Klangenan

Catatan peringatan 1000 hari Bagong Kussudiardja
Dari Bagong Kussudiardjo ke Besar Widodo.

Lahirnya karya seni, apakah itu seni tari, seni rupa, seni sastra atau pun seni yang lain, tidak akan lepas dengan karya-karya seni yang pernah ada sebelumnya, baik yang masih aktif maupun yang tidak aktif. Secara alami karya baru akan lahir setiap generasi, karena hal tersebut menandakan bahwa kesenian yang bersangkutan diwarisi, dihidupi dan dikembangkan dari generasi ke generasi secara berkesinambungan.

Pada generasi 50an sampai dengan 90an di jagad seni tari telah hadir seniman tari Bagong Kussudiardja. Kehadirannya merupakan tonggak sejarah senitari untuk menandai peralihan generasi. Dari GPH Tejokusumo yang mewakili generasi sebelum tahun 1950, Bagong Kussudiardjo telah mewarisi ilmu tari klasik Jogyakarta, ditambah lagi warisan-tari dari Ni Ketut Reneng (Bali) dan Martha Graham Dance School (Amerika).


Bagong Kussudiardja
Lahir di Jogyakarta, 9 Oktober 1928

Dalam proses perjalannya berkesenian, Bagong Kussudiardja mencoba merekonstruksi kembali nilai-nilai tari klasik Jogyakarta untuk kemudian memilah dan memilih dengan titis agar tepat sasaran. Bagian-bagian atau unsur-unsur yang sebaiknya disisihkan, dan yang masih dipakai atau yang perlu dikembangkan. Selanjutnya, hasil dari proses memilah dan memilih itu di dititeni, dikerjakan, diolah dengan kerja keras dan telaten. Hasil final dari seluruh proses kreatifnya, diserahkan dipasrahkan dengan madhep-mantep kepada Sang Pencipta. Madhep adalah mengarahkan dengan suntuk, tekun dan sungguh-sungguh hadap dirinya sebagai makhluk, kepada kiblat yaitu Tuhan. Sehingga ia berani menyatakan jatidirinya, tidak menghidar dari apa yang telah dipilihnya, walaupun banyak tantangan. Mantep merupakan wujud dari tekad yang kuat, percaya diri, teguh dan yakin pada pilihannya.

Karya-karya Bagong Kussudihardja yang dihasilkan adalah bukti bahwa ia telah bekerja dengan penuh karep, totalitas. Seluruh perhatian, pikiran, waktu dan tenaga dicurahkan untuk mengerjakan apa yang telah dipilihnya. Dengan demikian ia ngerti agal-aluse seni tari dan mengerti pula apa yang sebaikanya diperbuat pada generasinya. Dikarenakan Ia yakin dan mengerti pada pilihannya, maka ia berani membela untuk mempertahankan pilihan tersebut dengan penuh kehati-hatian.

Prinsip-prinsip untuk hangrungkebi pilihannya, Bagong Kussudihardja mulai mengawali karyanya pada tahun 1954 dengan melahirkan tari Layang-layang. Menurut kesaksian Suka Hardjana yang waktu itu masih kanak-kanak Tari Layang-layang mampu menghentikan permainan gundu mereka untuk kemudian beramai-ramai menonton latihan tari tersebut. Bahkan pada pentas malam harinya, anak-anak memenuhi halaman Pendopo Kepatihan, khusus untuk menonton tarian aneh itu.


Bagong Kussudihardja pada tahun 1954 membawakan tari Layang-layang

Karya tari Layang-layang ini dilihat dari kostumnya, gerakannya, mengingatkan pada sosok Cantrik Janaloka tokoh wayang wong dalam cerita 'Pergiwa-Pergiwati'. Munculnya respon publik antara yang pro dan yang kontra, justru semakin menyulut 'kenakalan' Bagong Kussudiardja untuk terus berproses melahirkan karya-karya tari selanjutnya. Karya-karya tari Bagong Kussudiardja, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan 'Tari Kreasi Baru,' mendobrak kemapanan dan mampu memberi warna dan menggairahkan perkembangan senitari pada generasinya.

Pada minggu lalu tanggal 11 Maret 2007 diperingati 1000 hari meninggalnya Sang Kreator Tari, di PLT Bagong Kussudiardjo, Kembaran, Jogyakarta. Pada acara tersebut ditampilkan pentas tari hasil karya Bagong Kussudiardjo, Ida Manutranggana (anak sulung) dan ketiga cantriknya, yaitu Handoyo (Cirebon), Iwan (Pakan Baru) dan Besar Widada.

Generasi Bagong Kussudiardjo telah berganti. Karya-karyanya, Ilmunya, proses kreatifnya, pengalamannya, prinsip-prinsipnya, penghayatannya, spiritnya, dan mungkin 'ideologi'nya telah diwariskan dan diwarisi generasi selanjutnya, cantrik-mentriknya, melalui Pusat Latihan Tari Bagong Kussudihardja. Jika disepakati bahwa warisan itu bernama 'Tari Kreasi Baru' Tentunya perlu di rekonstruksi ulang kata 'Baru' yang ada. Karena 'Baru' pada generasinya Bagong Kussudiardja berbeda dengan 'Baru' pada generasi selanjutnya.

