KABAR ANYAR

ANDONG

Di Yogya terdapat banyak jenis alat transportasi. Salah satu jenis alat transportasi lokal yang ada di Yogyakarta dan digerakkan oleh kuda ialah andong. Jenis transportasi ini, barangkali untuk tidak menghilangkan tanda kultural Yogya tidak dilarang menjalankan aktivitasnya. Hanya memang tidak meluas. Artinya tidak bisa ditemukan di banyak tempat. Yang paling banyak ditemukan justru di kawasan Malioboro. Di pusat ekonomi Yogya ini, andong banyak parkir dan mencari penumpang. Jenis transportasi ini digemari oleh turis asing, meski tidak menolak penumpang lokal.

Selain di Malioboro andong juga sering terlihat parkir di satisiun tugu. Diantara sejumlah taksi yang menunggu penumpang, ada beberapa andong yang juga ikut "antri" menunggu penumpang. Ini artinya, pengemudi andong dengan penuh sadar menempatkan diri sebagai jenis alat transportasi sebagaimana jenis alat transportasi yang lain.

Andong memang tidak bisa dipisahkan dari kuda. Karena tanpa kuda andong tidak bisa berfungsi. Binatang kuda inilah yang menjadi "mesin penggerak" andong. Sebagaimana mobil memerlukan bahan bakar, andongpun memerlukan bahan bakar untuk "mesin penggerak"nya, hanya bentuknya lain. Bukan bensin seperti mobil, tetapi makanan yang berupa dedak atau rumput. Atau campuran keduanya. Karena itu, setiap andong biasanya sekaligus membawa makanan untuk "mesin penggerak"nya.

Dari jenis transportasi andong inilah hal yang khas dari Yogyakarta bisa dilihat. Ditengah marak dan membanjirnya berbagai macam jenis alat transpirtasi yang menggunakan mesin, andong tetap menjaga dirinya. Dalam kata lain, keberadaan andong bukan hanya persoalan teknis, tetapi adalah persoalan politik. Karena kebijakan politik tidak melarang andong untuk menjalankan aktivitasnya. Para pengemudi andongpun tidak merasa dirinya di "anak tirikan". Perkara penghasilannya menurun karena memang harus bersaing dengan bermacam jenis kendaraan lain.

Pemilik andong kebanyakan memang mereka yang tinggal dipinggir kota. Dari pinggir kota setiap hari menuju pusat kota untuk menjalankan aktivitas ekonominya. Kalau melihat andong di Malioboro, memang tidak selalu penumpangnya turis asing. Tapi biasanya penumpang andong adalah orang non Yogya yang kebetulan sedang di Yogya. Kalau yang rutin menggunakan andong adalah para pedagang di pasar Beringharjo yang membawa banyak barang tetapi hanya mampu dibawa oleh andong. Ongkosnya pun tidak semahal taxi misalnya. Karena itu, kapan naik andong, harap jangan mencari di mana argonya.

Melalui andong inilah apa yang khas dari Yogya bisa dibaca: "Alon-alon waton kelakon" meski tidak harus menunjuk makna kata itu, tetapi orang bisa memakuki pintu makna dari andong. Artinya, dari andong orang bisa melihat Interaksi antara manusia dan binatang (kuda) untuk saling mewujudkan kerjasama. Keduanya seperti dalam ungkapan "Urip lan Nguripi".

Naiklah andong di Yogya kalau ingin menjalankan "Urip lan Nguripi".

Ons Untoro