Klangenan

DONGENG KANCIL DALAM PERUBAHAN BUDAYA

Dongeng Kancil, saya kira, orang masih mengenalnya. Anak-anak di Jawa mengenal jenis dongeng ‘sato kewan’ tersebut. Biasanya dongeng Kancil diceritakan oleh orang tua untuk mengantarkan tidur, sehingga disebut sebagai dongeng pengantar tidur. Tetapi anak-anak sekarang jauh berbeda dengan anak-anak yang dilahirkan 30 atau 40 tahun yang lalu. Atau setidaknya anak yang dilahirkan pada akhir tahun 1960-an. Anak-anak (balita) sekarang telah mengenal banyak jenis referensi dongeng, barang permainan dan kompleksitas persoalan. Sehingga dongeng yang dulu dianggap menarik oleh anak-anak, bagi anak (balita) sekarang bisa tidak lagi memikat hatinya, karena relevansi properti dongeng sudah tidak masuk dalam referensinya. Untuk menyebut contoh kasus, anak saya protes ketika mendengar dongeng ‘Kancil Nylolong Timun’ (cerita Kancil mencuri mentimun). Kata anak saya, "Timun kok dicuri, TV itu yang dicuri."

Dari protes anak balita tersebut, tampaknya kita bisa melihat bahwa anak-anak sekarang hidup dalam perubahan budaya. Bahwa simbol budaya pada masa lalu tidak lagi memadai untuk menjelaskan tanda budaya pada zaman ini. "Timun" dan "televisi" masing-masing adalah tanda dari zaman yang berbeda. Yang pertama menunjuk pada masyarakat agraris. Yang kedua menunjuk pada masyarakat industrial. Dari dua wilayah yang berbeda itu, tentu wilayah pertama sudah tidak lagi mewakili mimpi anak-anak zaman sekarang.

Industri Mimpi dalam Dongeng

Dalam masyarakat industrial, dongeng tidak lain adalah dari apa yang disebut sebagai mimpi. Ketika dongeng disampaikan menggunakan media audio visual, namanya sudah bukan lagi dongeng tetapi sinetron. Ketika dongeng sepenuhnya memberikan mimpi, namanya bisa AFI atau Indonesian Idol. Kebudayaan telah mengalami perubahan dalam dunia dongeng. Industri memberikan fasilitas untuk itu. Oleh sebab itu, yang dicuri kancil memang bukan mentimun, tetapi televisi. Dan televisi memang memberikan mimpi. Jadi tepat betul, bahwa dongeng yang bisa menyedot publik adalah jenis dongeng yang memberi mimpi.

Dengan kata lain, peran orang tua saat memberikan dongeng pada anaknya, dalam masyarakat industri sudah diambil alih oleh media. Pada konteks anak-anak (dan ABG), media --terutama media audio visual-- memberikan kisah cerita yang bertabur mimpi. Anak balita, kalau bukan televisi, bisa memilih game atau playstation. Subtansinya sama, mengambil alih peran orang tua dalam mendongeng.

Perubahan kebudayaan pada akhirnya menggantikan dongeng Kancil dalam jenis dongeng yang lain, namun tidak merujuk pada nilai-nilai, seperti rasa solidaritas, rasa hormat terhadap orang lain, kebersamaan dan seterusnya. Dongeng pada konteks mimpi memberikan imajinasi hidup yang serba mudah, mewah dan tidak mempunyai banyak persoalan. Seolah kehidupan sehari-hari yang dijalaninya tidak dikenal. Atau persoalan kehidupan yang sangat riil seperti direpresentasikan pada dongeng Kancil dan sejenisnya tidak dikenal dalam dunia mimpi. Mimpi adalah mimpi, sepenuhnya keluar dari realitas konkrit.

Susahnya, anak-anak tidak lagi bisa membedakan antara mimpi dan imajinasi. Dongeng Kancil dan jenis dongeng ‘sato kewan’ (kisah fabel) lainnya sangat imajinatif, tetapi tidak memberikan mimpi. Sebaliknya, sinetron yang banyak disajikan oleh industri media audio visual miskin akan imajinasi, namun sepenuhnya memberikan mimpi. Jadi, mimpi dan imajinasi dua hal yang berbeda. Efeknya terhadap publik juga tidak sama. Publik dongeng Kancil akan bisa tumbuh imajinasinya. Publik sinetron lebih suka menganyam mimpi: bahwa populer itu dianggap segala-galanya.

Anak-anak di zaman sekarang berada dalam perubahan budaya yang luar biasa, sehingga tidak lagi mengenal mentimun tetapi lebih mengenal ikon-ikon lain yang tidak mempunyai latar belakang kultur dari masyarakatnya. Perubahan budaya seperti itu tidak harus ditempatkan pada norma baik-buruk. Karena kenyataan itu sudah terjadi dan anak tumbuh serta berkembang dalam perubahan budaya yang sangat cepat. Oleh sebab itu kata ganti “mentimun” harus segera dicarikan untuk tidak membuat anak teralienasi dalam kultur masyarakat di mana dia tinggal.

Lalu apa kata ganti dari “mentimun”?

Dalam memberikan dongeng Kancil pada anak, formulanya diubah sedemikian rupa dimana Kancil masih menjadi peran utama. Hanya saja Kancil tidak lagi mencuri mentimun, tetapi masuk rumah orang dan mengambil apa yang bukan menjadi haknya, sehingga anak bisa tetap tumbuh imajinasinya. Dengan demikan anak-anak tetap mengenal Kancil, tetapi formula mencuri diganti dengan mengambil yang bukan menjadi haknya. Formula dongeng seperti itu memang sepenuhnya menyadari bahwa anak berada dalam perubahan budaya yang tidak bisa dihindari.

Selain Kancil, anak saya juga mempertanyakan baik-buruk pada dongeng ‘Bawang Merah-Bawang Putih’. Katanya: "Kenapa Bawang Merah jahat, kenapa bukan Bawang Putih? Kok tidak dua-duanya jahat?" Formula pertanyaan itu saya mengerti sebagai anak dalam perubahan budaya, sehingga rupanya, tidak masuk akal adanya karakter dikotomis seperti dimiliki Bawang Merah dan Bawang Putih.

Jadi, dalam perubahan budaya seperti sedang terjadi sekarang, apa yang disebut sebagai ‘lokal’ --dongeng Kancil dan sejenisnya-- sedang ditinggalkan, sehingga anak-anak di mana-mana merujuk pada ikon yang sama dan tidak (lagi mau) mengenal ikon lokal. Ikon televisi di mana-mana dikenal oleh anak, tetapi mentimun hanya dikenal pada ikon lokal.

Ons Untoro