Majalah

 

Profil Marwoto:
Dari Pemain ketoprak menjadi pelawak

Lahir di Yogyakarta pada tanggal 21 Oktober 1952. Setelah lulus SMEP di Gowongan, ia kemudian memutuskan untuk mengabdi pada ketoprak tobongan. Karena ia menyadari hanya jebolan Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (setingkat SLTA) itu untuk mencari pekerjaan sangat sulit. Ahkirnya ia mengikuti grup ketoprak walau hanya sekedar sebagai pemain tambahan. Awal ia terjun kedunia ketoprak pada tahun 1979, dengan honor hanya sekitar 10 rupiah. Walau hanya keciltetapi saat itu ia sangat senang, karena pada waktu itu dia masih bujangan.

Marwoto memang dibesarkan oleh dunia kesenian, ia sebagai anak panggung dari grup ketoprak tobong (grup ketoprak yang mendirikan barak ditengah-tengah lapangan desa atau alun-alaun). Tiga puluh tiga tahun menjadi anak panggung, khususnya ketoprak memang telah membentuk pribadi Marwoto sebagai seniman tradisi yang mumpuni, serba bisa, dan sarat pengalaman hidup. Ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi , karena itu dia seperti menjadi seorang avonturir dalam dunia ketoprak. Ia berkelana dari ketoprak tobong satu ke tobong yang lain. Grup ketoprak mana pun yang ada di Jawa pernah Marwoto ikuti. Sampai-sampai oleh para teman sesama pemain ketoprak ia memperoleh julukan pemain inggatan (pindaah-pindah grup ketoprak). Walaupun ia memperoleh julukan inggatan, tetapi minggatnya (pindahnya) bukan karena masalah honor, hanya karena ia ingin memperoleh pengalaman dan mengetahui seluk beluk dari setiap grup ketoprak yang ia ikuti. Dengan berbekal pengalaman tadi,karena itulah maka Marwoto belajar berbagai gaya ketoprak, entah itu Jawa-Timuran, Pesisiran, ataupun ketoprak gaya Mataraman.

Marwoto pertama kali terjun kedunia ketoprak pada tahun 1969 setelah gagal sekolah karena kesulitan biaya. Pada waktu itu ia tinggal bersama adiknya di Yogyakarta. Ayahnya, Sujadi Cokroatmodjo, dan ibunya sebagai pemain ketoprak tobong pergi keliling dari kota ke kota, jarang sekali pulang ke Yogya. Pada saat itu uang kiriman dari orang tua selalu seret. Marwoto ahkirnya memutuskan keluar dari sekolah dan mencari pekerjaan. 'Kerja tanpa ijasah itu berarti main ketoprak, kata Marwoto yang jebol dari SMEP.

Ia memulai kariernya benar-benar dari nol. Modalnya hanya rajin, menuruti semua perintah pimpinan ketoprak. Awalnya disuruh mencari daun-daun untuk penghias panggung, membuka dan menutup layar dan pada malam hari muncul menjadi bala dupakan (tokoh pelengkap dalam suatu adegan). Semakin hari pemikiran Marwoto semakin terbuka. Dia belajar juga teknik lampu dan dekorasi panggung. Marwoto juga belajar teknik penyutradaraan dengan cara mengamati. Dalam teknik perang ketoprak Marwoto juga belajar silat di berbagai tempat, sampai-sampai pernah menjadi pelatih salto dalam adegan perang. sejak saat itu ia pergi ke grup-grup ketoprak dimanapun hanya untuk melatih salto.

Setelah lama malang melintang dalam ketoprak tobong, maka pada tahun 1980 Marwoto kembali ke Yogyakarta. Ia tidak mau tinggal di Jakarta, Sumpek gitu lho! Menurutnya di Jakarta itu, tadinya teman bisa menjadi lawan karena hanya perbedaan orientasi bisnis. Sementara ia masih ingin mancing bersama teman-temannya atau duduk di pasar burung (Ngasem) ngobrol dengan para pedagang burung. Hal itu menjadi hobinya sejak kecil. Keadaan tersebut tidak pernah ia temukan jika ia tinggal di Jakarta. Menurutnya jika ia pegang uang 500 ribu tetapi di Jakarta, dengan pegang uang 200 ribu tapi di Yogya, ia tetap memilih tinggal di Yogyakarta.

Sejak saat itu Marwoto mulai merintis dunia lawak gaya mataraman. Dunia lawak ternyata semakin mengangkat nama Marwoto sebagai seniman tradisi. Ia sukses dalam dunia lawak bersama Yati pesek dan almarhum Daryadi. Bersama Didik Nini Towok, penari serba bisa, Marwoto sempat menggegerkan dunia ketoprak ketika pada tahun 1996 muncul dengan ketoprak plesetan (ketoprak yang lebih mengarah pada humor dengan memplesetkan dialog ataupun lakonnya). Grup lawak Marwoto, Yati Pesek, dan Daryadi benar-benar sangat laris, bukan hanya untuk wilayah DIY tetapi sampai kekota-kota lainnya di Jawa. Marwoto agak kehilangan pasar ketika Daryadi meninggal.

Marwoto sekarang justru menjadi pelawak tunggal yang bisa diambil sana-sini. Ia rutin menjadi pelawak dalam Ketoprak Humor di RCTI. Jika tidak sedang dalam pengambilan gambar ketoprak humor ia sering diajak pelawak lain untuk manggung, misalnya seperti Tarzan, Nurbuat, Timbul ataupun Topan. "Melawak itu kelihatannya senangnya guyon, tetapi penyakitnya bisa lever, jantung, katanya . Sebab melawak itu kalau gagal dan tidak lucu akan disoraki oleh penonton. Marwoto sekarang menjadi pelawak yang sudah terkenal, tetapi ia tidak pernah melupakan akan dunia panggung tradisional yang telah membuatnya terkenal seperti sekarang ini, yaitu dunia ketoprak.

Marwoto memiliki prinsip hidup yang dipertahankan sampai kini yaitu: yang besok, sudah harus dipikirkan sekarang, Itulah yang membuat dirinya harus bekerja mati-matian. Prinsipnya ia tidak ingin nasibnya seperti seniman-seniman yang waktu jayanya kaya raya tetapi kemudian saat tidak dipakai ahkirnya menjadi kere.!!!!!

Didit P Daladi