KABAR ANYAR

LOGO RADEN ANTASENA
DALAM FESTIVAL KESENIAN YOGYAKARTA 2008

Raden Antasena dalam pewayangan gaya Yogyakarta adalah anak dari Raden Wrekudara (Bimasena) dengan istri yang bernama Dewi Urang Ayu, anak Dewa Baruna selaku penguasa lautan (air). Dalam pewayangan gaya Yogyakarta Raden Antasena ini digambarkan sebagai anak bungsu dari Wrekudara. Selain itu Raden Antasena digambarkan sebagai seorang yang sangat sakti namun bertindak-tanduk seperti orang sinting, bambung, gemblung, dhegleng, atau setengah gila. Akan tetapi kegilaannya itu bukan kegilaan yang membahayakan atau menakutkan. Dalam banyak hal kesintingan Raden Antasena ini justru menggelikan dan bahkan memberi kesan lucu sekaligus sangat cerdas.

Dalam pewayangan gaya Surakarta tokoh Antasena ini tidak dikenal karena dalam pewayangan gaya Surakarta Antasena sering dipersamakan dengan Raden Antareja. Sedangkan dalam pewayangan gaya Yogyakarta Raden Antareja merupakan kakak dari Raden Antasena. Hal yang sama terjadi juga pada tokoh Raden Wisanggeni (putra Raden Janaka/Arjuna dengan Dewi Dersanala, putri dari Batara Brama, selaku penguasa api). Kedua tokoh ini sama-sama tidak bisa krama dengan tokoh lain yang dianggap lebih tua atau berkedudukan lebih tinggi. Hanya saja Raden Antasena ini lebih bambung daripada Wisanggeni.

Ketidakkramanya dua tokoh ini bukan karena mereka sesungguhnya memang tidak tahu atau bisa krama tetapi karena mereka dianggap sebagai symbol dari sifat-sifat egalitarian sekaligus inovatif dan kreatif. Hal demikian dapat dilihat misalnya dalam setiap dialog yang menggunakan krama pun kedua tokoh itu mampu menangkap (nyambung) dalam dialog tersebut. Contoh itu bisa dilihat apabila mereka berbicara dengan tokoh punakawan, misalnya. Ketidakkramanya dua tokoh ini dalam dunia pakeliran wayang sering dianggap aneh. Pakeliran wayang kulit yang dalam segalanya serba diatur dengan tata krama dan unggah-ungguh itu ketika menampilkan dua tokoh ini justru seperti nyebal ‘keluar’ dari unggah-ungguh atau tata krama itu.

Satu hal yang menarik ialah meskipun Antasena maupun Wisanggeni tidak bisa berbahasa krama, namun bahasa ngoko-nya tetap ngoko yang terkesan menghormati lawan bicaranya. Bukan asal ngoko. Bukan ngoko yang kasar.

Fenomena ini sebenarnya menarik untuk dikupas baik dari sisi jagat pewayangan itu sendiri maupun mungkin dari sisi kebudayaan pada umumnya. Banyak orang menafsirkan bahwa kedheglengan atau kesintingan Antasena maupun Wisanggeni merupakan manifestasi dari kreativitas, inovasi, sekaligus semangat kesetaraan, manifestasi dari sikap egalitarian. Manifestasi diri untuk berani nyebal, keluar dari hal-hal yang sudah pakem atau yang dianggap pakem, yang dianggap mapan, yang dianggap tidak bisa diowah-owah.. Keluar dari hal-hal yang sudah dianggap sebagai keumumunan. Apa yang dicerminkan oleh tokoh Antasena dan Wisanggeni ini mungkin sebagai sebuah semangat “kegilaan” dalam berekspresi dan berinovasi. Tanpa “kegilaan” itu mungkin apa yang dinamakan sebagai kreasi dan inovasi itu tidak pernah ada. Barangkali di situlah titik tekan yang ingin dimunculkan di jagat pewayangan dengan adanya tokoh-tokoh tersebut.

Kalau kita amati, kemungkinan besar apa yang diperankan oleh kedua tokoh pewayangan ini tidak jauh berbeda dengan fenomena munculnya tokoh Gusti atau Ndara Purba (Raden Prawirapurba) yang merupakan cucu dari Sri Sultan Hamengku Buwana VI, putra G.P.H. Suryamentaram di Yogyakarta pada beberapa puluh tahun yang lampau.

Ndara Purba ini juga dikenal sebagai bangsawan yang berperilaku selengekan, dan orang Jawa mengatakannya sebagai ngedan/nggemblung (bertindak seperti orang gila). Namun di balik itu semua ia menyebarkan kebijaksanaan, kejujuran, kesederhanaan, gagasan-gagasan dan filosofi baru, serta semangat yang egalitarian. Ada banyak hal yang tidak terduga yang lahir dari aktivitas hidup sehari-hari Ndara Purba ini. Hal demikian juga dicontohkan oleh tokoh Raden Antasena dan Wisanggeni.

Dengan alasan-alasan itulah tampaknya tokoh Raden Antasena kemudian diambil sebagai logo FKY 2008 dengan tujuan agar kiranya hal itu menjadi jiwa bagi pelaku seni, birokrat, masyarakat umum, dan semuanya saja yang terlibat maupun yang menikmati FKY untuk memberikan ruang kepada siapa pun dalam berkreasi dan beraktivitas. Dengan demikian, semuanya akan merasa memiliki, dan “diuwongake”. Sekat dan kotak-kotak menjadi tereliminasi dan “kegilaan” berkreasi dan berinovasi terus tumbuh mekar berseri.

sartono