KABAR ANYAR

OTOBIOGRAFI KI HADI SUGITO AKAN DISUSUN

Ki Hadi Sugito dari Toyan, Wates, Kulon Progo, Propinsi DIY adalah salah satu dalah fenomenal dari Yogyakarta yang telah banyak memberikan andil dalam dunia pedalangan khususnya pedalangan gagrak Yogyakarta. Salah satu andilnya adalah pembaruannya di bidang sanggit pakeliran yang antara lain adalah menghadirkan banyolan di hampir sepanjang pertunjukan dan sepanjang adegan. Banyolan khas Ki Hadi Sugito dalam pakeliran wayang inilah yang telah menjadi daya gebrak bagi generasi muda Yogya dan sekitarnya di tahun 1980-an untuk menjadi mencintai dunia wayang kulit. Demikian salah satu terobosan Ki Hadi Sugito dalam dunia pedalangan gagrag Yogyakarta tanpa meninggalkan ciri khas gaya Yogyakartanya.

Berkaitan dengan berbagai hal yang ada dan dimiliki almarhum Ki Hadi Sugito sebagai salah satu dalang fenomenal dari Yogyakarta ini, maka Maskarja (Masyarakat Karawitan Jawa) bekerja sama dengan ISI Yogyakarta berniat menerbitkan buku tentang sosok Ki hadi Sugito. Sarasehan pendahuluan dengan para seniman dan masyarakat umum untuk menggali informasi seputar sosok pribadi dan karya almarhum Ki Hadi Sugito pun dilakukan di Pendapa Ki Panjang Mas, Jurusan Pedalangan, ISI Yogyakarta pada hari Minggu, 6 Juni 2010, jam 10.00-14.00 WIB.

Ada pun orang-orang yang hadir dalam sarasehan tersebut di antaranya Prof. Drs. Soeprapto Soedjono, MFA., Ph.D. (Rektor ISI), Prof. Dr. AM. Hermien Kusmayanti (Purek I ISI), Drs. Siswadi, M.Sn., Prof. Dr. Timbul Haryono (ketua Maskarja), Dr. ST. Sunardi (Dosen USD-pengurus Maskarja), Ki Udreka (dalang, dosen Pedalangan ISI Jogja), Bambang Sulanjari (dosen IKIP PGRI Semarang, peneliti), Slamet HS. (pakar ketoprak, Ketua Programa 4 RRI Yogyakarta), Sanyo (pengrebab Ki Hadi Sugito), Budi (pendemung Ki Hadi Sugito), Ki Purbo Asmoro (dalang kondang dari Surakarta), Johan Salim (pengurus Maskarja), Agus Herjaka (pelukis wayang, penggemar Ki Hadi Sugito).

Sarasehan dibuka dengan pemutaran film dokumenter tentang pementasan Ki Hadi Sugito. Usai itu disampaikan sambutan oleh Rektor ISI, Prof. Drs. Soeprapto Soedjono, MFA. Ph. D. Dalam sambutan tersebut Rektor ISI merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk membuat buku tentang Ki Hadi Sugito mengingat peran Ki Hadi Sugito dalam dunia pedalangan, khususnya pedalangan gagrak Yogyakarta begitu kuat. Diharapkan buku tentang Ki Hadi Sugito ini kelak dapat menjadi referensi bagi seni tradisi utamanya seni pedalangan dan karawitan.

Idealnya buku tentang Ki Hadi Sugito bisa disusun dan diterbitkan ketika Ki Hadi Sugito masih hidup. Penulisan otobiografi tidak selalu dan tidak harus menunggu sang tokoh meninggal dulu. Sekalipun ide pembuatan buku tentang Ki Hadi Sugito terlambat tidak apa-apa daripada tidak sama sekali. Niat untuk mengingat dan mendokumentasikan Ki Hadi Sugito dengan segala jasa dan prestasinya di dunia pedalangan dan karawitan itulah yang perlu dilakukan.

Bagi Prof. Timbul Haryono, penyusunan buku tentang Ki hadi Sugito ini perlu mengingat Pak Gito merupakan salah satu dalang yang begitu merakyat (disukai berbagai kalangan), prasaja, dan lucunya demikian khas. Kelucuan yang dibawakan Pak Gito juga tidak pernah menyakiti orang lain. Ia melucu, menertawakan dirinya sendiri. Tidak menyasar atau ”ndumuk” orang lain. Sarasehan yang diselenggarakan ini dimaksudkan agar semua orang yang hadir bisa bicara tentang Pak Gito sehingga dengan demikian diharapkan informasi tentang Pak Gito bisa digali sebanyak dan sedalam mungkin.

