|
Bothekan
KAYA DHENGKUL IKET-IKETAN
Pepatah
Jawa di atas secara harfiah berarti Seperti dengkut (mengenakan)
ikat kepala (blangkon).
Iket atau blangkon tentu
saja tidak ditempatkan di dengkul. Iket, destar, atau blangkon
dikenakan di kepala. Hakikat kepala dan dengkul juga berbeda. Kepala
dalam arti simbolik adalah sesuatu yang sangat berharga. Di dalam
kepalalah letak otak dan segala ”komputer” kepandaian manusia. Jika
kepala diberi ”kehormatan” dengan diberi iket, destar, atau blangkon
adalah merupakan hal yang lumrah. Sementara dengkul secara simbolik
sering dianggap lawan dari arti simbolik kepala. Artinya, adalah
tumpul atau bodoh.
Pepatah ini ingin menyatakan
tentang orang bodoh yang dijadikan pejabat. Ketika ia jadi pejabat
ia tidak bisa berbuat banyak untuk menjalankan jabatannya sesuai
peran dan fungsinya. Orang bodoh dan tidak berkemampuan yang
dijadikan pejabat umumnya terjadi karena faktor KKN. Dekat dengan
atasan atau penguasa.
Kaya dengkul iket-iketan
sesungguhnya ingin menunjukkan betapa menggelikannya orang yang
tidak punya kemampuan apa-apa namun memiliki dan memerankan jabatan
yang tinggi.
a.sartono |