Perpustakaan

Judul : Arak-arakan Geguritan. Aja Kok Ijoli Warisanku
Penulis : R. Bambang Nursinggih, S.Sn
Penerbit : CV. Arindo Nusa Media, 2005, Yogyakarta
Bahasa : Jawa
Jumlah halaman : xvi + 156
Ringkasan isi :

Geguritan (puisi – Bahasa Indonesia) merupakan bagian dari sastra Jawa model baru yang mempunyai bentuk tersendiri. Sayang tidak banyak orang yang menggelutinya. Di antara sedikit, yang menggelutinya adalah R. Bambang Nursinggih, S.Sn. Sebagai seorang penggurit karyanya sudah banyak dimuat di majalah seperti Pagagan (Butuh Kawicaksanan, geguritan ini menjadi geguritan wajib dalam lomba membaca geguritan tingkat SD pada lustrum II 2004 SMPN 4 Yogyakarta) dan Djaka Lodang (Agama, Dahuru Gilir Gumanti, Eling). Aja Kok Ijoli Warisanku yang sekaligus menjadi judul buku kumpulan geguritan Bambang Nursinggih ini, merupakan juara I Gelar Prestasi Cipta Geguritan Se- Propinsi DIY tahun 2004. Isinya berhubungan dengan masalah sosial kemanusiaan, dan keadaan saat itu. Misal berkurangnya sopan santun, budaya Jawa yang kurang diminati generasi muda, sinetron yang tidak mendidik dan lain-lain.

Bambang Nursinggih dalam memilih kata dan bahasa untuk membuat geguritan terasa sangat indah, khas dan mempunyai bobot tersendiri. Karya yang terangkum dalam buku ini adalah buktinya. Karya geguritannya banyak mengandung “gugatan /protes” dan nasehat tetapi tidak menggurui. Juga berisi tentang keprihatinan terhadap situasi yang ada dan terjadi. Yang jelas dengan membaca buku ini kita memperoleh banyak manfaat.

Cakra Manggilingan adalah geguritan yang berisi nasehat ketika seseorang sedang berada di atas (kaya dan berkuasa) janganlah sombong, lupa diri dan sewenang-wenang terhadap orang lain. Ketika sedang menderita hendaknya tabah dan tawakal. Uang ternyata bisa membuat orang lupa diri, lupa pada sesama dan lupa pada Tuhan. Hal ini bisa dibaca pada gurit berjudul Dayane Dhuwit.

Berbagai bencana belum lama ini telah terjadi di Indonesia seperti gempa bumi, tsunami, teror bom, korupsi dan lain-lain. Suasana tersebut digambarkan antara lain dalam gurit berjudul Gonjang Ganjing, Pageblug, Tsunami, Donyane Wis Wiwit Gapuk, Jamane Wis Edan. Bagaimanakah sikap kita terhadap berbagai bencana tersebut? Bambang Nursinggih menggambarkan dalam gurit Ing Sanggar Pamelengan, Pitutur, Wayang.

Bambang Nursinggih juga menggambarkan para pejuang Indonesia dan apa yang sebaiknya dilakukan oleh generasi penerusnya. Hal ini terdapat dalam gurit berjudul Kumlebeting Gendera Kamenangan, Piye Rasane, Sujarah Minangka Tuladha. Sebagai manusia hendaknya kita selalu ingat Tuhan, seperti yang digambarkan dalam gurit berjudul Ing Sanggar Pamelengan, Jimpiten Sari Patine dan Silih Rupa.

Teks : Kusalamani