Klangenan

PLESETAN: DARI KATA MENUJU VISUAL

PLESETAN: DARI KATA MENUJU VISUALSelintas mengenai plesetan

Seringkali, kapan mendengar kalimat plesetan, dengan segera orang akan menunjuk Yogya sebagai tempat plesetan kalimat, atau plesetan kata dimulai. Namun, sulit menelusuri ‘jejak sejarah’ plesetan di Yogya. Yang selalu dikatakan, sudah sejak lama plesetan dikenal di Yogyakarta. Bahakan pelawak Basio, sudah menggunakan plesetan untuk melawak. Mbah Guno, seorang pelawak tua, sampai sekarang kalau tampil melawak, atau sekedar berbincang dengan orang lain, tidak lupa seringkali menggunakan plesetan.

Tahun 1970-an, ketika saya masih duduk di sekolah dasar, bersama teman-teman seringkali, kalau bergurau menggunakan plesetan. Tentu saja, ketka plesetan saling bersambung, kita tertawa terpingkal bersama. Misalnya, ketika seorang teman mengomentari sepatu temannya yang masih baru dengan menyampaikan kata: sip, dengan segera teman lainya menyambung dalam bentuk plesetan, sehingga kalimat plesetannya menjadi ‘bersambung-sambung’ dan berhenti setelah tidak lagi menemukan plesetan yang tepat: Sip dan diteruskan sultan. Maka kalimanya menjadi Sipsultan, sultanjuruh, juruh sukarno, karnotanding, tandinghitam, hitamanhatiku dan seterusnya.

Jadi, kalau dikatakan plesetan sudah dikenal lama di Yogyakarta, saya kira ada benarnya. Hanya saja, pengertian lama memang perlu diperjelas, sehingga bisa untuk menegaskan bahwa ‘awal plesetan dari Yogya’, atau kata ‘lama’ memang untuk menunjukkan tidak ada angka pasti yang bisa ditunjuk? Atau, sekedar untuk menyebut angka, setengah abad yang lalu, mungkin malah lebih, plesetan kata sudah dikenal di Yogya.

Dan ternyata, plesetan kata tidak hilang di Yogya. Ia diteruskan oleh generasi yang lebih muda. Dalam pergaulan keseharian, ‘omongan plesetan’ mudah sekali ditemukan. Bahkan, dalam acara formal seperti seminar, atau diskusi, atau acara mantenan, seringkali terdengar kata-kata plesetan.

Ada anak muda yang, anggap saja, sungguh-sungguh dengan plesetan. Maksudnya sungguh-sungguh ialah, anak muda ini hidupnya sebagai pelawak dengan menggunakan plesetan sebagai modal dasarnya. Sehingga, setiap kata selalu menemukan plesetannya. Kelik Pelipur Lara adalah salah satu contoh pelawak muda Yogya yang ‘mengandalkan plesetan’ untuk lawakannya. Misalnya kelik memplesetkan singkatan LBH yang dikenal sebagai Lembaga Bantuan Hukum menjadi Lembaga Bantuan Humor. BBM yang dikenal sebagai Bahan Bakar Minyak diplesetkan menjadi Benar-Benar Mantenan. Masih ada banyak plesetan yang dilakukan oleh Kelik Pelipur Lara, yang akhirnya, sebut saja, menemukan formula ‘campursari plesetan’

Selain Kelik, ada juga anak muda yang ‘hidupnya’ dari plesetan. Setiawan Tiada Tara nama anak muda ini. Seperti halnya Kelik, dan keduanya pernah bersama-sama dalam ‘kelompok pelawak plesetan’, Setiawan mengambil plesetan menjadi ‘modal’ untuk melawak, misalnya Setiawan menulis buku ‘Humor Ganas” yang diterbitkan Tera Indonesia. Kata humor merupakan plesetan dari kata tumor. Karena, yang biasanya dikenal kalimat ‘tumor ganas’. Setiawan akhirnya menemukan formula ‘seminar plesetan’, atau yang dirumuskan sebagai ‘motivator plesetan’.

Mengambil ‘jalur lain’ tidak seperti yang dilakukan Kelik dan Setiawan misalnya, ada plesetan yang ditempelkan di t’shirt dan banyak penggemarnya. Sehingga t’shirt plesetan sempat mewabah di Yogya, bahkan sampai hari ini mudah sekali ditemukan t’shirt produk Yogya yang ‘menampilkan’ kata-kata plesetan.

