Klangenan

YOGYA, KOTA BUDAYA

Sampai saat ini, gelar klasik Yogya sebagai kota budaya belumlah luntur.

Julukan ini mungkin berangkat dari kapasitas Yogya –bersama Solo-- sebagai pewaris kebesaran Mataram, yang mampu memelihara seni tradisional dan adat istiadat Jawa. Meski sebagian kalangan menilai bahwa kesenian tradisional (baku) dan adat Jawa ini sedikit demi sedikit terkikis oleh modernisasi. Tapi tingginya daya adaptasi budaya Jawa masih mampu mempertahankan apa yang dianggap substansif.

Kedua, hidupnya gerak kesenian di kota ini yang kreatif dan dinamis. Energi diskusi kesenian, pementasan tari dan teater, maupun pameran seni rupa seperti tak ada habisnya. Berbagai komunitas seni bertumbuhan: sastra, film, musik, dan sebagainya. Galeri-galeri bermunculan. Kantong-kantong aktivitas kesenian tersebar.

Yogya juga menjadi salah satu poros kesenian nasional yang diperhitungkan. Pada tahun 1970-an, dikenal tiga poros di bidang seni rupa, sastra dan teater, yakni Yogya, Bandung dan Jakarta. Sampai sekarang pun kontribusi seniman Yogya masih amat kental mewarnai kesenian, malah tampil mencolok, di negeri ini.

Sebenarnya, di luar soal estetika, ada hal lain yang membentuk Yogya sebagai kota budaya, yakni nilai pluralisme. Pluralisme adalah budaya yang menjadi nilai kolektif. Lebih dari sekadar pluralitas, pluralisme menyertakan apresiasi dan simpati. Maka terciptalah atmosfer kebebasan berpikir dan berkreasi. Ini tak lepas dari beragamnya etnis yang hidup di Yogya, yang awalnya menempuh pendidikan di kota ini. Juga terkait sikap mengayomi Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang kini diteruskan Sri Sultan HB X. Serta tentu saja plastisitas budaya Jawa.

Tidak heran jika banyak perantau, termasuk dari luar Jawa, yang merasa ‘at home’ di kota ini. Begitu juga banyak yang menganggap Yogya sebagai kampung halamannya yang kedua. Saat ke Yogya, mereka menyebutnya sebagai ‘pulang’.

Pluralisme ini juga tampak dalam dunia pemikiran. Intitusi pendidikan seperti UGM, Universitas Sanata Dharma, UIN Sunan Kalijaga, misalnya, ikut menyebarkan pemikiran pluralistik ini. Begitu pula penerbit, seperti LKiS dan Insist. Atmosfer ini pula agaknya yang membuat para penerbit ‘kecil’ Yogya pada awal-awal reformasi menerbitkan buku-buku yang berbeda dengan mainstream sebelumnya. Di tingkat aksi, juga muncul institusi yang berusaha mencairkan apriori, seperti Dian/Interfidei dan Syarikat Indonesia.

Karenanya, Yogya sebagai kota budaya juga merepresentasikan nilai-nilai budaya apa yang dikandungnya.

Nilai lain yang mewarnai budaya Yogya adalah harmoni, nilai pokok dalam budaya Jawa. Harmoni tumbuh dari rasa hormat dan rukun. Dengan harmoni maka relatif tak ada konflik yang berujung pada anarki atau kerusuhan.

Harmoni bukan antarmanusia saja tetapi juga manusia dengan alam. Terkait dengan ini, rencana penambangan pasir di Kulon Progo menjadi ujian penting bagi pemda, apakah akan merealisasikan atau menolaknya. Liputan harian Kompas memaparkan bahwa gundukan pasir yang semula tak berguna akhirnya --berkat ketekunan dan kecerdasan seorang warga-- berhasil diolah menjadi lahan pertanian. Setelah itu, warga lainnya ikut beramai-ramai bercocok tanam di pasir (!) Bahkan warga yang merantau pun pulang untuk bertani.

Bertani di pasir, tanpa teknologi canggih, semula kita lihat sebagai hal yang mustahil. Ketika ternyata bisa terwujud,. luar biasa. Inilah magnum opus, gabungan cipta, rasa dan karsa manusia, yang menerobos pembatasan pikiran manusia. Dalam falsafah huruf Jawa, hanacaraka adalah ‘hana (ada) cipta, rasa, karsa’. Tidak sebatas itu. ‘Ha’ berarti ‘hurip’ (hidup). Kerja manusia adalah untuk menghidupi, seperti bercocok tanam di pasir itu. Tercapai harmoni manusia dan alam. Sementara penambangan pasir lebih mematikan atau melumpuhkan alam dan makhluk di sekitarnya.

Sungguh, budaya dalam Yogya adalah budaya yang menghidupi, bukan mematikan. Inilah semangat Yogya sebagai kota budaya. Falsafah Jawa, misalnya, ‘urip iku nguripi’ (hidup itu menghidupi), ‘urip iku urup' (hidup itu menyala, memberi manfaat), ’hamemayu hayuning bawono’ (memelihara keselamatan dunia), ‘ilmu kanthong bolong’ (menolong sesama) menegaskan peran menghidupi itu.

Yogya sebagai kota budaya adalah upaya pencapaian estetika dan etika.

a. barata