|
Bothekan
GOLEK JENENG NEMBE GOLEK JENANG
Pepatah
Jawa di atas secara harfiah berarti mencari nama (baik) baru mencari
jenang (bubur).
Pepatah ini sebenarnya ingin
menyatakan atau memberikan nasihat pada orang bahwa untuk dapat
memperoleh rejeki (pekerjaan) orang harus bisa menjaga nama baik.
Harus bisa menunjukkan prestasi atau produktivitas kerjanya.
Prestasi, kreativitas, produktivitas, dan dedikasi adalah “nama”
dari orang yang bersangkutan. Jika orang yang bersangkutan tidak
memiliki semuanya itu sebaiknya juga tidak perlu mengharapkan jenang
yang dalam arti luas adalah rejeki, gaji, pendapatan, atau
kompensasi dari nilai kerjanya.
Pada kenyataannya banyak
juga terjadi bahwa orang yang belum atau tidak punya jeneng namun
sudah bisa menggaruk atau bahkan menggasak jenang dalam ukuran tak
terhingga. Pada sisi inilah korupsi dilakukan. Orang merasa tidak
perlu lagi menunjukkan prestasi dan produktivitas kerja sesuai
bidang atau profesinya. Hal yang dipentingkan adalah mencari
kesempatan untuk mengambil keuntungan sebanyak mungkin. Pada sisi
ini orang yang demikian telah melanggar nilai-nilai kejujuran,
keseimbangan, dan keadilan sehingga ada banyak orang atau sisi lain
yang dikorbankan.
Makna golek jeneng nembe
golek jenang sebenarnya menyelaraskan dengan hukum alam. Jika belum
bisa menunjukkan prestasi, reputasi, produktivitas, dan dedikasi
sebaiknya ya jangan bermimpi untuk bisa mendapatkan rejeki. Jika
belum punya jeneng sebaiknya jangan mimpi untuk beroleh jenang. Jika
hal ini dipaksakan yang terjadi adalah pemerkosaan dan
ketidakadilan. Ketidakadilan akan selalu menimbulkan korban atau
tumbal di sisi lain. Hal ini setara dengan pemeo jika tidak bekerja
sebaiknya juga tidak makan.
a.sartono |