Majalah

 

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu

Sastra Jendra mengandung makna ajaran atau pengetahuan suci yang bertujuan untuk 'meruat' atau menghindarkan seseorang dari pengaruh, watak dan sifat buruk, kotor (dosa) yang merugikan diri sendiri dan orang lain (Pangruwating Diyu). Dengan demikian keberhasilan setiap pribadi dalam merefleksikan menghayati ajaran ini merupakan sumbangan kolektif yang berharga untuk menciptakan menjaga kedamaian dan ketentraman dunia (Hayuningrat)

Dalam tradisi sastra Jawa Kuna istilah sastra jendra mulai dikenal dalam teks Uttarakanda Jawa Kuna hasil gubahaan dari teks Uttarakanda Sansekerta pada akhir abad X Masehi. Teks tersebut memuat kisah Ravanotpatti, kelahiran Ravana. Isinya tentang keinginan Sumali untuk mengawinkan putrinya yang berwajah raseksi bernama Kaikasi dengan Visrava, dengan harapan supaya ia memperoleh keturunan yang menyerupai Vaisravana, seorang dewa cemerlang. Pada jaman Majapahit tahun 1379 M kisah Ravanotpatti ini digubah kembali oleh Mpu Tantular menjadi Kakavin Arjunavijaya. Di dalam Kakavin ini diceritakan bahwa bermula dari sapaan Visrava kepada putri Sumali .ibunku san ahayu , wajah Kaikasi diubah menjadi seorang Devi. Oleh Mpu Tantular sapaan Visrava dijadikan titik pangkal memberi atribut Kaikasi sebagai san stry ahajon

Pada masa kapujanggan Surakarta san stry ahajon mengalami tranformasi menjadi sastra hajen. Dalam Arjuna Sasrabahu gubahan Yasadipura I dijumpai istilah-istilah sastra harjendra, sastra harjengrat, sastra cetha. Sedangkan dalam gubahan Yasadipura II terdapat istilah-istilah sastra harjendra, sastra harjengrat, sastra cetha linuhung maharjengrat, sastra cetha purwakaning dumadi, dadining wekasan. Di dalam serat Arjuna Sasra gubahan Sindu Sastra didapatkan istilah-istilah mengenai sastra jendra yaitu; sastra jendra hayuningrat, pangruwating barang sakalir, sastra jendra hayuning bumi, sastra jendra wadiningrat, sastra jendra yuning rat, pangrusaking diyu, sastra cetha harjendra hayuning bumi. Dengan istilah-istilah tersebut Sindusastra memperluas episode Ravanotpatti dengan memasukan ajaran suci.. Disebutkan bahwa Sumali merasa tidak beruntung karena ia hanya mempunyai seorang anak, yang tidak banyak memahami ajaran suci; dan lebih-lebih hanya seorang perempuan. Ia akan bernasib baik, apabila berputra seperti Visravana yang pandai, tampan dan mahir dalam kavi. Harapan Sumali dapat tercapai jika anak putrinya yang bernama Kaikasi mampu menyerap ajaran suci sastra jendra dan satu-satunya tokoh yang dapat mengajarkan sastra jendra adalah resi Visrava.

San stry ahajon, sebutan untuk Kaikasi setelah ia dirubah dari raseksi menjadi Devi bergeser menjadi sastra hajen, sastra harjendra, sastra harjengrat, sastra jendra hayuningrat digarisbawahi oleh Sindu Sastra merupakan ajaran suci atau mantra sakti yang dipergunakan oleh Visrava untuk meruwat Kaikesi. Tidak ditemukan secara jelas tulisan yang menerangkan ajaran sastra jendra maupun kata-kata yang dikemas sebagai mantra sakti. Namun dapat ditangkap bahwa ajaran sastra jendra merupakan ajaran suci yang dapat dijadikan panduan untuk merubah sebuah kehidupan mengarah kepada kebaikan dan kesempurnaan. Proses perubahan tersebut memerlukan beberapa syarat antara lain; kesiapan batin, keterbukaan hati dan pertobatan.

Dalam tradisi sastra Pedalangan Jawa, Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu diangkat sebagai lakon dalam cerita Ramayana. Dikisahkan, Prabu Sumali raja berwajah raksasa dari negara Alengka mempunyai putri yang cantik namaya Dewi Sukeksi. Sang Dewi membuka sayembara bagi siapa saja yang dapat mengajarkan sastra jendra akan dijadikan suami. Satu-satunya tokoh yang dapat mengajarkan sastra jendra adalah Begawan Wisrawa. Kebetulan Danapati raja Lokapala anak Wisrawa jatuh cinta kepada Dewi Sukesi dan berniat mengikuti sayembara. Maka berangkatlah Begawan Wisrawa mewakili anaknya ke Alengka. Setibanya di Alengka, Wisrawa mengajarkan sastra jendra kepada Sumali. Dengan kesiapan batin dan sikap tobat yang sungguh-sungguh, ajaran sastra jendra berhasil merubah Sumali dari rasaksa menjadi satria. Namun ketika Wisrawa membisikan mantra sakti sastra jendra kepada Dewi Sukeksi, sastra jendra gagal diserap dan dihayati. Akibatnya fatal, ada gelombang asmara yang melanda mereka berdua. Sukeksi bersikeras untuk melayani Wisrawa sebagai suami dan Wisrawa lupa bahwa ia adalah utusan anaknya untuk melamarkan Sukeksi.

Episode Ravanotpatti, kelahiran Ravana dalam sastra pedalangan lebih menitikberatkan kepada akibat yang ditimbulkan ketika Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu gagal direfleksikan oleh Visrava (Wisrawa) kepada Kaikesi (Dewi Sukeksi), sehingga lahirlah Rahwana sebagai raja maha jahat yang menguasai dan merusak bumi.

herjaka