapapun termasuk kepada suaminya yang juga anaknya. Diam-diam ia berusaha mencari jalan agar lepas dari Sang Prabu. Entah apa yang menyebabkan tiba-tiba dewi Sinta mempunyai rekadaya untuk menyingkirkan sang Prabu dari muka bumi.

Pada suatu waktu yang dianggap baik, dewi Sinta mengungkapkan maksudnya kepada prabu Watu-Gunung demikian.

“Jika keluhuran Sang Prabu akan menjadi sempurna, hendaknya sang prabu memperistri bidadari Suralaya.”

Pikir dewi Sinta jika Prabu Watu-Gunung melamar bidadari Suralaya, pasti akan terjadi perang, dan Sang Prabu akan gugur berhadapan dengan para dewa. Itulah jalan yang dapat melepaskan dari suaminya yang juga anaknya dan sekaligus mengubur aib dalam hidupnya..

Prabu Watu-Gunung menyambut saran isterinya dengan penuh semangat. Maka demi maksud tersebut, sang prabu segera memerintahkan kepada para punggawa dan keduapuluh tujuh anaknya untuk menghimpun pasukannya masing-masing. Segera setelah ribuan pasukan selesai disiapkan, berangkatlah prabu Watu-Gunung ke Suralaya memenuhi saran isterinya, untuk melamar bidadari.

sumber dari: Babad Tanah Jawa