Klangenan

RENTANITAS SIMBOL KEBUDAYAAN PADA BERBAGAI PENGARUH

Pandawa, keluarga Pandu Dewanata itu kita kenal sebagai sebuah kelompok atau unit keluarga yang berada di pihak yang selalu benar. Pendeknya, ia adalah wakil dari kebenaran itu sendiri. Pandu Dewanata yang tidak bisa menengok atau menoleh itu digambarkan bermuka pucat atau dalam kata lain dikenal sebagai si pucat.

Pertikaian Kurawa dan Pandawa ini menurut para ahli sejarah sebenarnya merupakan epos yang banyak dipengaruhi oleh hegemoni budaya bangsa Arya. Si pucat yang dalam hal ini diwakili oleh Pandu konon merupakan representasi dari dari ras Arya yang memang berkulit putih (seperti si pucat, Pandu). Perkataan atau penamaan kepada si pucat ini agaknya terjadi juga dalam dunia kaum Indian nun di kala bangsa Indian mulai berhubungan dengan bangsa kulit putih (Eropa). Kala itu bangsa Indian sering menjuluki bangsa pendatang yang kemudian menaklukkan mereka itu dengan istilah si muka pucat.

Jika hipotesa tersebut benar, maka dapat diduga bahwa bangsa Arya atau ras kulit putih sejak awal mula memang telah menjadi suatu ras yang unggul. Unggul dari sisi kekuatan maupun dari sisi pemikiran ideologis. Dengan demikian mereka mampu menjelajah di semua benua dan kemudian menaklukkan bahkan merebutnya menjadi (seolah-olah) tanah air barunya.

Pada sisi itu sebenarnya dapat dilihat bagaimana sebuah bangsa yang kuat menghegemoni kebudayaan yang dianggap lebih lemah. Kebudayaan bangsa yang kuat selalu mendapatkan tempat yang superior. Dengan demikian kebudayaan yang menjadi jati diri atau katakanlah way of life dari sebuah bangsa yang dianggap minor kemudian terkooptasi oleh masuknya kebudayaan lain yang lebih kuat pengaruhnya, yang barangkali cara masuknya pun dilakukan dengan cara kekerasan (perang), kutukan, dan ancaman-ancaman. Hal yang demikian juga terjadi pada bangsa “asli” India yang oleh sejarawan disebutnya sebagai bangsa Dravida.

Bangsa Arya yang menerobos India dengan melalui Lembah Sungai Indus membawa berbagai ajaran atau ideologi yang akhirnya menghegemoni kebudayaan bangsa Dravida. Cerita wayang Ramayana dan Mahabharata pun tidak bisa lepas sepenuhnya dari hegemoni ini. Logis belaka jika Pandu yang dalam hal ini dapat dicurigai sebagai wakil atau simbol dari ras Arya atau ras unggul itu telah didudukkan menjadi patokan atau cikal bakal bagi lahirnya tokoh-tokoh yang mengemban semua kebenaran dalam keseluruhan lakon dunia wayang. Sekalipun sesungguhnya, kebenaran yang ada pada keluarga Pandawa dan anak cucunya itu boleh dipertanyakan ulang.

Kita mengenal bagaimana dalam perang tanding Karna-Arjuna, Karna telah dicurangi oleh Kresna. Kita juga mengenal bagaimana sekutu Pandawa, yakni Setyaki bisa memenangkan perang melawan Burisrawa karena kecurangan pihak Pandawa. Demikian juga dengan pertarungan Salya-Puntadewa. Salya kalah karena tidak tega melihat kemenakannya (Nakula-Sadewa) menangis, merengek di hadapannya dan minta dibunuh olehnya karena Pandawa tidak ada yang bisa mengalahkan Salya.

Lepas dari itu semua sebenarnya kebudayaan dalam segala sisinya sebenarnya dapat menjadi semacam alat untuk menguasai ruh atau sisi kejiwaan dan perilaku dari sebuah bangsa. Sadar atau tidak kita semua terpengaruh oleh berbagai silang sengkarut masuknya kebudayaan ke bangsa kita, suku kita, pribadi kita. Hanya saja, kita boleh mengukur diri kita sendiri, setebal apakah pengaruh macam-macam kebudayaan itu dalam diri kita sendiri. Jika kita mengaku kuat dalam budaya Jawa, boleh juga ditanyakan Jawa yang mana, yang seperti apa, yang terpengaruh oleh kebudayaan yang berasal dari mana. Jawa dalam formulanya yang sekarang bukanlah adonan tunggal. Ia terdiri atas sekian ratus atau sekian ribu pengaruh kebudayaan lain yang menformula sehingga menjadi seperti yang sekarang. Kita pun boleh sangsi, jangan-jangan kita ini juga menjadi objek yang rentan terhadap kooptasi kebudayaan lain sementara kita merasa bahwa kita ini Jawa tulen, Sunda tulen, Betawi tulen, dan sebagainya.

sartono