Klangenan

KOMIK RAMPOKAN: JAVA KOMIK SETTING JAWA VAN HOLLAND

Di Indonesia komik pernah mengalami zaman keemasan, yakni pada tahun-tahun 1970-an. Demikian setidaknya yang ditegaskan Hasmi, seorang komikus yang pernah berjaya dengan komiknya yang berjudul Gundala Putera Petir. Menurutnya pada tahun-tahun tersebut para komikus Indonesia seperti dimanja oleh suasana. Bahkan pada tahun-tahun tersebut pernah ada anggapan bahwa apa pun yang dicoretkan oleh komikus akan laku keras di pasaran. Oleh karenaya pada zaman itu banyak komikus yang hidup sejahtera karena gambar atau coretanya laris bak kacang goreng. Komikus-komikus Indonesia yang bisa mengenyam zaman keemasane komik ini diantaranya Ganes TH (Si Buta dari Gua Hantu, dsb), Jan Mintaraga (Puncak Colmo Lungma, dsb), Mansyur Daman (Mandala Siluman Sungai Ular, dsb), Wid NS (Tangan Sunthi, Modang Kecu, dsb), Djair Wani (Bajing Ireng, lsp), Teguh Santosa, dan sebagainya. Pada zaman-zaman tersebut komik menjadi salah satu bacaan hiburan yang merajai bacaan hiburan di bumi Indonesia.

Sayangnya komik-komik Indonesia ini lantas tenggelam begitu saja oleh hadirnya industri komik yang berasal dari Amerika, Eropa, Singapura, Jepang, dan sebagainya . Komik-komik dari berbagai negara secara besar-besaran menyerbu pasaran komik di Indonesia. Dalam waktu relatif sinkat komik Indonesia tenggelam begitu saja. Tidak mustahil karena jika dilihat dari sisi fisiknya saja komik yang berasal dari mancanegara ini memiliki penampilan atau visualisasi yang sangat menarik. Detil goresan, pewarnaan, dan eksplorasi imajinasi yang bisa dicermati melalui cerita dan penciptaan karakter tokoh secara visual juga tampak demikian menarik. Hal yang demikian tidak ditemukan dalam komik-komik Indonesia waktu itu. Produksi massal komik dari mancanegara ini akhirnya segera mematikan komik Indonesia yang kebanyakan memang diciptakan dengan teknologi cetak maupun teknologi gambar yang relatif sederhana.

Belum lama ini di sekitar pertengahan bulan November 2005 Pendapa Karta Pustaka, Jl. Bintaran Tengah 16, Yogyakarta juga mengadakan pameran komik. Karya yang ditampilkan adalah karya dari komikus Belanda yang bernama Peter Van Dongen. Pameran ini juga mengajak komikus Indonesia di anytaranya adalah Dwi Santoso (Anto Motulz) dari Jakarta, Dwinita Larasati (Tita) dari Jakarta, Muhammad Cahya Daulay (Cahya) dari Jakarta, dan Beng Rahadian (Beng) dari Yogyakarta.

Pameran sing dibuka kanthi pidatone Hasmi (komikus yang mencipta Gundala Putera Petir) ini berhasil menyedot pengunjung. Pameran komik ini diilhami oleh perayaan 60 tahun Indonesia Merdeka. Pada perayaan ini Peter Van Dongen (39) ingin ikut merayakan kamardikaan bangsa Indonesia. Peter Van Dongen sendiri mulai menerjuni dunia komik sejak taun 1980. Sebelum itu ia menggeluti seni musik ska-reggae sebagai penabuh drum. Taun 1980-an ia mengaku merasa jatuh cinta pada komik. Ia juga mengaku bahwa ia menjadi komikus yang banyak dipengaruhi oleh Herge, Jacobs, Franquin dan Chaland. Orang-orang ini pada jamannya merupakan kartunis dan komikus yang sangat kondhang.

Peter Van Dongen mulai menerbitkan komiknya taun 1990 dengan judul Theatre of Mice. Akan tetapi sebelum itu ia sudah belajar menggambar pada Sekolah Tinggi Grafis Amsterdam, Belanda. Pada tahun 1991 karya Van Dongen tersebut mendapatkan penghargaan yang disebut Stripschappenning, yakni penghargaan dari komunitas kartunis Belanda. Pada tahun 1998 Van Dongen menerbitkan komiknya yang berjudul Rampokan: Java (Oog & Blik). Buku Rampokan Jawa ini menceritakan perjuangan masyarakat Indonesia agar lepas dari cengkeremane bangsa Belanda. Pada buku ini juga digambarkan tradisi rampokan (macan dan bantheng) yang sering diadakan di lapangan (alun-alun) Kraton Mataram. Detail gambar komik Van Dongen kelihatan demikian prima. Demikian juga teknik pewarnaannya. Hal ini menyebabkan karakter dan ekspresi antara tokoh yang satu dengan yang lain kelihatan begitu hidup. Demikian juga detail gambar bangunan, kendaraan, hutan, pohon, sungai, batu, dan sebagainya yang juga prima menjadi background atau setting sangat mendukung isi penceritaan. Tidak mengherankan jika komiknya yang berjudul Rampokan: Java (Oog & Blik) mendapat penghargaan Prix du Lion di Brussel (Belgia). Pada tahun 1998 Van Dongen bersama-sama dengan penerbitnya mendapatkan penghargaan Buku Terbaik. Edisi kedua seri rampokan karaya Van Dongen berjudul Rampokan: Celebes. Buku ini diterbitkan tahun 2004.

Pada kesempatan itu Hasmi berharap bahwa dengan pameran ini semoga komikus Indonesia termotivasi untuk gigih berkarya.

Foto dan Teks: Sartono K