KABAR ANYAR

RENDAHNYA APRESIASI MASYARAKAT TERHADAP MUSEUM

Peristiwa hilangnya sebagian koleksi emas Museum Sonobudoyo Yogyakarta beberapa waktu lalu bisa menjadi cermin bahwa sebenarnya masih ada sebagian dari masyarakat Indonesia, khususnya Yogyakarta yang tidak peduli dengan keberadaan museum. Kejadian itu pula bisa menjadi gambaran bahwa sebenarnya apresiasi masyarakat terhadap museum masih rendah. Coba, jika masyarakat telah mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap benda koleksi museum, tentu tidak akan pernah terjadi pencurian koleksi museum. Masuk dalam komponen masyarakat itu adalah para pengelola museum.

Itulah kenyataannya, hingga saat ini, masih banyak anggota masyarakat yang tidak peduli, menganggap remeh dan sinis keberadaan museum. Mereka masih banyak yang beranggapan bahwa museum hanya sebagai tempat menyimpan dan merawat benda-benda rongsokan di zaman dulu dan kurang berarti bagi mereka di saat ini. Mereka kurang menyadari bahwa museum sebenarnya juga sebagai salah satu tempat alternatif untuk ilmu pendidikan.

Demikianlah setidaknya gambaran awal dari penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI dengan topik “Apresiasi Masyarakat Terhadap Museum di Provinsi DIY”. Gambaran awal tersebut disampaikan oleh tim peneliti pada acara Diskusi Kelompok yang diselenggarakan di Museum Benteng Vredeburg pada hari Jumat (13/8) yang lalu. Pada acara Diskusi Kelompok tersebut tim peneliti sengaja mengundang berbagai elemen masyarakat yang peduli terhadap museum, seperti dari pengelola museum, siswa, mahasiswa, guru, dan para jurnalis. Tujuannya untuk mencari masukan dari berbagai elemen masyarakat yang peduli terhadap museum.

Lebih lanjut ketua tim peneliti, Irna Trilestari mengatakan bahwa penelitian yang fokus pada topik “Apresiasi Masyarakat Terhadap Museum di Provinsi DIY” didasarkan pada sumber pemberitaan media massa kurun waktu 2008-2009, seperti surat kabar, televisi, radio, dan internet. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 9-13 Agustus 2010. Untuk tahap awal pengolahan data yang baru selesai dari surat kabar, seperti dari media Kompas, Kedaulatan Rakyat, harian Jogja, dan Bernas. Dari data awal tersebut diketahui bahwa pembertian media cetak terhadap museum lebih dari 100 berita. Sifat pemberitaan sebagian besar berupa informatif (88%), sementara sebagian kecil berupa persuasif atau ajakan (12%). Dari data yang sudah diolah pula, menunjukkan bahwa hanya ada 28 berita yang berisi museum mengandung pendidikan, selebihnya tidak menginformasikan museum mengandung pendidikan. Penelitian seperti ini telah dilakukan di dua tempat, yakni Provinsi Bali dan Provinsi DIY. Tahun depan, rencananya akan ada 2 lokasi lain yang akan dijadikan penelitian serupa.

Sementara tujuan dari penelitian ini menurut Ali Akbar, salah satu anggota tim peneliti dalam pengantarnya adalah untuk mengetahui kualitas dan kuantitas pemberitaan di media massa tentang museum dan untuk bahan penyusunan kebijakan revitalisasi museum. Dengan dicanangkankan Gerakan Nasional Cinta Museum (2010—2014) dan Tahun Kunjung Museum 2010, diharapkan penelitian seperti ini dapat bermanfaat untuk kemajuan museum di masa mendatang. Sehingga apresiasi masyarakat terhadap museum bisa lebih baik, tidak hanya menganggapnya sebagai tempat menyimpan rongsokan, tetapi lembaga yang terus berusaha menanamkan nilai-nilai kesejarahan, kemanusiaan, ilmu pengetahuan, dan sebagainya.

Menurut Tanti, Mahasiswa Jurusan Sejarah UGM mengatakan, bahwa pandangan masyarakat terhadap museum masih negatif, karena seperti dirinya setiap kali ke museum yang dilihat hanya monoton, tidak ada perubahan sama sekali dalam jangka waktu yang lama. Maka sebaiknya agar apresiasi masyarakat meningkat, maka perlu ada inovasi dan kreasi dari pengelola museum. Sementara menurut Maryadi, Guru SMA 1 Yogyakarta, mengatakan agar museum-museum di Yogyakarta lebih dikenal oleh masyarakat, maka harus ada kalender kegiatan yang dibuat antar museum. Dengan adanya kalender kegiatan tersebut otomatis banyak masyarakat yang berkunjung ke museum, karena kegiatan yang digelar sangat beragam, mulai dari musik, pameran, gelar budaya, dan sebagainya.

Suwandi