Klangenan

PROFIL GRUP CAMPURSARI SIDO RUKUN, PLAYEN, GUNUNG KIDUL

Grup musik Campursari Sido Rukun mula-mula adalah grup yang semula merupakan grup main-main. Pada awalnya ada beberapa pemuda di Dengok, Dengok, Playen, Gunung Kidul yang gemar bermain musik. Baik bermain sendirian di rumah maupun di pinggir jalan atau perempatan jalan. Semuanya dari main-main. Berawal dari itu semua mulailah ada pemikiran serius untuk membentuk grup musik. Pada tahun 1996 terbentuklah grup musik campur sari yang diberi nama Campur Sari Sido Rukun.Pada masa awal mereka banyak belajar dari musik campursarinya Manthous. Dapat dikatakan bahwa Manthous bersama grupnya adalah kiblat mereka.

Sekalipun grup ini telah resmi berdiri pada tahun tersebut dan cara bermian musiknya mulai serius, tetapi untuk urusan tarif tanggapan semuanya masih diserahkan kepada yang menanggap. Artinya mereka masih malu-malu untuk mematok tarif yang pasti. Masih diingat betul oleh anggota grup ini mereka mendapatkan honorarium tanggapan untuk pertama kalinya hanya sebesar Rp 250.000,-. Uang sebesar itu tidak mereka bagi, tetapi justru digunakan untuk kas organisasi serta melengkapi alat-alat musik. Sejak berdiri hingga selama satu tahun honorarium hasil tanggapan dari grup ini tidak dibagi. Semuanya dikumpulkan untuk modal grup.

Pada tahun 1998 bergabunglah seorang penyanyi yang mempunyai modal prima di bidang tarik suara yaitu Dhimas Ratin Sutejo. Tejo ini secara berangsur-angsur menjadi semacam bintang di dalam grup CSSR. Bersama Tejo inilah kemudian grup CSSR sedikit demi sedikit mulai merangkak dan berkembang. Tidak dapat dipungkiri bintang Tejo yang kian terang berimbas besar pada kehidupan grup CSSR. Dalam komposisinya sekarang Grup CSSR memiliki sekitar 30 personel.

Pada tahun 2000-an grup CSSR yang diketuai oleh Tejo ini akhirnya mulai banyak mendapatkan tanggapan. Dalam sebulannya CSSR memiliki jadwal pentas rata-rata sebanyak 20 kali. Untuk pribadi Tejo sendiri yang menjadi penyanyi bintang di grup ini dalam sebulan bisa manggung sebanyak 30 kali bahkan lebih. Sekali pentas CSSR biasa dihargai sekitar 4-5 juta rupiah. Itu kalau untuk wilayah Gunung Kidul atau DIY. Di luar itu tentunya akan ditambah ongkos transportasi dan akomodasi. Bahkan untuk pentas di Ancol, Jakarta grup CSSR diberi honorarium sekitar 25 juta rupiah.

Untuk menjaga ciri khas atau identitas grup CSSR, maka CSSR menetapkan bahwa semua biduanita yang tergabung di dalamnya wajib mengenakan baju kebaya dan bersanggul jika sedang manggung. Hal ini tidak bisa ditawar. Menurut grup ini ciri khas kebaya dan sanggul dipertahankan demi menjaga citra musik campursari yang tetap njawani (menjawa). Untuk mencapai gambaran itu penyanyi pria di grup CSSR ini juga tidak pernah meninggalkan pakaian Jawa untuk tampil. Iket (ikat kepala), blangkon, beskap, selop, surjan, dan unsur pakaian Jawa lainnya tetap digunakan. Pengiring atau pemusiknya pun tidak pernah lepas dari pakaian Jawa tersebut.

Berkaitan dengan Tejo sendiri, ia telah berhasil membuat dua buah album yang masing-masing berjudul Sama-sama Rindu, dan Serba Salah. Menurut prediksi Tejo pula sampai tahun 2005 ke depan musik Campursari masih akan tetap digemari. Untuk itu pula Tejo bersama mesti jeli mencermati keinginan pasar.

Dalam pementasannya di Rumah Budaya Tembi, 26 November 2004 kemarin Tejo didukung beberapa penyanyi di antaranya Astuti, Ling Ling Sagita, Eny Susianti, Gatot Sujarno, dan Endah Saraswati. Kecuali itu pementasan itu juga didukung oleh pelawak Dalijo dan Mbah Bardi. Pementasan di Rumah Budaya Tembi tersebut disiarkan secara langsung oleh Radio Konco Tani, Jl.. Godean, YK. Pentas di Rumah Budaya Tembi ini disaksikan oleh sekitar 800-an orang penonton.

Teks: Sartono
Foto: Didit PD