Djogdja Tempo Doeloe - KUDA DI ZAMAN PERANG DIPONEGORO (1825-1830)

Tampaknya binatang kuda menjadi salah satu binatang yang sangat dekat dengan kehidupan manusia di samping sapi, kerbau, kambing, dan ayam. Saking dekatnya, orang Jawa bahkan kemudian membuat suatu rumusan-rumusan tertentu tentang kuda yang kemudian dikenal sebagai katuranggan. Katuranggan memiliki akar kata turangga yang berarti kuda. Katuranggan sendiri boleh disebut sebagai ilmu tentang kuda.

Kita tidak akan membicarakan tentang katuranggan, namun tentang nilai pentingnya binatang kuda bagi manusia ketika kendaraan bermesin belum ditemukan atau marak seperti zaman ini. Pihak Belanda yang mendapatkan perlawanan hebat dari Pangeran Diponegoro juga mengerti benar nilai pentingnya kuda dalam menghadapi perang ini. Kuda sebagai kendaraan utama di zaman itu menjadi inti dari pasukan kavaleri. Kepiawaian mengendalikan kuda dalam medan perang menjadi faktor penentu kemenangan bagi pasukan berkuda (kavaleri).

Dalam gambar berikut ditampilkan dua ekor kuda dan satu pengendara atau pemiliknya. Kuda yang berada di depan tampak lebih difungsikan sebagai pengangkut beban (alat perang). Sedang kuda yang dibelakangnya lebih berfungsi sebagai kuda tunggangan bagi prajurit.

Kuda yang lemah, tua, dan sakit-sakitan tentu saja tidak mendukung kesuksesan dalam tugas-tugas pasukan kavaleri. Oleh karena itu kuda-kuda tersebut harus mendapatkan perlakuan yang baik. Bahkan khusus. Berkaitan dengan hal itu pekathik atau tukang memelihara kuda di zaman itu memiliki peran yang penting. Orang-orang Belanda di zaman itu pun telah banyak yang mempekerjakan para pekathik itu.

Perang Jawa yang berlangsung sekitar 5 tahun (1825-1830) itu telah menelan sekian ribu nyawa, sekian harta benda, dan tentu sekian ratus atau sekian ribu ekor kuda. Tidak ada catatan tentang berapa jumlah kuda yang mati akibat perang itu. Jika hal itu ada tentu hal itu juga menarik mengingat kuda di zaman itu menjadi sarana vital bagi kelancaran operasi militer. Kuda di zaman itu sama nilainya dengan panser, tank, atau kendaraan lapis baja lainnya.

Nilai penting kuda dalam perang selain ditunjukkan dalam gambar tersebut juga dapat dilihat di Jatisarono, Nanggulan, Kulon Progo. Di wilayah itu ditemukan kuburan tokoh Belanda yang bernama Kapten Van Ingen. Van Ingen dikuburkan di tempat itu karena ia tewas dalam penyergapan yang dilakukan oleh pasukan Pangeran Diponegoro di bawah pimpinan Ali Basjah Sentot Prawirodirdjo. Kecuali kuburan Van Ingen di tempat itu juga ditemukan kuburan dari dua ekor kuda kesayangannya. Keletakan kuburannya berdampingan dengan kuburan Kapten Van Ingen sendiri. Dari sisi ini kelihatan semakin jelas bahwa kuda telah pernah berperan penting dalam kehidupan manusia. Entah itu untuk urusan transportsai yang bersifat militeristik, niaga, peternakan, pertanian, hobi, dan sebagainya.

a sartono
sumber: P.J.F. Louw, t.t., Kaarten en Teekeningen Behoorende bij De Java-Oorlog van 1825-1830.