KABAR ANYAR

BARANG BEKAS DIBUANG SAYANG

BARANG BEKAS DIBUANG SAYANG

Hampir semua bentuk mainan anak ada di sana. Mulai dari mainan mobil-mobilan dan rumah-rumahan sampai orang-orangan dan binatang-binatangan. Yang tidak biasa barangkali adalah bahan yang digunakan, yakni bahan-bahan bekas yang bagi kebanyakan orang mungkin dianggap sudah tidak berguna.

Agak beda dari biasanya, pameran di galeri Tembi Rumah Budaya kali ini memajang Alat Permainan Edukatif (APE). APE ini pun tergolong tidak biasa karena dibuat dari bahan-bahan bekas, entah itu kardus, kertas, kayu, plastik, dan sebagainya. Kardus, misalnya, bekas kotak packing air mineral. Plastik, misalnya, sendok-sendok kecil yang biasanya untuk menyendok susu bubuk, gelas air mineral, sedotan, dan lain-lain. Sedangkan kayu, antara lain stick es krim dan potongan tripleks. Tajuk pameran ini ’Barang Bekas Dibuang Sayang’.

BARANG BEKAS DIBUANG SAYANG

Ini baru dari segi bahan. Belum soal bentukannya yang beragam dan imajinatif meski sederhana. Jumlah bentukannya bisa amat banyak tergantung keluasan kreativitas dan imajinasi. Taruhlah soal dunia fauna. Ada kebun binatang yang berisi aneka binatang terbuat dari kertas. Ada buku, yang terbuat dari sambungan kardus panjang yang dilipat-lipat, berkisah tentang bebek, yang digambari dengan crayon. Ada pula kardus besar berbentuk ikan paus yang berisi teks dan gambar ikan paus beserta hewan laut lainnya. Lantas ada kelinci-kelinci, yang dibuat dengan amat simpel, dari plastik berisi kain yang diikat di bagian sepertiganya membentuk kepala yang ditempelkan mata hitam dan hidung merah. Sebagian, tak diduga, tampil cantik. Seperti ular naga yang disusun dari rangkaian gelas air mineral. Begitu pula sendok susu bubuk yang diikat kain perca dan pita warna-warni yang membentuk kupu-kupu, digantung pada benang-benang yang melintang di sana-sini, menghasikan efek interior yang cantik. Hewan lainnya adalah pinguin, yang dibuat dari plastik kresek.

BARANG BEKAS DIBUANG SAYANG

Yang tak kalah menarik adalah apa yang dipamerkan tidak sekadar mainan tapi sarana pendidikan dan pengajaran. Di atas bebek dan ikan, misalnya, dipaparkan gambaran tentang pemetaan kedua jenis hewan ini. Dengan pola mapping, diuraikan tentang poin-poin ciri bebek, juga manfaat, penyakit, faktor penyebab penyakit, dan sebagainya. Uraian ini seperti sebuah hasil penggalian dari komentar-komentar anak-anak. Begitulah misalnya, salah satu ciri bebek adalah kalau berjalan megal-megol. Begitu pula ikan, dari ciri yang simpel seperti kumis ikan lele, sampai yang butuh pengamatan yang cukup jeli seperti perbedaan bentuk sisik ikan.

BARANG BEKAS DIBUANG SAYANG

Tak kalah mengasyikkan adalah upaya penjabaran dari bintang. Ada yang jadi bintang laut, ada yang menggambar rasi bintang, ada yang membuat rumah bintang, dan sebagainya. Dengan demikian, anak-anak juga berlatih klasifikasi, baik menyempit maupun melebar.

BARANG BEKAS DIBUANG SAYANG

Soal pendidikan ini, agaknya juga diajarkan sikap multikultural. Misalnya terdapat wayang-wayangan dari kardus, yang disebut sebagai wayang inklusi. Bentuknya orang dengan berbagai macam kostum, yang antara lain mencerminkan identitas kesukuan, dan mungkin gaya hidup. Diajarkan pula sikap menghargai lingkungan hidup. Ada bentukan flora, semisal pohon-pohonan dengan elemennya. Ada pula, ini menarik, mainan ular tangga raksasa. Di salah satu kotak yang bertuliskan ’menanam pohon’, misalnya, terdapat tangga naik menuju kotak yang menggambarkan dunia yang asri. Sebaliknya, kotak bertuliskan ’buang sampah sembarangan’ memelorotkan posisi ke kotak bergambar rumah-rumah yang terendam banjir.

BARANG BEKAS DIBUANG SAYANG

Pameran ini diselenggarakan oleh ECCD-RC (Early Childhood Care Development Resource Center), LSM yang bergerak di bidang pendidikan anak-anak usia dini. Berlangsung pada 22-30 November lalu, pameran ini juga diisi dengan workshop cuma-cuma mengenai membuat mainan anak dari barang bekas. Tema workshopnya berbeda-beda setiap harinya. Misalnya membuat mainan dari botol plastik, sendok plastik, koran, piring kertas, kain perca, kardus, plastik kresek, dan gelas plastik. Total pesertanya mencapai 500 orang lebih, yang berasal terutama dari sekolah-sekolah di dekat Tembi Rumah Budaya. Para peserta, khususnya para guru, tampak sangat antusias mengikuti workshop ini, yang diharapkan dapat diterapkan di sekolah mereka masing-masing.

BARANG BEKAS DIBUANG SAYANG

Barang bekas memang biasanya tidak banyak dilihat nilai manfaatnya kecuali mungkin oleh pemulung atau pemilik pool barang bekas. Malah cenderung diremehkan. Koordinator Media Kampanye ECCD-RC Herlita Jayadianti mengisahkan pengalamannya saat aktivis ECCD-RC ingin mengajarkan cara membuat APE dari barang bekas di Stadion Maguwoharjo, Sleman, tempat menginap para pengungsi bencana Gunung Merapi. Tumpukan barang bekas sebagai bahan workshop untuk hari itu yang diletakkan di Stadion mendadak raib. Usut punya usut, ternyata menjelang kedatangan Ibu Negara ke stadion itu, seluruh stadion langsung disterilkan oleh para pengawal presiden. Termasuk bahan workshop yang dikira sampah tak terpakai. Walhasil acara workshop hari itu batal, diganti esok harinya.

BARANG BEKAS DIBUANG SAYANG

barata