| Keraton Yogyakarta
KERETA
PUSAKA KERATON YOGYAKARTA
Bukti keberadaan
alat angkut pada masa pra sejarah di Indonesia belum pernah ditemukan.
Keberadaan roda diduga muncul pada masa bercocok tanam. Munculnya
roda diduga berkaitan erat dengan digunakannnya alat roda di dalam
produksi alat-alat yang terbuat dari tanah liat (gerabah). Pada
masa bercocok tanam ini manusia telah menunjukkan tanda-tanda hidup
menetap. Pada masa seperti itu manusia telah pula mengembangkan
penghidupan baru berupa budidaya tanaman dalam tingkat sederhana
dan penjinakan binatang-binatang tertentu untuk dipelihara. Hal
semacam ini juga menimbulkan dugaan bahwa pada masa itu telah dikenal
alat angkut yang telah menggunakan roda dan ditarik oleh binatang
(kerbau, sapi, atau kuda).
Pada zaman Indonesia
Klasik petunjuk tentang adanya alat angkut yang menggunakan roda
dapat ditemukan dari data berupa relief candi, naskah kesusastraan,
dan berita asing. Data tentang adanya kereta angkut dapat dilihat
pad relief di beberapa candi seperti Candi Borobudur, Prambanan,
Jago, dan Penataran. Sedangkan sumber tertulis tentang adanya kereta
dapat ditemukan pada naskah kesusastraan seperti Kitab Negara Kertagama
dan berita-berita dari Cina.
Relief Candi
Borobudur yangmenggambarkan kereta antara lain terdapat pada bagian
yang menggambarkan cerita Lalitavistara (cerita tentang kehidupan
Sidharta Gautama). Gambaran tentang kereta di dalam Candi Prambanan
terdapat pada relief yang menggambarkan cerita Ramayana. Gambaran
kereta di dalam Candi Panataran terdapat dalam relief cerita Kreshnayana.
Berdasarakan
data-data tersebut diketahui bahwa kereta pada umumnya hanya digunakan
oleh masyarakat golongan atas yakni raja dan keluarganya atau para
pejabat penting suatu negara/kerajaan.
Pada masa pengaruh
Islam di Indonesia telah ada kereta-kereta yang dipesan dari luar
negeri. Kereta-kereta yang dipesan ini terutama kereta-kereta kebesaran
yang digunakan untuk acara-acara kenegaraan/kerajaan. Di Indonesia
khususnya lagi di Jawa kereta-kereta yang berasal dari luar negeri
dan juga buatan dalam negeri serta kemudian menjadi milik beberapa
kerajaan seperti Kasultanan Cirebon, Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan
Surakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Paku Alaman semuanya
terawat dengan cukup baik.
Beberapa kereta
penting di Kasultanan Cirebon di antaranya adalah:
- Kereta Paksi
Naga Liman
- Kereta Singo
Barong
Kereta-kereta
Keraton Yogyakarta berjumlah sebanyak 18 buah. Kereta-kereta tersebut
sekarang tersimpan di Museum Kereta Keraton Yogyakarta di Jl. Rotowijayan.
Kereta-kereta tersebut kemudian dianggap pusaka dan diberi nama
seperti pusaka-pusaka keraton lainnya. Nama-nama kereta tersebut
adalah:
-
Nyai Jimat
-
Kyai Garudayaksa
-
Kyai Jaladara
- Kyai Ratapralaya
-
Kyai Jetayu
-
Kyai Wimanaputra
-
Kyai Jongwiyat
-
Kyai Harsunaba
-
Bedaya Permili
- Kyai Manik
Retno
-
Kyai Kuthakaharjo
-
Kyai Kapolitin
- Kyai Kus
Gading
-
Landower
- Landower
Surabaya
- Landower
Wisman
- Kyai Puspoko
Manik
-
Kyai Mondrojuwolo
Kereta Nyai
jimat dan Kyai Garudayaksa dianggap sebagai pusaka yang penting
sehingga air bekas siraman kedua kereta tersebut dipercaya dapat
memberikan kekuatan tertentu. Kereta-kereta Keraton Yogyakarta ini
berdasarkan bentuknya dibedakan ke dalam 3 macam kelompok yaitu:
- Kereta terbuka
beroda dua (misalnya Kapolitin)
- Kereta terbuka
beroda empat (misalnya Kyai Jongwiyat, Landower, Landower Wisman,
Landower Surabaya, Kyai Manik Retno, Kyai Jetayu, Bedoyo Permili)
- Kereta tertutup
beroda empat (misalnya Nyai Jimat, Kyai Garudayaksa, Kyai Wimanaputra,
Kyai Harsunaba, Kyai Kuthakaharjo, Kyai Puspoko Manik, Kyai Kus
Gading).
Kereta jenis
ke-3 ini merupakan kendaraan untuk keluarga Sultan. Kereta Kyai
Jetayu digunakan oleh putra mahkota untuk menyaksikan pacuan kuda.
Kereta Kyai Ratapralaya untuk membawa jenazah Sultan dan juga putra-putri
Sultan. Kereta-kereta seperti: Landower, Landower Surabaya, Landower
Wisman adalah kereta untuk para pengawal sultan.