Dari Sanyo selaku pengrebab Ki hadi Sugito diperoleh keterangan bahwa ketika Pak Gito ”moncer” ia bisa mendalang selama 7 bulan tanpa henti (tiap malam pentas). Sanyo sendiri mengiringi pementasan Ki Hadi Sugito sejak 1974. Namun menurut keterangannya, Ki Hadi Sugito sudah mendalang sejak tahun 1967. Puncak kepopuleran Pak Gito terjadi pada tahun 1980-an. Ada banyak pengalaman suka dan duka selama Pak Gito mendalang. Demikian tutur Sanyo. Di antaranya Pak Gito pernah ditanggap lelembut (siluman). Untung dibayar dengan uang betulan. Pernah pula dikemplang sama panitia yang menanggap sehingga untuk ongkos pulang perhiasan sindennya diminta untuk dijual dan dijadikan uang ongkos pulang. Menurutnya Pak Gito sangat kukuh untuk tidak mencampurkan pementasan pedalangan dengan seni campursari atau lawak, atau apa pun.

Budi selaku pendemung Ki Hadi Sugito juga mempunyai kesan-kesan khusus kepada Pak Gito. Kesan tersebut di antaranya adalah bahwa jika sudah duduk di bawah blencong untuk mendalang Pak Gito demikian berwibawa. Selain itu, Pak Gito juga bisa ngemong pada para pengrawit yang apabila menabuhnya keliru malah dijadikan bahan lelucon di pakeliran. Pak Gito juga demikian perhatian sama anak buahnya sehingga hampir semua hal yang terjadi pada anak buahnya ia mengetahuinya. Hal tersebut juga sering dia angkat menjadi bahan lelucon di panggung pakeliran. Selain itu Pak Gito juga dikenal sebagai dalang yang spontan. Artinya tidak pernah menyiapkan lakon sebelumnya. Dengan demikian, ia bisa ”didadak” untuk dimintai lakon apa saja.

Purbo Asmoro selaku dalang kondang sekaligus dosen di ISI Surakarta pun menyatakan kekagumannya pada Pak Gito. Ia mencatat 5 hal yang kuat yang ada pada diri Pak Gito. Lima hal itu adalah lucu, cucuk, semu, rame, dan urip. Ia juga kagum pada keteguhan Pak Gito dalam pakeliran. Repertoar banyol Pak Gito juga demikian mengalir. Banyolan yang ditampilkan Pak Gito juga tidak pernah sama. Pembawaan pakelirannya juga kelihatan semeleh sekaligus menguasai penonton. Sekalipun ahli dalam kelucuan namun kewibaannya di panggung tidak pernah luntur.

Pak Gito juga bisa dikatakan menguasai semua unsur pakeliran. Kualitas suaranya pun ajeg. Pakelirannya bukan hanya enak dilihat/ditonton, namun juga sangat nikmat didengar. Pementasannya tidak membuat ngantuk dan membuat penonton penasaran. Selain itu, HR dari Pak Gito juga relatif terjangkau oleh hampir semua kalangan. Sekalipun demikian, pementasan Pak Gito tetap berkualitas dan tidak murahan.

Bambang Sulanjari menambahkan bahwa Pak Gito merupakan salah satu sumber lakon pedalangan gagrak Yogyakarta mengingat pedalangan gagrak Yogyakarta memang tidak memiliki sumber lakon tertulis. Selain itu pedalangan Gunung Kidul setelah populernya Pak Gito juga banyak yang berkiblat ke Pak Gito. Pak Gito juga dikenal sangat kuat dalam pengurutan kronologi (genealogi) lakon. Detail-detail lakon juga sangat diperhatikan oleh Pak Gito yang bagi dalang lain mungkin malah diabaikan.

Apa yang diungkapkan dalam sarasehan ini menjadi bukti bahwa Pak Gito adalah dalang yang memiliki ciri khas. Hal demikian menjadi bahan untuk melanjutkan atau mengangkat sosok Ki Hadi Sugito. Karya dan sosok Ki Hadi Sugito memang pantas dilacak, direkam, diteliti, dan disebarluaskan.

a. sartono