KABAR ANYAR
STREET ART DALAM JOGJA ART FAIR
Pameran
seni rupa yang diberi tajuk Jogja Art Fair dalam rangkaian Festival Kesenian
Yogyakarta (FKY) ke-20 yang diselenggarakan 15 Juni sampai 7 Juli 2008 di Taman
Budaya Yogyakarta, dari segi disain ruang pameran berbeda dari pameran yang
selama ini dilakukan di Taman Budaya. Disain pameran dibuat seperti menyerupai
street art, sehingga bisa dipasangi banyak lukisan dan tidak hanya
mengeksplorasi dinding. Ruang dibuat seperti ‘jalan’ yang memberikan imajinasi
pada satu area seni, dan di masing-masing ruang bisa dinikmati karya seni.
Di depan pintu masuk teras ruang pameran Taman Budaya dibuat seperti gapura. Selain ada tulisan Jogja Art Fair, pada gapura ada corat-coret yang menunjukkan bahwa ini bukan sekadar gapura, tetapi memberikan pesan mural. Seolah seperti hendak berkata, pada gapura ada karya mural. Dari gapura ada karpet wana hitam yang menghantarkan orang memasuki pintu masuk ruang pameran.
Tampaknya suasana street art
sudah dibangun sejak dari ‘gerbang buatan’ dan sekaligus memberi pesan kepada
publik:
bahwa disain pameran kali ini berbeda dari pameran-pameran sebelumnya. Dalam
kata lain, disain ruang pameran adalah bentuk dari karya seni yang juga
‘dipamerkan’.
Dalam suasana street art yang dibangun, di sepanjang ‘jalan belok’ ada kursi, sehingga orang bisa duduk sejenak, selain melepas lelah sambil menikmati karya seni rupa, yang menyajikan seni lukis, patung dan karya instalasi. Jenis karya seni rupa yang dipamerkan, apa yang disebut sebagai seni rupa kontemporer. Memang, seni lukis yang menggunakan media kanvas masih mendominasi. Namun visual dan warna yang dihadirkan adalah jenis karya seni lukis yang sedang trend. Orang bilang, seni lukis yang mengikuti selera pasar.
Ketika sedang menikmati karya-karya yang dipamerkan, saya bertemu seorang pelukis senior sekaligus seorang pengajar seni lukis di Fakultas Seni Rupa ISI (Institut Seni Indonesia), Subroto namanya. Kata dia, “Karya-karya seperti ini yang lagi trend dan pengaruh karya seni dari Cina.”
Memang
tidak sedikit karya yang menyajikan satu visual dengan latar belakang kosong.
Artinya, simbol yang divisualkan bisa orang atau benda-benda yang lain,
dibiarkan “sendiri’ dalam warna-warna. Tidak ada kontras-kontras warna sebagai
latar belakang. Hanya warna polos yang ditampilkan. Persis seperti foto studio,
yang mengambil obyeknya menggunakan latar belakang warna kain.
Secara teknis melukis, karya-karya yang dipamerkan bisa dikatakan mengagumkan. Tidak heran di balik judul-judul yang dipajang di dekat karya yang dipamerkan, ada cukup banyak tanda merah melingkar. Di kalangan perupa, tanda merah itu menunjukkan karyanya sudah laku dibeli orang.
Terlepas dari teknis karya yang mengagumkan, ada yang sulit untuk ditemukan dari karya-karya tersebut, ialah ide atau gagasan. Rasanya, karya yang bagus dari segi teknis, tetapi seperti tidak memiliki ‘jiwa’, sehingga yang bagus pada penglihatan, tetapi tidak menggetarkan. Sehingga suasana street art yang dibangun di ruang pameran, seperti kurang menghadirkan ‘daya hidup’, atau kalau dalam istilah Bung Karno, tidak memiliki ‘api’.
Barangkali karena pasar yang menjadi rujukan, ide tidak menjadi penting. Melainkan kemasan yang, mungkin, menjadi pertimbangan. Dan pasar memang hanya mengenal ‘buyer’. Ia tidak mengenal jenis kelamin.

Tetapi FKY yang sudah 20 tahun diselenggarakan, yang utama, kiranya bukan untuk ‘buyer’, melainkan untuk publik. Mungkin, karena penganut neoliberal, publik adalah kata lain dari ‘buyer’.
Ons Untoro