Kereta Bedoyo
Permili digunakan untuk membawa rombongan penari keraton atau abdi
dalem. Kereta Kyai Jaladara dan Kyai Manik retno digunakan oleh
Sultan untuk keperluan inspeksi ke luar kota. Kereta Kyai Jongwiyat
digunakan oleh komandan prajurit keraton. Kereta kapolitin untuk
kendaraan rekreasi Sultan.
Menurut dugaan
sementara kereta-kereta milik Keraton Yogyakarta ini merupakan kereta
yang bertipe Eropa. Tipe-tipe Eropa ialah: Coupe, Phaeton, Berline,
Landau, Glaslandauer a la Daumont. Tipe Landau dan Glaslandauer
ala Daumont merupakan kereta yang bagian atapnya dapat dibuka dan
ditutup serta beroda empat. Tipe Vis-a-Vis merupakan kereta yang
tidak mempunyai atap dan beroda empat. Tipe Phaeton merupakan kereta
terbuka yang beroda empat. Tipe Curricle termasuk kereta terbuka,
tetapi beroda dua.
Dari 18 kereta
Keraton Yogyakarta, 13 kereta diketahui nama asal pembuatnya sedang
yang lainnya tidak diketahui nama asal pembuatnya. Di antara 13
kereta, 7 kereta berasal Belanda dan Jerman dan 6 kereta berasal
dari Semarang dan Yogyakarta. Nama-nama tersebut tertera pada tutup
as roda.
Kereta tertua
di Keraton Yogyakarta adalah Nyai Jimat 2 pendapat tentangnya:
- Berasal
dari Belanda
- Berasal
dari Inggris
Pendapat yang
menyatakan bahwa kereta tersebut dari Belanda menerangkan bahwa
kereta tersebut merupakan hadiah dari Gubernur Jendral Jacob Mossel
(1750-1761). Hadiah tersebut diberikan kepada Sultan Hamengku Buwana
I dan digunakan sampai dengan Sultan Hamengku Buwana III.
Pendapat yang
kedua menyatakan bahwa Nyai Jimat adalah hadiah dari pemerintah
Inggris (1811-1816) kepada Sultan Hamengku Buwana III. Kereta tersebut
digunakan sampai dengan masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana
V.
Kereta Kyai
Mondrojuwolo adalah kereta yang berasal dari sekitar tahun 1820
dan dibuat di Jawa. Kereta ini berasal dari masa pemerintahan Sultan
Hamengku Buwana III. Menurut tradisi keraton kereta Kyai Mondrojuwolo
ini merupakan kendaraan Pangeran Diponegoro. Kyai Manik Retno dan
Kyai Jaladara berasal dari masa Sultan Hamengku Buwana IV.
Pada masa pemerintahan
Sultan Hamengku Buwana VI dipesan tiga buah kereta:
-
Kyai Harsunaba
-
Kyai Garudayaksa
-
Kyai Wimanaputra
Kereta Kyai
Wimanaputra dan Kyai Harsunaba dibuat di pabrik G. Barendse,
Semarang. Kyai Garudayaksa dipesan pada tahun 1867 di pabrik Hermans
en Co, Belanda. Pembuatannya selesai tahun 1869 dan selama 75 tahun
menjadi kereta resmi atau kereta kebesaran Keraton Yogyakarta. Pada
masa Sultan Hamengku Buwana VII kereta ini pernah dipugar dan pemugaran
lagi dilakukan pada masa Sultan Hamengku Buwana IX.
Kyai Jongwiyat
dan Kapolitin berasal dari masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana
VII. Kyai Jongwiyat dibuat di pabrik kereta M.L.Hermans en Co, Den
Haag. Kyai Jongwiyat pernah mengalami pemugaran sebanyak tiga kali.
Pertama kali oleh KGPA Mangkubumi, adik Sultan Hamengku Buwana VII.
Kedua, oleh BRM Raisulngalkari, sedangkan ketiga kalinya oleh BRM
Hardjuno Darpito. Kereta Kyai Kapolitin tidak diketahui nama pembuatnya.
Pada masa pemerintah
Sultan Hamengku Buwana VIII diketahui ada 9 buah kereta. Kereta
Kyai Puspoko Manik dan Bedoyo Permili adalah buatan pabrik kereta
G.Barendse, Semarang. Kereta Kyai Jetayu dan Kyai Ratapralaya dibuat
di Rotowijayan, Yogyakarta. Menurut sejarahnya tidak lama setelah
kereta selesai dibuat, Sultan Hamengku Buwana VIII wafat pada tahun
1938.
Kereta
Landauer dan Landauer Wisman adalah kereta-kereta yang dibuat oleh
Spyker, Belanda. Landauer Surabaya, Kyai Gus Gading, dan Kyai Kuthakaharjo
masing-masing dibuat oleh Herman's Hage Belanda, Henrich & Veth
Belanda dan Ed. Kuhlstein Berlin.

kereta jenasah
Wardhana,
Wisnu, 1990, Kereta-Kereta Kraton Yogyakarta: Analisisi Bentuk
dan Teknologi Pembuatannya, Skripsi Sarjana, Jurusan Arkeologi,
Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. |