Di Yogya pernah pula dikenal satu formula ketoprak, yang dikenal dengan sebutan ‘ketoporak plesetan’. Sebagaimana plesetan yang dikenal selama ini, ketoprak plessetan ini pun, selain memplesetankan judul lakon, misalnya ‘Suminten (ora) Edan’, karena lakon yang dikenal adalah Suminetn Edan. Juga memplesetkan aktornya. Artinya, tokoh yang selama ini dikonstruksikan dimainkan oleh orang cantik, untuk peran perempuan misalnya, diplesetkan sebaliknya.

PLESETAN: DARI KATA MENUJU VISUALKarena sifatnya mencari efek lucu, plesetan yang dilakukan jenis plesetan kata, bukan plesetan logika. Mungkin, kalau menunjuk plesetan logika, apa yang dilakukan Nuku Sulaiman, seorang aktivis Pijar, dengan memplesetkan SDSB, yang dikenal kependekan dari Sumbangan Dana Sosial Berhadiah menjadi Soeharto Dalang Semua Bencana. Keduanya memiliki logika yang berbeda. Akibat plesetan logika ini, Nuku Sulaiaman ‘dipersalahkan’ oleh pengadilan dan dihukum

Musik jenaka atau yang disebutnya sebagai parodi dari Jaduk Ferianto, misalnya ‘Kompi susu’ plesetan dari kopi susu, dan karya lainnya, banyak melakukan plesetan kiritik. Selain, tentu saja, plesetan jenaka dan lucu belaka.

Jadi, plesetan yang masih mudah ditemukan sampai hari ini, bahkan tidak hanya di Yogya, sebenarnya bisa digunakan untuk banyak fungsi, tidak hanya fungsi melucu, tetapi juga bisa untuk melakukan kritik

Plesetan visual: Tanda plesetan tidak berhenti

Rupanya, plesetan tidak hanya berhenti pada kata. Ada perkembangan plesetan lain, yang menggunakan gambar, sehingga plesetannya berupa visual. Plesetan visual ini terkadang memplesetkan wajah orang, sehingga bentuknya seringkali menyerupai karikatur. Namun ada juga bermain visual dan memplesetkan gambar atau foto yang sudah dikenali. Misalnya, wajah Dono Warkop yang ‘diplesetkan’seperti bemo.

Dalam konteks ini visual memang hanya berarti gambar atau foto, sehingga (di)beda(kan) dari kata. Meskipun penampilan plesetan visual seringkali dipadukan dengan plesetan kata. Jadi, kedua plesetan; visual dan kata, saling mengisi

Apakah plesetan visual selalu berupa foto wajah orang?

Tentu saja tidak. Ada banyak jenis visual yang diplesetkan dan tidak selalu wajah orang. Bahkan, bentuk iklan pun, misalnya rokok Malboro, visualnya bisa diplesetkan. Pada kasus ini, plesetan kata menyertai, sehingga visual dan kata, seperti telah ditulis di atas, saling mengisi dan memperkuat.

Plesetan visual, atau lebih khusus plesetan wajah, barangkali yang pernah dikenal dengan istilah serupa tapi tak sama, meski seringkali, tidak samanya pada pernik-pernik yang menyertai. Pada plesetan wajah, ‘serupa tapi tak sama’misalnya wajah JK yang diperankan oleh Kelik Pelipur Lara, jelas ‘wajahnya’ berbeda, tapi ‘kumis pasangan’ milik Kelik, seolah memberikan imajinasi pada JK, atau juga yang diperankan Jarwo Kuat, lebih kentara lagi plesetan visualnya. Plesetan visual yang lain, misalnya pada peran Superman, yang bisa terbang, tetapi ‘diplesetkan’ Superman tidak bisa terbang. Loyo dan tidak memiliki kekuatan seorang ‘Super-Man’.

Ada rupa-rupa plesetan visual, sekedar untuk membedakan dengan plesetan kata. Karena awalnya, yang dikenal selama ini adalah plesetan kata. Dari keduanya, kata dan visual, memiliki perbedaan aksentuasi. Memang tidak ada rumusan baku untuk membuat plesetan yang bisa dirujuk, hanya saja yang sering dilakukan untuk ‘menyamakan bunyi’ atau kata asosiatif., misalnya kata ‘pacar’ diplesetkan menjadi ‘pasar’ untuk menyamakan bunyi. Kalimat plesetannya bisa berbunyi: ‘siapa nama pacarmu?’ ‘pasar Beringharjo. Yang bersifat asosiatif dan melanjutkan dari kata untuk memberi arti lain, misalnya satu kata, yang merupakan nama dari satu daerah, yang memiliki impresi bahasa Jawa, sehingga bisa diteruskan menjadi satu kata: Kedah adalah satu nama daerah di Malaysia, yang kemudian diplesetkan menjadi kata dalam bahasa Jawa, ialah kedah pundi? (harus bagaimana?). Atau, Brebes, sebagai nama Kabupaten diplesetkan menjadi ‘mBrebesmili’, yang artinya menangis.

