KABAR ANYAR

'MY FAVOURITE SINS' IMAM DAN LUGAS

Dua perupa muda Imam Santoso (23 tahun) dan Lugas Syllabus (22 tahun) memamerkan karya mereka di Tembi Contemporary, 17 November - 5 Desember, dalam tajuk ‘My Favourite Sins’. Sesuai dengan judulnya yang “miring”, karya-karya kedua mahasiswa ISI Yogyakarta ini tampil sarkastis dan satiris.

Wartawan Michael Vatikiotis —yang biasa menulis soal ekonomi politik— memberikan pengantar pameran. Tulisnya, “Dari sudut pandang generasi usia dua puluhan, dunia ini adalah campur aduk edan tempat berkuasanya paradoks buruk dan keegoisan tanpa pandang bulu. Jangan tertipu oleh nuansa lembut warna akrilik dan citraan plastik, sebab dalam adegan manis gula-gula ini tersimpan protes lirih dan rintihan minta tolong dalam sebuah era yang dibanjiri stimulasi media tetapi gersang akan jawaban.”

Lugas, menurut Vatikiotis, sigap menertawakan sisi serius karyanya. Energi kreatifnya begitu meluap-luap. Torso-torso panjang dan lentur mengambang di sekeliling adegan-adegan rumit yang ia ciptakan di atas kanvas dengan nuansa absurd yang mengingatkan pada jam meleleh karya Salvador Dali.

Bagi Vatikiotis, Lugas menikmati jalan cerita kompleks yang ditimbulkan oleh karyanya. Misalnya, figur-figur mini yang mengganggu pemandangan dengan cara mengacaukan tema utama, bagaikan detil halus dalam sebuah lukisan Breughel: dunia yang semrawut terabadikan. Lugas, kata Vatikiotis, bermain-main dalam kanvas-kanvas besar menggunakan warna-warna dan garis tegas yang menangkap gerakan seperti serial kartun TV.

Sedangkan Imam, menurut Vatikiotis, menggunakan gambar-gambar yang lebih serius dan seringkali diulang untuk menyampaikan nuansa mendalam penderitaan manusia. Dengan latar belakang pendidikan desain grafis, gambar-gambar Imam nampak seperti ruang khayalan dari kain-kain berpola, tetapi pesan yang disampaikan sangat jelas: "Mengapa ada bangunan sebesar ini di ladangku?" Atau, "Maaf, hanya yang ber-uang yang boleh duduk."

Dalam penilaian Vatikiotis, kedua seniman ini terpengaruh latar belakang kebeliaan mereka dalam budaya pop modern, tapi tidak seperti seniman-seniman Yogya yang menggunakan citraan populer, Lugas dan Imam masih bergulat dengan makna-makna. Sedangkan pelukis yang lebih terkenal seperti Agus Suwage dan Eko Nugroho menyertakan humor dan semacam kepasrahan dalam tablo-tablo mereka yang dieksekusi dengan baik, sementara pada Imam dan Lugas sesuatu yang lebih tajam, yang belum tertaklukkan. Hal ini, menurut Vatikiotis, menghasilkan pengalaman menonton yang lebih dramatis. Bagi Lugas, dunia dihuni oleh individual egois dan ia menggambarkan mereka sebagai stereotip yang familier. Bagi Imam, manusia terjebak dalam dunia objek yang tetap, baik fisik maupun metafisik. Sebuah kursi yang terlalu tinggi untuk diduduki menyimbolkan ketakberdayaan manusia; seorang pria bersantai dalam bak yang sesuai dengan bentuk tubuhnya menyiratkan keegoisan yang luar biasa.

Vatikiotis tidak keliru. Lukisan Imam terasa kental dengan kepongahan materialisme. Sebagian direpresentasikan lewat bangunan besar –yang dikontraskannya dengan alam. ’Sliding house’ adalah sebuah rumah tingkat beroda yang menggelinding menembus barisan pepohonan. Uap hitamnya mengepul dari atap laiknya lokomotif. ’Mencoba menukar dengan koper’ menampilkan lelaki berdasi sedang duduk dekat koper yang agaknya berisi uang. Bangunan tinggi merambah, menyisakan pohon-pohon kecil di kedua lengan seorang lelaki berkaos singlet. ’Meruntuhkanmu dengan ketapel’ adalah ketidakberdayaan seseorang yang mengetapel sebuah bangunan bertingkat, yang mengingatkan pada Don Kisot melawan kincir angin raksasa. Sebagian lukisan Imam lainnya direpresentasikan dengan kursi, yang juga mencerminkan kekuasaan.

Lukisan Lugas banyak menampilkan ’leisure style’. Orang yang asyik mandi di bath up sedemikian lamanya hingga sebagian tubuh anjing penunggunya menjadi kerangka. Ia melakukan toast dengan lukisan Monalisa. Mungkin saja Monalisa adalah simbol dari masa renaisans yang terkenal dengan slogan ’carpe diem’ (nikmatilah hidup), sebagai counter terhadap slogan ’momento mori’ (ingatlah hari sesudah mati) pada abad pertengahan. ’My Favourite Sin’ menampilkan orang yang asyik membidikkan senapannya ke sebuah batu nisan di tengah area pemakaman. Serpihan nisan bertempias beserta tulisan samar ’no face without sin’. Makam lain bertulisan tipis (maaf) ’fucking anatomy’.

’My Favourite Sins’ menjadi semacam kesaksian atas dunia yang banal. "Memang saya pakai banyak ikon pop," kata Lugas, "tapi masih ada makna mendalam. Lukisan saya semuanya tentang keegoisan manusia." Sementara kata Imam, "Kita ambil gambar sederhana dan mengisinya dengan makna."

barata