KABAR ANYAR


Group karawitan Puspitasari dari Ibu-ibu dusun Tembi pimpinan
Hj. Sukinah menambah semarak suasana (foto : barata)

Macapatan Malem Rebo Pon
Kesalahan Merusak Alam

Berkenaan masih dalam bulan Syawal, acara Macapatan Malem Rebo Pon, di pendapa Yudonegaran komplek Rumah Budaya Tembi, jalan Parangtritis Km 8,4, telah mempersiapkan tembang-tembang khusus, berkaitan dengan syawalan. Tembang yang berjumlah 5 ‘pada’ tersebut dibuat oleh Bapak Wandiyo dari Srandakan Bantul, untuk ditembangkan pada Macapatan putaran ke-75, tanggal 21 Oktober 2008.


Para pecinta macapatan yang setia hadir tiap malam Rebo Pon
di Pendapa Yudanegaran, komplek Rumah Budaya Tembi (foto : barata)

Sebelum acara Macapat dimulai, grup karawitan Puspitasari dari Dusun Tembi Sewon Bantul pimpinan Ibu Hj Sukinah tampil membawakan beberapa gending sebagai praacara. Tepat pada pukul 20.15 grup karawitan ibu-ibu tersebut melantunkan Gending Sri Wilujeng sebagai tanda bahwa acara segera dimulai. Gendhing Sri Wilujeng adalah sebuah gendhing yang dimaksudkan untuk memohon keselamatan bagi para pandemen, pengrawit dan bapak ibu yang datang menyemarakkan rangkaian acara malam itu. Suasana tambah semarak ketika Angger Sukisno dan kemudian disusul oleh Bapak Wandiyo menembangkan tembang-tembang macapatan diiringi musik gamelan.

Melalui syair tembang syawalan, seluruh penyelenggara Macapatan Rebo Pon-an mengajak para pecinta Macapatan yang hadir untuk apura-ingapuran, saling memaafkan, semoga Hyang Suksma berkenan melebur segala dosa dan kesalahan kita bersama, sehingga kembali menjadi fitri. Hidup yang fitri itulah untuk selanjutnya selalu diupayakan untuk dijaga, dipelihara dalam pergaulan dengan sesama dan alam. Jangan sampai mengulang-ulang kesalahan dengan melanggar nasihat-nasihat luhur serta merusak kehidupan yang harmonis. Dengan kesetiaan dan ketulusan melaksanakan ajaran Tuhan melalui berbagai agama niscaya kita akan menemukan keselamatan dan kebahagiaan.

Dhandhanggula
Sasampunnya jiwangganya suci
tebih saking sagunging lelepat
ingkang baku panjagine
datan tumindak luput
tansah emut lan ngati-ati
ywa kongsi nerak sarak
wewarah kang luhur
nengenaken kautaman
setya tuhu mring syariating agami
murih manggya widada

Setelah ‘tembang-tembang syawalan’ selesai ditembangkan, Bapak Joyo Sumarto sebagai pangarsaning acara mengajak para pandemen macapat untuk menembangkan tembang-tembang selanjutnya yang sudah disiapkan dalam buku panduan, yaitu serat Centhini.

Satu persatu, sesuai urutan isian daftar hadir, para pecinta Macapatan maju untuk menembangkan Serat Centhini jilid 3, pupuh 177 tembang Dhandhanggula 39 ‘pada’. Secara garis besar ketigapuluh sembilan ‘pada’ tersebut menceritakan perjalanan Mas Cebolang telah sampai di Sujanapuran dan singgah di rumah Radyan Tumenggung. Pada ‘pada’ 1 sampai ‘pada’ 20 ditulis bahwa Radyan Tumenggung memperlihatkan Serat Lokapala Kawya kepada Mas Cebolang. Serat tersebut mengisahkan ketika Bagawan Wisrawa membeberkan ajaran ilmu Sastra Jendra kepada Prabu Sumali raja Ngalengka. Ketika Mas Cebolang menanyakan mengenai isi ajaran Sastra Jendra, Radyan Tumenggung mengatakan bahwa Sastra Jendra merupakan ajaran yang menuntun kepada kesempurnaan hidup sejati. Ilmu tersebut bersifat gaib dan dikeramatkan oleh para dewa. Hanya manusia yang mendapat wahyu yang dapat dan kuat membeberkan ilmu Sastra Jendra.


Salah satu yang hadir, maju untuk menembangkan macapat dari
panduan yang telah dibagikan.(foto: barata)

Selanjutnya dalam ‘pada’ 21 hingga ‘pada’ 39 kitab Centhini menulis tentang awal mula dunia diciptakan. Dalam pertemuan yang dihadiri oleh Batara Narada, Batara Basuki, Batara Sriyana, Batara Panyarikan, Batara Indra dan Batara Wisnu, Batara Guru menerangkan bahwa ketika dunia masih awing, uwung awingit (sepi, kosong, gelap) sudah ada suara seperti gentha bergema. Baru kemudian diciptakan pertama adalah teteja atau cahaya. Nomor dua adalah api, kemudian bumi, angin, dan kelima adalah samudera.

Pada 21.
Dhandhanggula
Purwaningkang dumadi rumiyin
ingkang wreda pribadi pan cahya
anulya dahana reke
bantala katrinipun
catur bayu panca jaladri
ing Kaneka sunu
ing pangancas taksih lepat
de mangeran marang kahananireki
sisiptembire dadya

Setelah segalanya tersedia dan memungkinkan untuk sebuah kehidupan, maka diturunkanlah manusia ke alam kehidupan, yaitu dunia.

Sungguh indah pada waktu itu, tentunya. Segalanya masih bersih, semuanya masih suci. Namun sekarang, pada saat tulisan ‘pada’ 21 tersebut ditembangkan di Tembi Rumah Budaya, suasana jauh berbeda. Keadaan alam yang pada awal dipercayakan kepada manusia masih indah dan menawan, kini telah rusak. Banyak kesalahan yang telah dilakukan manusia. Maka ketika tembang maaf-memaafkan berkumandang, mungkinkah itu pertanda bahwa kesalahan tidak akan terulang?

Tetapi bisa juga lho itu hanyalah tembang semata, yang gemanya akan hilang dihembus angin malam, tepat jam 23.15, pada saat acara Macapatan Rebo Pon-an telah usai. Harapannya tentu isi dan pesan tembang ini diresapi, dirasakan dan direnungkan.

herjaka HS