KABAR ANYAR
MENUNGGU KEHADIRAN PROGRAM STUDI MUSEOLOGI DI UGM
Tampaknya
dunia permuseuman Indonesia masih harus menunggu saat-saat yang tepat menjadi
suatu lokasi yang representatif bagi publiknya. Sebab hingga saat ini,
keberadaan museum di Indonesia, (mayoritas pandangan publik) masih dianggap
sebagai tempat atau gudang menyimpan benda-benda kuno, rongsok, antik, dan
kesan-kesan termarjinalkan lainnya. Museum Indonesia harus terus dibangun bukan
hanya dari sisi artistik dan penyajian koleksinya saja, tetapi juga dari sisi
lainnya seperti marketing, manfaat bagi publik, perpaduan berbagai kepentingan,
atau lainnya. Pembenahan harus terus dilakukan, tidak hanya gedungnya saja
tetapi sudah SDMnya. Tanpa SDM yang handal, museum-museum di Indonesia hanya
akan tetap menjadi merana, hidup segan, mati tak mau (kecuali sebagian kecil
museum yang sudah berstandard seperti museum luar negeri).
Keprihatinan yang mendera dunia
permuseuman Indonesia dari tahun ke tahun tidak kunjung bergeming. Masih ajeg
saja. Kelesuan tanpa batas akhir dan entah sampai kapan. Ya,
dunia permuseuman
Indonesia masih tetap dipandang sebelah mata keberadaannya dan belum dianggap
sebagai salah satu papan informasi yang representatif. Pandangan umum masih
miring ketika melihat museum.
Museum-museum di Indonesia dari tahun ke tahun ibaratnya hidup enggan mati tak mau. Memang secara kuantitatif jumlahnya terus bertambah setiap tahun. Bahkan saat ini, menurut Direktur Permuseuman Dirjen Sejarah dan Purbakala museum di Indonesia sekitar 282 buah. Museum-museum itu tersebar di seluruh nusantara, baik yang bersifat museum negeri maupun swasta dengan keanekaragaman spesifikasi dan jenisnya.
Ada berbagai indikasi yang
menyebabkan museum-museum di Indonesia (sebagian besar) kurang familier di
masyarakat. Masalah-masalah itu bisa bersifat intern maupun ekstern. Bersifat
ekstern bisa terjadi karena memang apresiasi masyarakat yang masih kurang. Hal
ini bisa disebabkan karena masih rendahnya pendidikan di masyarakat. Bisa
jadi
pula daya beli dan kesejahteraan masyarakat masih rendah. Tentu dengan rendahnya
income perkapita, mereka akan mengutamakan kebutuhan-kebutuhan pokok terlebih
dahulu. Museum yang dikategorikan sebagai ajang rekreasi tentu belum menjadi
kebutuhan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia yang masih miskin.
Bersifat intern bisa disebabkan
oleh masih minimnya pengelolaan secara maksimal. Sistem manajemen yang
diterapkan belum diterapkan secara maksimal seperti dalam bisnis profit. Bisa
jadi pula karena minimnya SDM yang handal di dunia permuseuman. Sebab kurang
handalnya SDM jelas akan berpengaruh besar terhadap pengelolaan manajemen
museum. SDM yang handal tidak hanya bisa tercipta hanya dengan pengalaman
otodidak. Namun harus mendalami prinsip-prinsip pengetahuan permuseuman.
Sayangnya ilmu tentang museum, di Indonesia belum banyak dikaji di perguruan
tinggi. Masih sedikit perguruan tinggi yang membuka cabang ilmu museum, yakni
baru Universitas Indonesia
Jakarta dan Universitas Pajajaran Bandung.
Berangkat dari kenyataan itulah, mencetak SDM yang handal di bidang museum, perlu segera diwujudkan. Begitu kesimpulan paparan beberapa pakar permuseuman yang datang dari berbagai pihak seperti dari Hari Untoro (Dirjen Sejarah dan Purbakala), Direktur Permuseuman Dirjen Sepur (Bu Intan), Thomas Haryonagoro (Ketua Umum Barahmus DIY) dan pakar lainnya dalam acara dengar pendapat yang diselenggarakan oleh Jurusan Arkeologi FIB UGM dalam rangka rencana pembukaan jurusan Museologi S1 dan S2 beberapa waktu lalu. Masukan-masukan juga datang dari praktisi di bidang permuseuman dan pengambil kebijakan, seperti Dinas Kebudayaan Propinsi DIY. Intinya semua pihak mendorong terbentuknya kajian program Museologi di perguruan tinggi khususnya di UGM.
Teks dan Foto : Suwandi/Tembi