KABAR ANYAR

“ANAK MUDA DIPASUNG” DI PADEPOKAN BAGONG

Seorang anak muda tidur di ranjang tanpa kasur dan hanya beralaskan tikar. Kakinya dijepit dengan kayu, sehingga anak muda itu tidak bisa menggerakan kakinya. Hari-harinya hanya tertidur dan sesekali duduk di tempat tidur. Orang bilang, anak muda itu dipasung.

Di mana dipasung dan kenapa di pasung?

Anak muda itu dipasung di Padepokan Bagong, di Dusun Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Ia dipasung oleh ayahnya supaya tidak pergi dari rumah. Bukan lantaran sakit jiwa. Ayahnya takut, jika anaknya bergaul akan menyebabkannya menjadi berandalan, setidaknya seperti kakaknya. Karena itu ia dipasung.

Kisah yang unik di atas dipentaskan oleh Ketoprak Ngampung Balekambang Solo di ruang pertunjukan Padepokan Bagong, Minggu (29/6) lalu. Ketoprak yang hanya memerlukan waktu sekitar 2 jam pertunjukan ini bisa menghadirkan suasana menyegarkan dan klimaks pentas yang mengharukan.

Ketoprak yang hanya menggunakan properti dan tata panggung sederhana, tidak mengurangi keseriusan dalam bermain. Hanya dua tokoh sentral, ayah dan anak. Pemain lainnya menjadi pelengkap: dua anak kecil, dua orang wanita dan satu pemuda teman anak muda yang dipasung. Tiga orang pemain lainnya, selain penabuh gamelan merangkap sebagai pelawak.

Kenapa namanya Ketoprak Ngampung?

Nama Ngampung diambil karena ketoprak tersebut sering pentas di kampung-kampung. Kultur ketoprak tobonglah yang mendasari Ketoprak Ngampung.

Kisah yang dipertunjukkan unik karena berbeda dari kebiasaan lakon ketoprak. Biasanya, pementaskan ketoprak membawakan lakon kisah-kisah sejarah yang berkaitan dengan kehidupan kerajaan. Tetapi Ketoprak Ngampung menyajikan kisah keseharian, yaitu kisah “anak muda yang dipasung”. Terasa simpel ceritanya tetapi problematik, tradisi dan modernitas berbenturan. Bagaimana tidak --seperti dalam dialog yang dihadirkan-- di zaman modern, masih ada orang tua memasung anaknya, hanya karena supaya anaknya tidak terpengaruh dalam pergaulan dengan orang lain.

Endingnya khas dan konvensional. Anak yang dipasung mati, dan ayahnya menyesal serta merasa telah membunuh anaknya.

Pertunjukan menjadi terasa menarik dan penuh tawa karena tiga pelawak sungguh hadir dengan lawakan yang keseharian dan tidak jorok. Mereka bermain kendang dan satu drum sambil melawak. Penonton, tua-muda, laki-perempuan, juga anak-anak, terpingkal-pingkal mendengarkan lawakan. Ruang pertunjukan yang terbuka menjadi penuh tawa penonton.

Dagelan memang tidak bisa lepas dari ketoprak, Meski durasi waktunya pendek, Ketoprak Ngampung tidak meninggalkan lawakan dalam pertunjukannya. Model Ketoprak Ngampung, yang tidak meninggalkan tradisi, tetapi responsif terhadap kondisi waktu publik, kiranya akan menjaga kelangsungan hidup ketoprak di tengah masyarakat, yang disuguhi beragam pilihan.

Ketoprak Ngampung kiranya adalah alternatif yang cerdas dari seni tradisi agar tidak ditinggalkan penontonnya.

Ons Untoro