|
Djogdja Tempo Doeloe
- PIJAT ALA JAWA DI JOGJA TEMPO DOELOE
Teknik pemijatan untuk
melemaskan, menetralkan, dan menyembuhkan berbagai keluhan yang
bersangkutan dengan otot atau urat telah dikenal manusia sejak entah
kapan. Pada berbagai masyarakat di berbagai belahan dunia hal itu
bahkan dikenal sejak jauh sebelum tahun Masehi. Kita bisa melihat
hal itu pada berbagai kebudayaan masyarakat kuno seperti Mesir,
Yunani, Romawi, Cina, Jepang, India, Mesopotamia, dan sebagainya.

Di Jawa pun kita mengenal
apa yang disebut teknik pemijatan. Masyarakat Jawa tidak asing lagi
dengan sebutan atau istilah didadah atau didadahke. Kedua istilah
ini mengacu pada pengertian pemijatan untuk bayi atau kanak-kanak.
Bahkan pada masa lalu orang Jawa secara berkala mendatangi dukun
pijat untuk memijatkan anak atau bayinya. Hal itu dilakukan untuk
membuat otot-otot bayi menjadi rileks atau lemas. Dengan demikian,
kesehatan dan pertumbuhan bayi atau kanak-kanak tersbeut menjadi
lebih baik.
Dukun bayi yang ahli dalam
soal pijat-memijat bayi umumnya juga cukup ahli untuk memijat orang
dewasa. Di samping menguasai teknik memijat umumnya dukun-dukun bayi
di Jawa juga mempunyai pengetahuan lain misalnya pengetahuan meramu
jamu atau obat. Pengetahuan tentang berbagai mantra yang difungsikan
untuk kesehatan atau penyembuhan, pengusiran sawan atau makhluk
halus yang suka mengganggu bayi atau kanak-kanak.
Pemijatan umumnya memang
ditujukan untuk penyembuhan. Minimal memberi efek lega atau rileks
bagi yang dipijat. Tidak mengherankan jika di berbagai desa di Jawa
maupun di tempat lain banyak orang yang memberikan atau menawarkan
jasa pemijatan. Kecuali itu banyak pula orang yang membutuhkan
pelayanan jasa pijat untuk kesehatannya.
Pemijatan untuk penyembuhan
ataupun sekadar untuk santai-santai melepas lelah juga banyak
disukai di berbagai belahan dunia termasuk di Jawa. Pada masa lalu
orang sering mengundang tukang pijat untuk ke rumah untuk berbagai
keperluan yang menyangkut berbagai keluhan pada otot-ototnya.
Pijat dan petan ‘mencari
kutu’ bagi masyarakat Jawa merupakan dua kegiatan yang banyak
disukai. Bagi ibu-ibu atau kaum perempuan yang tidak lagi punya
pekerjaan, acara pijat dan mencari kutu merupakan acara yang sangat
menyenangkan. Di samping mereka bisa melakukan relaksasi, mereka
juga dapat ngerumpi, ngobrol tentang berbagai hal.
Berikut ini ditampilkan
suasana pijat yang dilakukan wanita Jawa (Jogja). Tampak bahwa
wanita yang dipijat menikmati pemijatan yang dilakukan oleh seorang
ibu pemijat di belakangnya. Pakaian yang dikenakan keduanya
menunjukkan ketradisionalan pakaian wanita Jawa di masa lalu.
Sumber: Europese
Bibliotheek, 1970, De Javaansche Vorstenlanden in Oude Ansichten,
|