Klangenan

FESTIVAL KETOPRAK ANTAR SMA/SMK SE KABUPATEN BANTUL
(2)

Jadi, soal kesenian semacam ketoprak itu bukan hanya urusan untuk hiburan atau bersenang-senang saja. Untuk itu masyarakat perlu juga dilibatkan. Sebab dengan dukungan masyarakatlah yang menjadikan kesenian itu hidup. Jika kesenian atau kebudayaan hidup, maka peradaban pun hidup dan berkembang.

Melalui forum atau kegiatan kesenian pula tali persaudaraan itu terbentuk. Kegotongroyongan terbina. Pada jangkuan jauhnya, persatuan dan kesatuan bangsa juga terbina. Untuk itu tidak ada alasan pemerintah (dalam hal ini Pemkab) menolak pendanaan kegiatan kesenain di wilayahnya. Oleh karena itu, dana 3,5 juta rupiah untuk persiapan (latihan, dan seterusnya) lomba telah dikucurkan Pemkab Bantul bagi masing-m,asing kontingen yang mewakili masing-masing kecamatan.

Jika dilihat dari antusiasme para peserta lomba yang 100 prosen terdiri atas anak-anak SMA/SMK, tentu saja hal ini sangat menggembirakan. Hal ini juga dapat dianggap sebagai jawaban bahwa tidak semua anak muda tergila-gila oleh kebudayaan/kesenian mancanegara. Lebih menggembirakan lagi anak-anak atauymurid-murid SD dan SMP di Bantul pun menginginkan hal yang serupa.

Dengan kesenian tradisional semacam ketoprak itu sesungguhnya mereka telah diajarkan tentang estetika dan etika yang tumbuh dan menyatu di dalam kesenian tersebut yang akarnya tentu saja, kebudayaan Jawa itu sendiri. Dengan begitu, mereka sebenarnya telah menjadi agen bagi pembentukan karakter bangsa itu sendiri.

Festival tersebut mensyaratkan masing-masing kontingen terdiri atas 15-an orang peraga ketoprak dan 12 orang pengrawit (lebih masih diperkenankan). Durasi pementasan ketoprak 60 menit dan sepanjang-panjangnya 90 menit. Festoval juga mensyaratkan ada tembang dan keprakan sebab keduanya merupakan dua cirri utama ketoprak.

Juri untuk festival ini terdiri dari 3 orang, yakni Marsidah, BSc. (praktisi ketoprak), Drs. Sumaryono, MA (akademisi-budayawan), Indra Tranggono (budayawan-penulis). Festival atau lomba ini berlangsung mulai tanggal 25 Agustus 2007 sampai dengan 2 September 2007 mulai jam 19.00 Wib sampai selesai. Dalam setiap malamnya ditampilkan 2-3 kontingen.

Secara keseluruhan penyelenggaraan festival tersebut dapat dikatakan sukses besar. Tidak kurang-kurang Jko Purnomo, SE selaku Ketua DPRD Bantul mengucapkan selamat dan ikut bangga dengan semuanya itu. Tentu saja semua tidak lepas dari peran FKKB, Dinas Pendidikan, seniman, budayawan, birokrat, dan SMA/SMK di Bantul, serta masyarakat luas.

Joko Purnomo, SE juga menyatakan bahwa pemulihan Bantul pasca gempa 2006 lampau diawali dengan kesenian. Kesenianlah yang berandil besar membangkitkan semangat hidup masyarakat Bantul. Dengan kesenian pula jalinan kekerabatan atau persaudaraan masyarakat Bantul itu terjalin makin erat. Semangat bangkit dari musibah besar yang dipicu oleh peran kesenian itu tentu sangat membangggakan.

Dewan Pendidikan Kabupaten Bantul mengharapkan supaya festival sejenis dapat diselenggarakan pada kesempatan lain dengan lebih baik lagi. Hal demikian dinyatakan oleh Drs. H. Mukrianto yang mewakili Kepala Dewan Pendidikan. Dewan pendidiak menyetujui acara-cara semacam ini sebagai bagian dari melestarikan kebudayaan atau kesenian yang di dalamnya penuh dengan ajaran moral dan tatakrama.

Beliau juga menyatakan bahwa hidup dengan ilmu itu membuat hidup menjadi gampang, hidup dengan Tuhan membuat hidup menjadi terang, sedangkan hidup dengan kesenian membuat hidup menjadi indah. Selain beliau mengatakan bahwa budi seseorang itu terletak di dalam hatinya, tidak bisa dilihat dari kenampakan fisik atau visualnya semata. Selain itu kesenian juga mempupuk rasa handarbeni pada hasil kebudayaan sendiri. Rasa handarbeni ini pada gilirannya memupuk rasa patriotisme yang dalam serta tidak mudah larut pada produk budaya asing.

Menurut dewan juri Festival Ketoprak Antar SMA/SMK yang mewakili masing-masing kecamatand I Bantul ini telah menjadi jawaban nyata bahwa generasi muda Bantul tidak bisa dicap sebagai generasi yang tidak menyukai kesenian tradisional. Artinya, proses regenerasi esenian ketoprak ini bisa berjalan dengan baik di Bantul. Barangkali dengan demikian, peta sentra kesenian ketoprak di Yogyakarta bisa saja bergeser dari kota Yogya ke Bantul. Untuk itu Bantul perlu berbangga diri.

Berikut ini disajikan urutan pemenang dalam festival tersebut di atas.

Penyaji terbaik I,II,III yaitu SMAN Jetis, SMAN Sanden, dan SMAN Banguntapan. Penyaji Harapan I, II adalah SMAN Kasihan, dan SMA Stella Duce Bambanglipuro. Sutradara terbaik I,II, III yaitu SMAN Jetis, SMAN Sanden, dan SMAN Banguntapan. Pemain Pria Utama Terbaik I, II, III yaitu Jaka Kemuda-SMAN Jetis, Jaka Kemuda-SMAN Banguntapan, dan Suro Kodo-SMA Stella Duce Bambangnlipuro. Pemeran Utama Wanita Terbaik I,II,III, Mbok Sura-SMAN Dlingo, Mbok Suro-SMA Stella Duce Bambanglipuro, dan Mbok Sura-SMAN Banguntapan.

Pemeran Pembantu Pria Terbaik I, II yaitu Karta Genjik-SMAN Sanden, dan Karta Genjijk SMA Stella Duce Bambanglipura. Pemeran Pembantu Wanita terbaik I,II yaitu Miranti-SMAN Jetis dan Miranti-SMAN Sanden. Penata Rias Busana Terbaik I,II,III yaitu SMAN Kasihan, SMAN Sedayu, dan SMAN Banguntapan. Penata Iringan Terbaik I,II,III yaitu SMAN Banguntapan, SMAN Jetis, dan SMK Putrama. Para pemenang ini mendapatkan hadiah berupa tropi dan uang pembinaan dari penyelenggara dan pemerintah Kabupaten Bantul.

Foto dan teks: Sartono