Jaringan Museum

MENGENAL KERETA-KERETA PUSAKA KRATON KASULTANAN
YOGYAKARTA (5)

Pada edisi keempat sebelumnya, sudah dijelaskan 12 kereta pusaka milik Kraton Kasultanan Yogyakarta yang disimpan di Museum Kareta Karaton Yogyakarta, yakni: kereta Kangjeng Nyai Jimat, Kyai Mandrajuwala, Kyai Manikretna, Kangjeng Kyai Garuda Yaksa, Kyai Jaladara, Kyai Wimanaputra, Kyai Harsunaba, Kyai Jongwiyat, Landower, Landower Surabaya, Landower Wisman, dan Kyai Puspaka Manik. Bagi anda yang tertarik untuk mengenal lebih dekat jenis-jenis kereta tersebut, baik dari sisi ukuran, gaya, bentuk, warna, dan lainnya bisa berkunjung ke Museum Kereta pada setiap hari mulai pukul 08.0016.00 WIB dengan membayar tiket masuk Rp 3.000/orang ditambah jika membawa foto atau kamera membayar Rp 1.000/kamera.

Jumlah koleksi kereta yang tersimpan di Museum Kareta Karaton Yogyakarta keseluruhannya ada 23 buah dari berbagai pabrik luar dan dalam negeri. Pabrik pembuat kereta dari dalam negeri misalnya kota Semarang, sementara negara manca adalah Belanda. Kereta di abad 18 dan 19 memiliki peranan yang penting untuk moda transportasi di kerajaan-kerajaan di Jawa, termasuk di wilayah Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, dan sebagainya. Kereta-kereta itu biasa digunakan oleh raja, kerabat, dan senapati prajurit untuk keperluan plesir, upacara jumenengan, upacara tradisi, inspeksi, dan sebagainya.

Suasana halaman depan Museum Kareta Karaton Yogyakarta yang terletak di sebelah barat Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta cukup teduh, karena halaman ditumbuhi 5 pohon asem Jawa yang umurnya sudah puluhan tahun. Keteduhan suasana itulah yang tentunya akan menambah krasan para pengunjung museum. Jika cuaca sangat terik, berteduh sebentar di bawah pohon asem sebelum masuk museum akan membuat hati semakin nyaman. Apalagi, di bawah pohon asem pelataran museum, terdapat beberapa penjual minuman, salah satunya penjual es dhawet. Dengan meminum es dhawet seharga Rp 2.000/gelas, haus anda akan segera sirna. Kunjungan anda ke Museum Kareta akan semakin berkesan.

Empat jenis kereta museum pada edisi kali ini yang akan ditampilkan adalah kereta Kyai Kus Gading, Kyai Kuthakaharja, Kyai Natapura, dan kereta Kyai Reja Pawaka. Uraian lengkap seperti di bawah ini.

Kereta pusaka ketiga belas diberi nama Kyai Kus Gading. Kereta yang dibuat di negeri Belanda pada tahun 1901 ini ternyata menjadi bagian dari Kraton Kasultanan Yogyakarta semasa pemerintahan Hamengkubuwana (HB) VII. Pada saat ini, posisi kereta Kyai Kus Gading diletakkan di ruangan luar sisi utara (sebelah kiri) dari museum kereta. Ciri kereta Kyai Kus Gading (di dalam museum itu, kereta ini juga terdapat label kereta Kus No. 10) antara lain: cat berwarna kuning, termasuk jenis kereta tertutup, tempat duduk ada 1 searah dengan tempat duduk kusir, beroda empat sama besar. Kereta Kyai Kus Gading merupakan alat transportasi bagi keluarga sultan ketika ada acara di luar.

Kereta pusaka keempat belas diberi nama Kyai Kuthakaharja. Kereta satu ini ternyata juga dibuat di negeri Belanda pada tahun 1927. Kereta Kyai Kuthakaharja menjadi bagian Kraton Kasultanan semasa pemerintahan HB VIII dan merupakan kendaraan keluarga sultan untuk berbagai keperluan. Kereta itu, pada saat ini diletakkan di ruangan luar sisi selatan museum. Ciri kereta Kyai Kuthakaharja, antara lain: cat warna kuning, termasuk kereta tertutup dengan tempat duduk tunggal searah tempat duduk kusir, dan memiliki 4 roda yang sama.

Kereta pusaka kelima belas diberi nama Kyai Natapura. Kereta jenis terbuka itu, saat ini disimpan dan diposisikan di sebelah ruangan luar sisi depan kanan museum. Seperti pada kedua kereta sebelumnya, kereta inipun juga buatan Belanda pada tahun 1901 semasa pemerintahan Hamengkubuwana VII. Kereta ini digunakan untuk keperluan transportasi terutama bagi adik atau kerabat sultan. Ciri kereta ini, antara lain: cat warna kuning, termasuk kereta terbuka, memiliki 4 roda sama besar, tempat duduk ada dua saling berhadapan, dan dua sisi bagian depan terdapat lampu hias.

Kereta pusaka keenam belas diberi julukan Kyai Reja Pawaka. Kereta ini juga dibuat di negeri Belanda, pada masa pemerintahan HB VII. Kereta ini juga digunakan oleh keluarga raja saat melakukan kegiatan-kegiatan di kraton dan luar kraton. Ciri kereta Kyai Reja Pawaka, antara lain: cat warna coklat, termasuk kereta terbuka (walaupun ada penutup yang bisa dibuka/tutup), beroda empat sama besar, dan tempat duduk ada dua saling berhadapan. Posisi kereta pada saat ini diletakkan di ruangan terbuka sisi timur museum.

bersambung

Suwandi
Diambil dari beberapa sumber media (cetak dan elektronik), buku, dan survei langsung ke Museum Kareta Karaton Yogyakarta.