|
Djogdja Tempo Doeloe
- Peresmian Museum Sana Budaya, 6 Nopember 1939
Salah
satu Muesum di Yogyakarta, dari sejumlah museum yang ada adalah
Museum Sana Buadaya. Museum ini dikenal dengan sebutan "museum
Sana Budaya Alun-alun utara", karena letaknya memang di sebelah
utara alun-alun utara. Mesum ini diresmikan berdirinya oleh Sultan
Hamengku Buwana VIII pada 6 Nopember 1939. Sejak diresmikan hingga
hari ini, Museum Sana Budaya masih terletak di tempat semula. Biasanya,
orang yang data ke Yogyakarta dan mengunjungi Kraton Yogyakarta
bisa sekaligus melihat Museum Sana Budaya, apalagi letak museum
dengan Kraton hanya sekitar 200 Km. Bahkan, ketika orang berjalan
ke Alun-alun utara tinggal menyebrang jalan menuju Museum Sana Budaya.
Sultan
Hamengku Buwono VIII adalah pelindung Museum Sana Budaya. Beliau
juga menghadiahkan tanah bangunan museum yang terletak di alun-alun
utara.
Dewan
pengurus harian mueseum terdiri atas: Ketua, P.H. Hadinegara, wakil
ketua J.L. Moens, Sekretaris merangkap bendahara,S.Koperberg. Gedung
Museum ini dirancang menurut gaya jawa oleh Ir.Thomas Karsten di
Semarang dan kemudian tahun 1939-1940 diperluas lagi dengan sebuah
pendopo di sebelah timur Museum dan sebuah sekolah kerajinan tangan.
Tujuan utama museum ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai
perkembangan sejarah kebudayaan Sunda, Jawa, Madura dan Bali.
Dari
setiap daerah dikumpulkan benda-benda budaya, antara lain mengenai
wayang, alat musik, pakaian, ukiran dan pa saja yang berkait dengan
kehidupan kemasyarakatan dan keagamaan masyarakat Bali, Jawa dan
Madura.
Sejak
awal berdirinya, bahkan sejak sebelum diresmikan, di mueseum ini
diselenggarakan kegiatan kebudayaan, seperti misalnya tahun 1936
pernah didakan pameran hasil karya batik, emas, perak, lukisan dan
ukiran. Hingga sekarang, di Mueseum Sana Budaya sering diselenggarakan
kegiatan kebudayaan.

Bahan
dan foto diambil dari Java-Institut Dalam Foto.
|