Klangenan

TRANSPORTASI DI YOGYAKARTA

TRANSPORTASI DI YOGYAKARTAKeberadaan transportasi, --yang merupakan bentuk perpindahan manusia atau barang dari satu lokasi ke lokasi yang berbeda,-- menjadi penting dalam kehidupan sebuah wilayah. Perkembangannya pun semakin kompleks. Sektor transportasi di Indonesia banyak menghadapi tantangan dalam skala nasional, regional dan global, serta tantangan eksternal dan internal. Oleh karenanya transportasi sebagai tatanan mobilitas sosial, budaya, dan ekonomi dihadapkan pada tuntutan akan kecepatan, keandalan, efisiensi dan daya saing yang tinggi.

Jika kota diibaratkan sebagai jasmani manusia, maka sistem transportasi diasosiasikan sebagai sistem peredaran darahnya. Apabila sistem peredaran daranya (baca: transportasi) tidak baik, maka akan tercermin dengan tekanan darah yang tinggi (baca: kemacetan lalu lintas). Keadaan sebuah kota dapat dibaca antara lain dari kondisi lalu lintas dan angkutannya. Kota Yogyakarta pun tak luput dari persoalan ini dengan berbagai dinamikanya.

Transportasi perkotaan merupakan salah satu faktor kunci peningkatan produktivitas kota. Angkutan umum pun menjadi sarana mutlak diperlukan untuk melayani kebutuhan masyarakat yang beragam. Secara kuantitatif jumlah sarana transportasi menjadi semakin meningkat tajam. Bis kota dan mini bus mulai berebutan trayek jalur yang padat dan menambah kepadatan kota.

Di sisi yang berbeda, maraknya moda transportasi modern ternyata menenggelamkan moda transportasi tradisional yang dulunya menjadi ciri khas kota Yogya. Sepeda motor mulai menggusur eksistensi sepeda, begitu pula angkutan umum yang menggantikan andong dan dokar. Kota menjadi semakin marak dengan modernitas, dan lambat laun gaya hidup pun bergeser meninggalkan masa lalu.

Atmosfer Yogya semakin sesak dengan asap knalpot dan deru mesin berbahan bakar minyak. Melambungnya harga BBM pun tidak serta merta diiringi dengan turunnya penggunaan transportasi modern. Di antara derap mesin yang memadati kota, masih ada pula masyarakat yang tetap menggunakan moda transportasi bertenaga manusia. Walaupun tingkat penjualan sepeda di Yogya belumlah signifikan dengan meningkatnya harga BBM, namun momen itu perlu disyukuri karena Yogya yang dulunya dicirikan dengan sepedanya, mungkin patut untuk dikembalikan lagi.

Berbagai persoalan transportasi tentunya perlu dilihat lebih tajam, dengan begitu pemerintah bisa menentukan kebijakan mengenai transportasi yang tepat diterapkan di Yogya. Perlu berbagai pihak untuk memikirkan, bagaimana peliknya permasalahan transportasi di Yogya yang selama ini. Berbagai issue telah bergulir berkaitan dengan transportasi, beragam kebijakan pun juga telah dilakukan. Tentunya solusi yang tepat perlu segera diberi jalan tengah agar kota Yogya semakin manusiawi.

TRANSPORTASI DI YOGYAKARTAKita bisa melihat, kawasan yang 30 tahun lalu, atau bahkan 20 tahun lalu masih sepi, sekarang sudah padat kendaraan. Kawasan jalan Kaliurang dan kawasan, yang sekarang dikenal dengan sebutan jalan Monjali, padat akan kendaraan. Dua wilayah ini, hampir-hampir tidak ditemukan kendaraan tradisional untuk umum, misalnya becak atau andong. Bahkan kendaraan tradisional personal berupa sepeda onthel, jarang ditemukan. Dua kawasan itu sekedar untuk menyebut contoh, bahwa Yogyakarta telah mengalami permasalahan dalam hal penataan lalu lintas.

Orang tahu, Yogya kotanya kecil. Karena itu, setiap sudut kampung penuh pemukiman. Sekarang, orang semakin tahu, Yogya tambah padat pemukiman, yang artinya padat pula kendaraan. Menyebut contoh lain misalnya, kawasan mBesi, arah jalan Kaliurang Km 15, yang dulu seperti berada ’diujung yang jauh’, kini telah padat pemukiman, dan kawasan ini padat pula kendaraan.

Kawasan lain, yang sebelumnya sepi, sebut saja jalan Godean, yang dulu juga seperti jauh ’berada diujung’, kini padat merayap. Kawasan ini setiap hari mengalami kemacetan, atau mungkin lebih tepat disebut sebagai kendaraan merayap pelan. Memang, dibadingkan kota-kota besar lainnya, Surabaya misalnya, atau Semarang, tingkat kemacetan di Yogya belum seberapa. Namun untuk kondisi Yogya sebagai kota kecil, situasi transportasi seperti itu sudah menambah permasalahan di Yogyakarta.

Belum lagi bila masa liburan tiba, kendaraan dari luar kota banyak yang datang ke Yogya, dan tentu saja menambah ’kemacetan’ lalu lintas di Yogyakarta. Hal seperti ini akan terus berulang di Yogyakarta, setidaknya dalam setahun dua kali: saat lebaran dan pada akhir tahun, Yogyakarta selain penuh orang sekaligus penuh kendaraan.

Transportasi di Yogyakarta lebih bersifat transportasi personal, seperti sepeda motor, sepeda onthel dan mobil. Transportasi umum seperti bus kota, taksi, becak, meski tersedia, tetapi animonya tidak terlalu banyak. Masyarakat Yogya tampaknya lebih suka menggunakan transportasi personal berupa sepeda motor. Mungkin karena tahu, kotanya kecil dan lebih ’lincah’ ditempuh dengan sepeda motor, apalagi medannya masuk sudut-sudut kampung dan desa. Selain itu, menggunakan kendaraan pribadi tidak tergantung pada transportasi umum.

Karena warga Yogya lebih suka menggunakan transportasi personal, kita bisa melihat lalu lintas di Yogya padat akan sepeda motor. Tempat parkir sekarang didominiasi sepeda motor. Yogya, rasanya, bukan lagi kota sepeda, meski sepeda tidak ditinggalkan. Kehadiran sepeda onthel sekedar untuk memberi kesan eksotisme transportasi lokal.

Seperti kota-kota lain di Indonesia, Yogya telah (berubah) menjadi kota sepeda motor.

Ons Untoro
Bambang K. Prihandono