Pada visual plesetan, mengubah visual yang sudah dikenali, sehingga memberikan pengertian yang berbeda, tetapi ‘nuansa’ visualnya masih tetap sama. Selain untuk melakukan kritik, plesetan visual bisa pula sekadar untuk mengundang tawa. Plesetan visual yang dipakai untuk mengkritik, contoh yang paling aktual adalah sebutan Monarkhi untuk Yogya, sehingga dengan segera mulai muncul visual sejenis KTP, yang disebut Kartu warga negara Ngayogyakarta, selain itu ada visual paspor negara Ngayogyakarta.

Atau juga logo Pemda DKI Jakarta untuk menyidir Gubernur DKI, yang tidak pernah ‘ahli’ mengatasi banjir Jakarta, padahal ketika kampanye mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta, menyatakan mampu mengatasi banjir. Berita Suara Media di Jakarta, memberikan deskripsi mengenai plesetan visual logo DKI dengan menulis seperti berikut:

PLESETAN: DARI KATA MENUJU VISUAL“…lambang Provinsi DKI Jakarta yang diisengin. Gambar Monumen Nasional (Monas) di dalam lambang itu berganti warna menjadi hitam. Posisinya juga dimiringkan seperti Menara Pisa di Italia. Gambar awan sedang hujan ditambahkan di atasnya. Gambar padi dan kapas (lambang keadilan) di lambang Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga diedit menjadi lebih kecil dari aslinya. Tidak hanya itu, ombak laut lambang kota pelabuhan dan negara kepulauan berubah menjadi genangan air”.

Gambar-gambar partai tidak luput dari plesetan visual. Nama partainya juga diplesetkan. Jadi, plesetan visual dan plesetan kata bisa ditemukan pada plesetan visual. Beberapa gambar partai yang diplesetkan, misalnya PKB, yang biasanya jumlah bintangnya hanya 9, pada plesetan visual bintangnya bertaburan diseluruh ruang logo. PDI-P, gambar bantengnya diplesetkan dengan diberi anting pada telinganya. Golkar, gambar beringin dan padinya sudah diubah. Pohon beringinnya diganti pohon ganja, gambar kanannya adalah opium, tetapi nuansa Golkar tidak hilang.

Secara jenaka, kiranya kita sering menemukan, visual dari rambu-rambu lalu lintas diplesetkan. Visualnya tetap menyerupai rambu larangan parkir, tetapi pesannya sudah berbeda. Suatu kali, saya lupa di mana tempatnya, saya melihat rambu lalu lintas dilarang parkir, tetapi huruf ‘P’nya diganti dengan huruf ‘B’, sehingga memberi makna lain. Demikian juga peringatan dilarang merokok, gambar sebatang rokoknya diganti mangkok kecil mengeluarkan asap.

Yang paling mudah ditemukan adalah plesetan visual iklan. Berbagai macam iklan yang bertebaran di media, visualnya sudah banyak yang diplesetkan. Polanya sama dengan plesetan visual lainnya, hanya nama produk yang diiklankan yang diubah. Iklan rokok, iklan obat, iklan kondom, iklan minuman dan lainnya, menjadi ajang eksplorasi untuk diplesetkan.

Hampir semua plesetan visual tidak pernah meninggalkan plesetan kata. Artinya, plesetan visual selalu menyertakan plesetan kata. Kalaupun ditemukan plesetan visual tidak menyertakan plesetan kata, jumlahnya hanya sedikit. Artinya, plesetan visual dimungkinkan tanpa menyertakan plesetan kata. Memang tidak ada ‘keharusan’ plesetan visual menanggalkan plesetan kata. Sebagai jenis plesetan visual, mestinya sudah memiliki makna tersendiri, yang berbeda dengan plesetan kata. Utamanya, visual yang tidak menggunakan kata atau kalimat, seperti logo Pemda DKI Jakarta, diplesetkan tanpa disertai plesetan kata.

Dari maraknya plesetan visual, kita bisa mengerti, bahwa plesetan kata menemukan perkembangannya, dan ini artinya, plesetan kata tidak berhenti, justru berkembang secara lain dan tidak lagi terbatas pada lokal Yogya.

Ons Untoro

Tulisan ini merupakan penggalan dari pengantar pameran visual.