|
Perpustakaan
Judul : Tayub. Pertunjukan & Ritus Kesuburan
Penulis : Ben Suharto
Penerbit : MSPI + arti line, 1999, Bandung
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : vii + 217
Ringkasan isi :
Tari
tradisional sangat erat hubungannya dengan lingkungan di mana tarian
itu lahir. Ia tidak mandiri, tetapi luluh lekat dengan adat setempat,
pandangan hidup, tata masyarakat, kepercayaan dan lain-lain. Tarian
sebagai bagian upacara adat biasanya memiliki bentuk yang tidak
berubah sepanjang tradisi adat masih berlangsung. Sehingga sering
juga disebut tari tradisional, terutama karena bentuknya yang
relatif tidak berubah dan diwariskan sebagai bagian yang terpadu di
dalam kehidupan kultural masyarakatnya secara turun-temurun. Oleh
karena itu, penulis buku ini menganjurkan agar pemahaman tentang
tayub (sebagai tari pertunjukan dan ritus kesuburan) perlu sekali
dilacak ke jaman lampau. Terutama untuk mengkaitkan dengan
kepercayaan asli masyarakat Jawa, sebelum masuknya pengaruh luar
misal Hindu/Budha.
Salah satu sikap dari penganut
kepercayaan itu dapat dilihat bagaimana manusia tak terpisahkan
dengan alam di mana manusia hidup. Manusia masing-masing mengatur
diri sendiri di dalam jagad cilik, agar seirama dengan keteraturan
semesta yang selaras dalam jagad gedhe. Juga prinsip hidup yang
bertujuan untuk menyatu dengan Tuhan atau Manunggaling kawula Gusti.
Kehidupan masyarakat sangat tebal terhadap dunia mistis, sehingga
banyak sekali gejala yang muncul di hadapan manusia dalam alam
semesta sangat mudah terjawab melalu mitos. Untuk menghadapi gejala
alam yang penuh dengan gerak, manusia mulai memerlukan gerak tubuh
untuk dapat mengimbangi gejala alam tersebut. Gerakan manusia itu
makin berkembang tidak saja sebagai ungkapan pribadi-pribadi saja,
tetapi merupakan ungkapan perasaan sekelompok masyarakat. Semuanya
terjadi atas dorongan pengaruh suasana lingkungan. Dan inilah yang
merupakan awal dari timbulnya ritus atau upacara ibadat, di mana
pengungkapannya melalui simbol-simbol.
Secara umum dapat diketahui
bahwa sebagian besar dari upacara tentang kesuburan tumbuh-tumbuhan
itu selalu dimulai dengan kesuburan manusia itu sendiri. Hal ini
dapat dipahami mengingat bahwa dunia kehidupan yang masih sederhana
atau primitif, membuat mereka masih erat menyatu dengan lingkungan
alam serta sadar keharusan keterlibatannya dalam menjaga
keseimbangan alam. Tari/tarian yang dipakai untuk upacara kesuburan
tidak selalu memberikan gambaran bahwa tari yang dipakai merupakan
penuangan tema dengan memperlihatkan cara-cara menanam atau tarian
tidak berusaha untuk menuangkan proses awal orang menanam, sampai
memetik hasilnya. Beberapa ungkapan yang mereka pergunakan dalam
kaitannya dengan kesuburan misal dengan tema memanggil hujan,
kekuatan tumbuh dari tanaman itu misal gerakan meloncat tinggi
dengan harapan tanaman tumbuh tinggi subur dan cepat, dengan upacara
menuangkan cara hubungan seksual, lewat penari laki-laki dan wanita
atau lewat simbol.
Dalam hubungannya dengan unsur
ritus kesuburan, untuk kejelasannya bisa melalui perbandingan tari
yang erat dengan kepercayaan animisme sewaktu manusia masih akrab
dengan kehidupan, dalam naluri kesatuannya dengan alam. Juga tentang
paham Tantrayana yang pernah tersebar luas, seperti beberapa
larangan yang justru dilakukan untuk kepentingan suatu upacara
sakral, yang pernah mendapat tempat di dalam masyarakat.
Untuk menjelaskan tayub dalam
hubungannya dengan unsur kesuburan dapat pula dibandingkan dengan
kesenian Gandrung dari Banyuwangi Jawa Timur. Gandrung berarti cinta,
tertarik, terpesona merupakan gambaran terpesonanya kaum tani atas
anugerah Dewata dalam hal ini Dewi Sri yang berupa panenan padi.
Dilihat dari kekeramatannya maka Gandrung hanya ditarikan pada
saat-saat tertentu saja misal saat panen sebagai ungkapan syukur.
Tetapi kekeramatan dan daya magi yang terkandung dalam tayub maupun
Gandrung sebenarnya tidak tergantung dari estetika geraknya dalam
hubungannya dengan nilai tata kesopanan, tetapi terkandung dalam
konsep kuna tentang Tantrayana dan yang lebih kuna lagi tentang
keseimbangan alam untuk dapat dilestarikan melalui keseimbangan
manusianya sendiri. Dalam hubungan ini hanya ada satu inti saja
yaitu pertemuan antara pria-wanita di mana dari laku ritus semacam
itu diharapkan dapat menimbulkan kekuatan/kesaktian daya tumbuh
serta suburnya tanaman.
Perubahan-perubahan yang
terjadi di kemudian hari, terutama disebabkan oleh memudarnya
kepercayaan kuna sebagai akibat datangnya aliran kepercayaan baru
yang mempunyai sudut pandang berbeda. Hal ini tentu saja sedikit
atau banyak menyebabkan perubahan termasuk kesenian. Namun karena
tari dalam perubahannya bersifat perlahan- lahan, maka sangat terasa
bahwa perubahan itu terjadi pada penilaian yang langsung menipiskan
aspirasi, semangat dan kekuatan daya ungkapnya. Maka tayub dalam
perkembangannya lebih tersebar sebagai tari hiburan atau tari
pergaulan. Sebagai tari pergaulan yang menjadi pusat tayuban adalah
penari wanita yang mempunyai beberapa sebutan seperti ronggeng,
taledhek (tledhek, ledhek), tandhak. Pada umumnya penari wanita ini
diidentikkan dengan kehidupannya yang “kurang baik”, walaupun hal
ini tergantung si penari itu sendiri. Akibatnya tayub semakin jauh
dari konsep luhur seperti pada jaman upacara kesuburan ketika masih
tebal sebagai suatu keyakinan dan orang masih sangat akrab dengan
kepercayaan tersebut.
Teks : Kusalamani
|