|
Perpustakaan
KAMUS-KAMUS
BAHASA JAWA
Bahasa
Jawa termasuk salah satu bahasa daerah di Indonesia yang sampai
sekarang masih hidup dan terus digunakan untuk berkomunikasi oleh
masyarakatnya. Seperti bahasa-bahasa daerah lainnya, bahasa Jawa
juga mempunyai sejarah perkembangan bahasa yang sangat panjang.
Sebelum kita mengenal bentuk bahasa Jawa yang terkini, masyarakat
Jawa telah menggunakan bentuk bahasa Jawa Kuno yang diyakini berkembang
pada abad 9 Masehi. Pernyataan tersebut diperkuat dengan ditemukannya
prasasti dan naskah-naskah kuno berbahasa Jawa Kuno. Biarpun sebelum
abad tersebut masyarakat Jawa sudah berkomunikasi dengan bahasa,
namun yang dipakai diperkirakan bukan bahasa Jawa Kuno melainkan
bahasa Sanskerta berasal dari India. Selain bahasa Jawa Kuno, bahasa
yang berkembang di masyarakat Jawa tempo dulu adalah bahasa Jawa
Pertengahan dan bahasa Jawa Klasik. Bahasa Jawa Pertengahan diperkirakan
mulai berkembang pada masa pemerintahan kerajaan Majapahit, antara
lain dengan ditemukannya naskah kidung yang berbahasa Jawa Pertengahan.
Bahasa Jawa Klasik banyak digunakan semenjak masa kerajaan Surakarta.
Tradisi
tulis pada masyarakat Jawa memang telah lama terjadi, paling tidak
sudah lebih dari seribu tahun yang lalu. Tradisi tulis terus mengalami
regenerasi dari abad ke abad. Kegiatan menyalin naskah berbahasa
Jawa terjadi di mana-mana di wilayah masyarakat Jawa dan diturunkan
dari setiap generasi ke generasi, terutama di kerajaan-kerajaan
Jawa. Banyaknya peninggalan naskah hingga saat ini membuktikan bahwa
kegiatan penyalinan naskah di masa lampau sangat marak dilakukan.
Naskah-naskah Jawa sekarang masih banyak dijumpai di berbagai tempat,
antara lain: Kraton Kasultanan Yogyakarta, Pura Pakualaman Yogyakarta,
Kraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran Surakarta, Perpustakaan
Radya Pustaka Surakarta, Kraton Kasepuhan Cirebon, perpustakaan-perpustakaan
di perguruan tinggi di Jawa, museum-museum di Jawa, Belanda, dan
Inggris, perseorangan yang sangat banyak sekali. Bahkan penyalinan
naskah sampai sekarang masih dapat dijumpai di pulau Bali.
Ketika
pulau Jawa mulai dijajah oleh Belanda, bahasa Jawa banyak menjadi
penelitian para ahli bahasa atau linguis. Ahli bahasa dan sastra
Belanda yang sangat berminat pada bahasa dan sastra Jawa antara
lain: C.C. Berg, Zoetmulder, Th. Pigeaud, Krom, A. Teeuw, T. Roorda,
Gericke, dan Brandes. Pada perkembangan selanjutnya, bahasa dan
sastra Jawa juga banyak menjadi penelitian bangsa-bangsa lain, seperti
dari Amerika, Australia, dan Inggris. Tidak ketinggalan pula, penerus-penerus
pribumi banyak juga yang mengkaji bahasa dan sastra Jawa, mulai
dari R.Ng. Ranggawarsita, Poerbatjaraka hingga Kuntara Wiryamartana.
Mereka selain meneliti bahasa dan sastra Jawa juga banyak menciptakan
karya-karya ilmiah berbentuk disertasi, buku, dan kamus.
Fungsi
Kamus sangat beragam, antara lain untuk penggunaan terjemahan, mengetahui
makna sebuah kata, dan pemberian nama. Fungsi yang terakhir, pada
dewasa ini banyak membantu masyarakat luas untuk mengetahui secara
benar sebuah kata serta artinya. Pemberian nama dapat diterapkan
untuk nama orang, nama gedung, nama istilah, atau nama semboyan.
Tidak bisa diingkari, bahwa di sekitar lingkungan kita banyak sekali
nama-nama orang, gedung, atau istilah yang mengambil dari bahasa
Jawa, misalnya. Sebut saja nama orang, seperti Sabar, Eka, Jati,
Guntur, atau lainnya; nama tempat, seperti Mandhala Kridha, Graha
Sabha Pramana, Kridhasana (Kridosono), atau lainnya; nama istilah/semboyan,
seperti Labda Prakarsa Nirwikara dan Vidyasana Viveka Vardhana (istilah
AU), dan sebagainya mengambil kata-kata dari bahasa Jawa.
Kamus
Jawa memuat perbendaharaan kosa kata Jawa. Lazimnya, kamus memuat
kata dasar yang disertai dengan pembentukannya, begitu pula dengan
kamus Jawa ini. Kata dasar disertai dengan makna, arti dan penjelasannya.
Bahkan dimungkinkan pula disertai dengan pengucapan (pelafalan),
contoh-contoh padanan kata, dan contoh dalam kata bentukan, kata
majemuk, atau kalimat. Yang jelas, di dalam kamus, penulisan kata
adalah standard dan sesuai dengan bahasa asli.
