Majalah

 

BEKSAN BEDHAYA
DI KRATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT


Kostum dan rias penari Langen Beksa Dwi Naga Rasa Tunggal

Pada masa lalu raja dianggap sebagai wakil Tuhan (berdasarkan konsep politik dewa-raja pada masa Hindu ataupun konsep kalifatulah pada masa Islam). Di kraton Yogyakarta pada masa dulu pentas bedaya diselenggarakan di Bangsal Kencana dekat dengan tempat duduk Sultan. Hal ini melambangkan bahwa tari bedaya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan keberadaan raja sebagai penguasa. Dengan demikian bedaya juga menjadi simbol hubungan antara manusia dengan Tuhannya, sebagaimana tujuan hidup manusia Jawa dalam mewujudkan cita-cita manunggaling kawula-gusti untuk mencapai keselarasan hidup lahir dan batin.

Kraton Yogyakarta pada tanggal 29 September 2001 menampilkan salah satu karya terbaiknya berupa tarian bedaya yang disebut sebagai Langen Beksa Dwi Naga Rasa Tunggal. Tarian ini dipergelarkan di Pagelaran Kraton untuk memperingati berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadinigrat ke 254.

Langen Beksa Dwi Naga Rasa Tunggal ditarikan oleh 9 (sembilan) penari putri dengan mengenakan pakaian model dodot/kampuh bermotif sisik naga. Gerak tari mengambil materi dari gerak tari tradisi gaya Yogyakarta. Suasana dramatik dimunculkan melalui perubahan-perubahan pola lantai terutama pada perubahan rakit lajur sesuai dengan tema cerita.

Pola garapan Langen Beksa Dwi Naga Rasa Tunggal ini mengambil ide dari pola garap tari bedaya pada umumnya dengan dasar pemikiran bahwa tari bedhaya merupakan salah satu tarian ritual yang penuh simbolisme dan kaya dengan falsafah hidup sehingga sampai sekarang keberadaannya tetap dipertahankan. Tema cerita tarian ini diambil dari sejarah berdirinya Kraton Yogyakarta yang tertuang dalam bentuk candra sengkala berbunyi "dwi naga rasa tunggal" berangka tahun 1682 Jawa. Sejarah perjuangan Pangeran Mangkubumi dalam usahanya membangun kembali praja kejawen dan budayanya hingga keberhasilannya mendirikan kraton Yogyakarta merupakan ide cerita penggarapan Langen Beksa Dwi Naga Rasa Tungggal.


Penari batak (lambang kepala) ketika dikelilingi oleh penari lain yang
terdiri dari endhel, jangga, dhadha, bunthil, apet ngajeng wingking,
dan endhel wedalan ngajeng wingking

Komposisi tari Langen Beksa Dwi Naga Rasa Tunggal masih menggunakan komposisi bedaya pada umumnya yang melambangkan perwujudan bentuk jasmani dan proses batin manusia yang merupakan kemanunggalan dalam perjalanan hidup. Formasi rakit lajur menggambarkan ujud jasmani yang terbagi menjadi: bagian kepala yang dilambangkan dengan batak, endhel, dan jangga. Bagian badan diwakili oleh dhadha, bunthil, apit ngajeng wingking, dan endhel wedalan ngajeng wingking. Perubahan posisi dan pergolakan yang diperlihatkan oleh penari endhel dan batak merupakan gambaran ketidaksesuaian antara kehendak dan pikiran yang sering terjadi dalam kehidupan. Keluar masuknya "apit" ke dalam lajur pada dasarnya melambangkan ketidakstabilan suasana batin manusia. Tujuan akhirnya adalah kembali bersatu dalam wujud manusia yang sempurna.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Langen Beksa Dwi Naga Rasa Tunggal merupakan salah satu wujud pengembangan budaya tradisi yang diharapkan mampu mewakili hadirnya suatu inovasi budaya yang sanggup menunjang aset negara.


Penari siap memasuki area pentas


Salah satu motif gerak tari gaya Yogyakarta

A. Melati Listyorini