|
Bothekan
WITING TRESNA JALARAN SAKA KULINA
Pepatah
Jawa di atas secara harfiah berarti awal cinta karena/lantaran dari
kebiasaan.
Pepatah ini pada masa lalu
sering dikaitkan dengan peristiwa perjodohan yang dilakukan oleh
para orang tua kepada anaknya. Anak yang tidak saling mengenal bisa
saja tiba-tiba diperjodohkan oleh kedua orang tuanya. Selalu mungkin
kedua anak tersebut akan menjalani masa-masa berumahtangganya dengan
hati terpaksa. Keterpaksaan semacam itu kemudian oleh kedua orang
tuanya coba dilunakkan dengan mengatakan makna pepatah di atas.
Pada gilirannya setelah
menjalani kehidupan beberapa waktu selalu mungkin pula mereka (kedua
anak tersebut) kemudian merasa saling cocok, saling mengenal, dan
akhirnya saling mencintai atau menyayangi. Jadi, percintaan yang
mereka alami tumbuh dan mekar setelah mereka saling mengenal, hidup
bersama, dan saling menjalankan fungsinya masing-masing sebagai
suami dan istri. Hal demikian berkebalikan dengan zaman sekarang
yang kebanyakan memulai perkawainan dengan saling mengenal dan jatuh
cinta dulu baru kemudian mengikat diri dalam lembaga perkawinan.
Contoh dari pepatah witing
tresan jalaran saka kulina juga dapat terjadi dalam kasus lain.
Misalnya orang terpaksa makan selain nasi. Semula orang tersebut
merasakan ketidaksukaan atau ketidaknyamanan. Akan tetapi karena
dalam setiap harinya yang harus ia makan adalah makanan selain nasi,
maka lama-kelamaan ia pun akan menyukai makanan selain nasi
tersebut.
a.sartono |