Kamus
Jawa jumlahnya sangat banyak dan begitu beragam. Kamus-kamus ini
dibuat oleh para ahli bahasa baik dalam dan luar negeri. Kamus yang
dibuat meliputi kamus Jawa Kuno hingga Jawa Baru. Ada yang dwibahasa,
misalnya Jawa-Indonesia, Jawa-Inggris, atau Jawa-Belanda, dan ada
yang satu bahasa, misalnya Jawa-Jawa. Sementara itu juga ada kamus
Jawa yang berbicara mengenai unggah-ungguh. Ada beberapa kamus Jawa
yang menjadi koleksi perpustakaan TeMBI, seperti yang akan penulis
uraikan di bawah ini.
Pertama
adalah kamus Baoesastra Jawa karangan W.J.S. Poerwadarminta. Kamus
ini diterbitkan pada tahun 1939 oleh penerbit J.B. Wolters' Uitgevers-Maatschappij
NV di kota Batavia (Jakarta, red). Kamus ini termasuk satu bahasa,
yakni Jawa-Jawa, tebal 670 halaman, dimulai dari abjad a-z.
Kedua,
Kamus Kawi-Jawa karangan C.F Winter Sr. dan R.Ng. Ranggawarsita
dialih aksarakan oleh Asia Padmopuspito dan A. Sarman Am. Kamus
diterbitkan tahun 1994 (cetakan kelima) oleh penerbit Gadjah Mada
University Press di kota Yogyakarta. Kamus ini aslinya bertuliskan
huruf Jawa, namun sudah dilatinkan dan termasuk dwibahasa, yakni
Jawa Kuno-Jawa, tebal 311 halaman. Dimulai dari huruf atau aksara
ha-nga.
Ketiga,
kamus Baoesastra Jawa-Indonesia karangan S. Prawiroatmodjo. Kamus
diterbitkan tahun 1993 (cetakan keenam) oleh penerbit Haji Masagung
di kota Jakarta. Kamus terdiri dari dua buku, buku satu 495 halaman,
buku dua 335 halaman. Dimulai dari abjad a-z. Kamus termasuk dwibahasa,
yakni Jawa-Indonesia.
Keempat,
Kamus Jawa Kuna-Indonesia karangan P.J. Zoetmulder diterjemahkan
oleh Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna. Kamus diterbitkan tahun
1995 oleh penerbit Gramedia di kota Jakarta. Kamus terdiri dari
dua buku, buku satu 722 halaman, mulai a-o, buku dua 1496 halaman,
mulai p-y. Kamus ini aslinya berbahasa Jawa Kuna-Inggris, berati
termasuk kamus dwibahasa.
Kelima,
kamus Old Javanese-English Dictionary karangan P.J. Zoetmulder.
Kamus diterbitkan tahun 1982 oleh penerbit 's-Gravenhage-Martinus
Nijhoff. Juga terdiri dari dua buku, buku satu 1220 halaman, mulai
a-o, buku dua 2368 halaman, mulai p-y. Termasuk kamus dwibahasa.
Keenam,
kamus Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek karangan J.F.C. Gericke
dan T. Roorda. Kamus diterbitkan tahun 1901 oleh penerbit Boekhandel
en Drukkerij Leiden dan Johannes Muller Amsterdam. Kamus terdiri
dari dua buku, buku satu 905 halaman, mulai ha-sa, buku dua 872
halaman, mulai wa-nga. Kamus berhuruf Jawa-Latin dan termasuk dwibahasa.
Ketujuh,
kamus Bausastra Indonesia-Djawa karangan Unggar. Kamus diterbitkan
pada tahun yang tidak diketahui oleh penerbit Lauw di kota Solo.
Dimulai dari abjad a-z, terdiri dari 383 halaman. Kamus berhuruf
Latin ini termasuk kamus dwibahasa, berbentuk kamus saku karena
ukurannya kecil.
Kedelapan,
Baoesastra Mlajoe-Djawa karangan Sasrasoeganda. Kamus diterbitkan
pada tahun 1914 (cetakan kedua) oleh penerbit Bale Poestaka di kota
Batavia (Jakarta, red). Kamus terdiri dari 564 halaman, dimulai
dari abjad a-z.
Terakhir,
kamus kesembilan adalah Kamus Unggah-Ungguh Basa Jawa karangan Haryana
Harjawiyana dan Th. Supriya. Kamus diterbitkan pada tahun 2001 oleh
penerbit Kanisius di kota Yogyakarta. Penerbitan kamus ini dalam
rangka menyongsong Kongres Bahasa Jawa III di Yogyakarta tanggal
15-21 Juli 2001 yang lalu. Kamus setebal 485 halaman ini termasuk
kamus istimewa, sebab menjelaskan setiap kata ngoko bahasa Jawa
yang disertai dengan kata krama dan krama inggil. Di samping itu
juga ada tambahan contoh-contoh kalimat penerapan bahasa Jawa ngoko,
krama, krama inggil, dan terjemahan bahasa Indonesia. Kata ngoko
yang dijelaskan selain dalam kata dasarnya, juga kata bentukan.
Misalnya kata dasar ngoko turu 'tidur' dijelaskan bentuk krama (tilem)
dan krama inggil (sare). Kata bentukan dari turu misalnya dakturokne
'saya tidurkan', diturokake 'ditidurkan', dituroni ditiduri', nurokake
'menidurkan', nuroni 'meniduri', dan sebagainya.
Demikian
beberapa kamus bahasa Jawa di perpustakaan TeMBI. Pada edisi selanjutnya
nanti akan diuraikan jenis kamus lain. Semoga bermanfaat bagi pembaca.
Naskah
: Suwandi Suryakusuma
Foto : Didit PD.
|