KABAR ANYAR
PAMERAN LUKISAN ‘JAWA BARU’
‘Jawa
Baru’ dalam pameran lukisan di Sri Srasanti Gallery, 6-20 Juni 2008, adalah Jawa
dalam pusaran modernisasi dan globalisasi. Perspektif tersebut mewarnai sebagian
besar perupa dalam pameran ini. Tapi dari framing realita seperti ini bagaimana
para perupa menyikapinya?
Dalam ‘Conversemar’, Aji
Yudalaga menggambarkan Semar mengenakan sepatu bermerek terkenal, Converse, yang
mengklaim diri sebagai ‘American original sports company’. Converse Inc. adalah
milik perusahaan sepatu raksasa AS, Nike Inc. Sementara Semar adalah tokoh
wayang khas Jawa, ‘Java original wayang’ yang tidak ada di negeri asal wayang,
India. Agaknya Aji hanya memerlukan Semar sebagai atribut Jawa sehingga cukup
menampilkannya separuh badan. Tapi batas-batas kebudayaan (cultural
boundaries)
masih kelihatan jelas, belum meluruh dalam metamorfosis baru.
Kombinasi serupa dilakukan Prayogo Satrio Utomo (Iyok) dalam ‘Don’t Protect Me from What I Want’. Jangan lindungi, kata Iyok. Bukan jangan melarang. Iyok agaknya tetap melihat niat baik dari pembatasan atau pelarangan meski dianggapnya salah tempat. Maka ia menampilkan satu subkultur yang cukup ekstrim yakni ‘punk rock’, yang tertulis di jari-jari seorang wanita belia mirip Melanie Subono yang mengenakan blangkon. Di dadanya terbaca ‘Bondage Up Yours’, yang tampaknya diambil dari judul lagu hit dari grup punk X-Ray Spex, ‘Oh Bondage Up Yours’. Ideologi punk adalah anti kemapanan.
Seperti
disebutkan dalam catatan katalog, Iyok mengaku diuntungkan dengan arus
globalisasi, disertai keyakinan bahwa Jawa cukup liat untuk ditembus di balik
semua keluwesannya. Sedangkan Aji melihat pertemuan ‘pendatang’ dan nilai-nilai
‘lama’ sangat kooperatif.
Berbeda dengan sikap kedua
perupa di atas, kombinasi yang dilakukan Nasirun justru sebuah otokritik, bukan
pembelaan. Dalam ‘Indonesian Petruk’ yang satiris, sang panakawan ini mengenakan
seragam kumpeni dan menenteng kain bertuliskan ‘Indonesian Idol’, matanya
melirik sambil cengengesan, jempol kanan diacungkan, tangan kiri bertolak
pinggang. “Ini adalah penggambaran
bentuk
krisis yang luar biasa yaitu krisis diri,” tukas Nasirun.
Kritik diri juga dilontarkan Nano Warsono dalam kumpulan simbol. Ada Mickey Mouse yang berahang Cakil, perempuan berbikini berambut pirang, barisan mulut menganga dengan lidah menjulur, wajah-wajah mengerikan yang ditembus pohon yang dari akarnya meloncat seekor kuda. Di tengah lukisan ‘Narciss van Java’ ini, seorang lelaki dengan malu mengintip dari sela-sela jari yang menutupi wajahnya. Lahir sebagai orang Jawa, Nano merasakan dalam praktiknya Jawa sebagai budaya menjadi kian dangkal dan tanpa pemaknaan. Ia pun merasa kian asing dengan identitas lokal di tengah banyaknya simbol-simbol identitas modern.
Kombinasi lain adalah tradisi
dan industri, seperti yang diangkat Arya Panjalu. Dalam ‘Pahlawan Kesepian’,
dengan gaya gambar stiker, Bima tampil sambil menudingkan jari tengah kanannya,
sementara tangan kirinya menyembulkan kuku pancanaka, dan berteriak, “Ini Jawa
Bung…!!” Jari tengah itu tentu saja suatu penghinaan,
sementara
kata-katanya mengesankan arogansi. Secara politis, kesan ini mungkin dikaitkan
dengan Jawa --sebagai pulau, suku dan budaya—yang dominan di negeri ini.Tapi
dalam catatannya, Arya ternyata lebih melihatnya sebagai termajinalkannya tokoh
Bima sebagai simbol kekuatan dan keperkasaan (seks) dalam industri konsumsi.
Meski temanya menarik, terkesan lukisan-lukisan dalam pameran kali ini kurang ‘menggigit’. Tidak ada yang memaksa kita terhenyak atau tergetar lalu lama termangu. Sesuatu yang telak disodorkan di wajah kita sambil berkata, “Ini baru Jawa yang baru.”
a. barata