KABAR ANYAR

MELIHAT PARANGTRITIS DARI LENSA KAMERA

MELIHAT PARANGTRITIS DARI LENSA KAMERASebelum ada jembatan yang melintasi di atas Kaliopak, orang yang akan menuju Parangtritis harus memutar melewati Siluk, melalui Imogiri. Atau, kalau tidak ingin ‘melingkar’ melalui Siluk, bisa menyebrangi sungai Opak, karena ada gethek yang akan mengangkut untuk menyebrangkan. Namun kini, setelah Jembatan Kretek dibangun, laju menuju Parangtritis tidak ada hambatan. Dari Yogya meluncur ke selatan dan melintasi jembatan, maka akan segera sampai dipintu masuk Parangtritis.

Di Bentara Budaya Yogyakarta, sejak Kamis (3/3) yang lalu, dipajang foto-foto mengenai Parangtritis. Pameran foto ini diberi tajuk ‘Pesanggrahan Parangtritis 1933-2011. Memang, foto yang ditampilkan banyak foto-foto karya terbaru, namun narasi yang menyertai memberikan kisah mengenai Parangtritis tempo dulu.

Salah soorang fotograMELIHAT PARANGTRITIS DARI LENSA KAMERAfer yang ikut dalam pameran ini, ialah Dwi Oblo, diantaranya memamerkan foto Jembatan yang melintasi di atas sungai Opak. Jembatan diambil gambarnya dari atas, sehingga panorama sekiranya bisa dilihat. Mengenai pameran ini, Oblo bercerita:

“Ide awalnya, Hermanu, pengelola Bentara Budaya Yogyakarta, mendapatkan buku mengenai Parangtritis tahun 1933. Dalam buku ini ada detil kisah mengenai Parangtritis, termasuk Pesanggrahan Parangtritis yang sekarang dipakai sebagai terminal”.

Dari foto-foto yang dipamerkan, kita bisa melihat aktivitas masyarakat yang dilakukan di Parangtritis. Ada foto-foto mengenai lomba layaMELIHAT PARANGTRITIS DARI LENSA KAMERAng-layang. Foto upacara Melasti dari agama Hindu dan pengunjung Parangtritis yang berwisata di Parangtritis, Pendek kata, banyak segi Parangtritis divisualkan oleh para fotografer dan kita bisa melihatnya.

Dalam kata lain, di Bentara Budaya Yogyakarta, orang bisa melihat Parangtritis dari balik lensa kamera. Para fotografer telah ‘meminjamkan’ matanya untuk publik dan mengkisahkan mengenai Parangtritis. Tentu saja, hasil foto mengenai Parangtritis tidak bisa mengakomodasi situasi Parangtritis yang dinamis. Setidaknya, ada foto demonstrasi warga Parangtritis yang dipamerkan bisa untuk menujukkan, bagaimana dinamika sosial Parangtritis (pernah) terjadi.MELIHAT PARANGTRITIS DARI LENSA KAMERA

Kisah foto Parangtritis lebih menekankan pada human interes, bukan difokuskan pada persoalan sosial atau kebudayaan. Karena itu, ada seorang pengunjung di cepuri Parangkusuma yang lelah dan tertidur lelap dipintu masuk Parangkusuma. Kisah-kisah kemanusian ‘dibekukan’ melalui lensa kamera

Dari segi yang lain, foto memang sekaligus ‘menyimpan’ peristiwa atau kenyataan. Foto-foto Parangtritis ini, semuanya adalah ‘kenyataan’ yang (pernah) ada, setidaknya pada saat proses foto dilakukan. Namun, kenyataan di dalam foto (telah) menjadi sejarah, karena setelah kerja fotografi selesai, akan MELIHAT PARANGTRITIS DARI LENSA KAMERAada ‘kenyataan’ lain, yang berbeda dari ‘kenyataan’ yang telah ‘dibekukan’ melalui lensa kamera.

Dalam satu peristiwa, ‘kenyataan’ yang disimpan melalui fotografi, sekaligus menunjukkan, bahwa dalam peristiwa yang terjadi, ada seseorang disitu dan seseorang itu, setidaknya mengetahui mengenai ‘kenyataan’ yang telah ‘dibekukan’ itu.

Untuk kali ini, upaya mengulangi sekaligus mereproduksi imajinasi, para fotografer di Yogya, ‘membekukan kenyataan’ Parangtritis melalui lensa kamera dan hasil dari proses ‘pembekuan’ itu dipamerkan. Memang imajinasi Paranngtritis 1933, hanyalah untuk menunjukkan, bahwa Parangtritis sudah mengalami perubahan. Jadi, Parangtritis 68 tahun yang lalu tinggal sejarah, yang ‘puing-puingnya’ masih bisa dilihat dan karya fotografi yang dipamerkan ini, bentuk lain dari ‘sejarah’ yang masih bisa ‘dibuktikan’ realitas faktualnya.

Ons Untoro