Sebuah Tafsir

Pada karyanya yang berjudul 'Target' Besar Widodo mampu membeberkan kondisi Tari Kreasi Baru warisan Bagong Kussudiardja di jaman sekarang. Tarian ini diawali dengan tayangan video di layar lebar (background panggung). Tayangan tersebut menggambarkan seseorang (penari) dengan susah payah mencoba menggapai lentera, yang selalu bergerak tidak beraturan. Setelah melalui pergulatan panjang, lentera berhasil dipegang dan kemudian dimasukkan dalam raganya dan menyatu di hati. Lentera yang menggambarkan 'roh tradisi tari' hasil olahan dan menjadi ngelmunya Bagong Kussudiardja, telah berhasil diserap oleh cantrik-mentriknya.

Adegan selanjutnya muncul seorang penari (Besar Widodo) memakai kostum baju dan celana panjang tanpa asesoris. Gerakannya bebas tak beraturan, campuran antara ballet dan breakdance, diiringi musik rap yang keras. Di antara hirukpikuknya gerakan dan musik, terdengar samar-samar kidung Dhandhanggula. Sang penari menghentikan gerakan kontemporernya. Suara kidung itu mengingatkannya untuk berpaling kembali ke jatidirinya sebagai pewaris tradisi dari generasi sebelumnya. Kendi di atas meja didekati dengan perlahan, diraihnya dan diminum airnya. Ia merasa lega, tubuh yang gerah disegarkan.

Di jaman 'tehnologi kapitalis global' ini betapa beratnya perjuangan para cantrik-mentrik untuk bertahan pada jatidirinya, menghidupi dan mengembangkan warisannya. Oleh karenanya, ketika dirasa sebuah perjuangan tak berpengharapan lagi dan kegerahan sampai pada puncaknya, dibutuhkan seteguk air kendi, tirta amerta, spirit tradisi yang diwarisinya. Munculnya sesorang dengan tutup kain hitam di mukanya, membawa kereta dorong supermaket yang menggambarkan hegemoni pasar Global. Ia mendorong keretanya, dan mengganti air kendi dengan 'softdrink' serta meletakkan beberapa 'hamburger' di meja.

Maka ketika sang penari kesulitan dan kelelahan menangkap roh kidung dhandhanggula yang semakin samar tertimpa musik keras, ia ingin mendapatkan kembali spirit kekuatan dan kesegaran dari air kendi. Namun air amerta telah diganti softdrink dan hamburger. Dibarengi dengan tayangan gambar-gambar yang berubah sangat cepat. Mulai dari bakul lombok sampai supermarket. Tayangan tersebut dimaksudkan untuk memberi gambaran bahwa apa pun yang bernafaskan tradisi-klasik dapat digilas dengan mudah oleh 'tehnologi kapital global.'

Sebagai endingnya, si penari masuk dan duduk di kereta dorong, dan lampu menjadi gelap. Lentera yang sebelumnya diraih dengan susah payah, tidak mampu menyala lagi. Yang menyala adalah sebuah baterai, pemberian dari si pembawa kereta dorong. Dengan baterai, konsep pikirannya diterangi, dengan softdrink jatidirinya disegarkan dan dengan hamburger spirit di bangkitkan. Namun konsep pikirannya, spirit dan jati dirinya, sudah berubah menjadi 'tehnologi kapitalis global.' yang menebar kemana-mana. Siap untuk mencamplok apa saja yang dibutuhkan dan menguntungkan untuk kemudian dimasukan ke dalam keranjang kereta dorong

Ibarat Brahala, 'tehnologi kapitalis global' sangat perkasa, tidak ada yang mampu menghindar dari untalannya. Apalagi kesenian tradisi klasik yang memang sudah lama hidup menggrik-menggrik. Kekuatan yang dimiliki yaitu, adiluhung, kearifan lokal, darma, gotong-royong tidak mampu mematahkan taring sang Brahala.

Besar Widodo sebagai salah satu pewaris ngelmu tari kreasi baru dari Bagong Kussudiardja, telah mampu menangkap 'medan' tempat ia memperjuangakan warisannya dengan makna 'Baru' di generasi 'Baru.' Bersama PLT Bagong Kussudiarja ia akan menyusun strategi untuk menghadapi sang Brahala. Jika tidak bisa mematahkan taringnya, cukuplah dengan mengambil hatinya sehingga tidak mengganggu, sukur bage memberi ruang berproses dan berkiprah.

Bapak Bagong Kussudiardja, sugeng ngaso wonten ing Pangyoman Dalem Pangeran.
Sampun kuwatos, nadyanta ing mangsa ketiga nerak,
warisan nandalem tansah badhe kaupakara, kadhangir, kasiram, karabuk
supados ngrembaka lan ngasilaken woh kang mbiyet.
(herjaka)