KABAR ANYAR

PAMERAN ANANG ASMARA DI JOGJA GALLERY

Pada 20 Juni-5 Juli, perupa Anang Asmara (35 tahun) memajang karyanya di Jogja Gallery dalam pameran tunggal ’Decorate the Area’. Lukisan-lukisannya mengedepankan batik dalam sosok manusia dan konteks kehidupan. Dengan gaya hiperealis, ia mampu menghadirkan batik hingga ke detilnya.

Dalam pengantarnya, kurator Mikke Susanto mengatakan, terdapat dua hal besar menyangkut karya-karyanya dalam pameran ini. Pertama, perihal ”kegilaan”-nya pada unsur-unsur formal seni rupa sebagai bagian dari tujuan mendokumentasi batik. Kedua, mengolah peran manusia sebagai bagian dalam memaknai zaman. Jadi bila disimpulkan, Anang tengah mendedikasikan hidupnya untuk memaknai kehidupan yang tengah bergerak, dengan cara mendokumentasi hasil budaya komunitasnya. Singkat kata, kata Mikke, kanvas-kanvasnya memperlihatkan Anang tengah ”mendekorasi” zaman.

Batik sendiri, menurut Mikke, adalah seni lukis dekoratif yang kaya nilai-nilai filosofis tentang kehidupan dari berbagai tempat dimana ia dikembangkan. Jawa misalnya, adalah sebuah kawasan yang menjadi ruang percampuran beraneka ragam budaya. Jawa adalah sintesis dari kebudayaan India dan Cina melalui jalan religi. Oleh karenanya ia menyimpan makna dan pola hiasnya merupakan tanda budaya yang khas. Inilah, kata Mikke, sejumput esensi: batik bukanlah pola hias yang ”kosong” tak bermakna.

Mikke menilai, karya-karya Anang yang termasuk dalam subkurasi ini adalah karya-karya yang secara visual hanya melukis pola hias batik. Dengan memakai teknik akuarel, ia melukis dengan sangat detail pola hias yang ada dalam berbagai kain batik yang ia foto dari jarik (kain) koleksi tetangga-tetangganya. Sejumlah 25 karya dengan ukuran yang hampir sama (40x40cm) seperti pada karya seri ’Pola Hias’ adalah wujud integrasinya terhadap kekayaan yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Sedang pada karya bertajuk ’Parangrusak’, Anang menawarkan keahliannya yang sangat kuat dan akurat itu untuk memperlihatkan kemampuan teknik sekaligus sebagai upaya pencatatan atas keberadaan batik tulis bermotif Parangrusak. Bisa dikatakan bahwa lukisan seri ’Pola Hias’ dan ’Parangrusak’ ini adalah wujud ”kegilaan” Anang pada elemen formal berupa garis, warna, komposisi dan de-stilisasi tumbuhan dan binatang yang telah dibuat dalam seni batik.

Menurut Mikke, Anang sedang mendokumentasi motif batik di tengah gempuran motif-motif yang bersifat universal yang ”kosong”. Ia mencoba memindahkan ragam visual, ragam nilai, ragam pesona dan ragam makna pola hias batik dari lembar populis ke dalam seni yang dianggap lebih eksklusif. Dengan cara ini, Anang berupaya mengangkat dan membeberkan eksistensi artistik dan nilai filosofis yang biasanya diolah dalam seni terap (pakaian, tas, asesoris, alat musik, dan lain-lain) ke dalam sebidang lembar yang dinilai lebih murni: lukisan.

Karenanya, kata Mikke, dengan berpindahnya batik sebagai subject matter dalam lukisan, maka batik tidak saja berfungsi sebagai bentuk yang berisi pola hias yang cantik semata, namun juga memiliki khasanah yang lain. Lukisan-lukisan berupa pola hias batik yang dibuatnya tersebut tidak saja berfungsi mendokumentasi garis, warna, komposisi dan motif batik, tetapi secara tidak langsung juga mencatat ”sejarah ingatan” pola hias yang terjadi pada setiap motif. Misalnya, batik logo Korpri yang didesain oleh Aming Prayitno, salah satu dosen Anang Asmara di ISI Yogyakarta.

Dalam subkurasi yang lain, menurut Mikke, Anang memperlihatkan penggunaan batik yag dipadu dengan drama, masalah dan fenomena kehidupan sosial. Lukisan-lukisannya menggambarkan figur-figur yang dibalut oleh pakaian batik. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan sebagian kecil adalah berfigur laki-laki. Anang menempatkan perempuan sebagai tokoh sentral dalam drama lukisan-lukisannya.

Mikke menjelaskan, secara teknis Anang mendapat objek-objeknya dari memotret. Ia memotret kehidupan sehari-hari salah satunya dengan pergi ke pasar tradisional maupun di kampung sekitar tempat tinggalnya. Meskipun objeknya adalah hasil memotret, namun sosok-sosok yang ada dalam karya-karyanya kemudian menjadi fiksi. Ia mengolah ulang figur dalam kanvasnya. Anang tidak saja mengolah wajah, kulit atau tubuh secara umum, tetapi ia juga mengolah peran dalam karya lukisnya tersebut.

Meski demikian, menurut Mikke, dalam subkurasi ini terdapat lukisan-lukisan ”pengecualian”. Meskipun bukan berobjek perempuan, namun karya-karya ini masih tergolong dalam subkurasi mengenai pemaknaan peran. Walaupun hanya sedikit, karya-karya ini penting sebagi tanda bahwa Anang masih mencatat fenomena dan potret laki-laki dengan aktivitas budaya. Seperti pada karya ‘Amemetri Budoyo Adi’ dan ‘Manunggaling Kawulo Gusti’ dan ‘The Symphony of Soul's Rhythm’. Artinya, tandas Mikke, persoalan dalam karya ini tidak diletakkan siapa yang digambar, akan tetapi lebih mengetengahkan isu kebudayaan yang lebih besar: kraton dan kepercayaan religi di tanah Jawa.

Secara umum, kata Mikke, subkurasi kedua ini menyuguhkan komposisi dan visualisasi yang direpresentasikan secara naratif. Sosok perempuan maupun laki-laki menjadi media untuk menyampaikan persoalan sosial sekaligus sebagai bentuk kekaguman Anang terhadap batik. Jika memperhatikan lukisan-lukisan yang termasuk dalam sub-kurasi kedua ini, kemampuan teknik memindah pola hias juga terlihat sama kuatnya dengan karya-karya pada subkurasi pertama.

Secara artistik, Mikke menjelaskan, dengan menggunakan keterampilan manualnya, Anang berhasil mengatasi gempuran pemakaian teknologi canggih dalam seni lukis. Ia tetap tekun “membatik” secara langsung dengan tangannya sendiri dalam waktu yang realtif singkat, menariknya justru dengan teknik akuarel yang notabene sekali gores langsung jadi alias tidak boleh salah langkah sedikit pun.

Mikke menyimpulkan, dari apa yang telah dilakukannya dalam pameran ini kita dapat di mengakumulasi berbagai tafsir yang menarik. Hadirnya batik dalam lukisan menandai bahwa seni rupa kontemporer Indonesia dewasa ini juga diwarnai dengan tema-tema tentang isu-isu lokal. Posisi Anang, tegas Mikke, menjadi penting karena ia turut membangun kesadaran untuk merespon berbagai fenomena yang sangat mungkin hilang tergilas zaman.

a. barata