|
Bothekan
MBONDHAN TANPA RATU
Pepatah
jawa di atas secara hariah dapat diartikan (menari) bondhan tanpa
ratu (raja).
Tari bondhan merupakan salah
satu tari yang biasanya disajikan dalam perhelatan resmi, seperti
dalam penyambutan kunjungan raja, pemimpin, penguasa, orang besar,
dan sebagainya. Umumnya tarian ini ditarikan oleh penari wanita.
Tarian menggambarkan seorang kakak atau ibu yang tengah mengasuh
anaknya. Penari kadang membawa payung, boneka bayi, atau kendi.
Mbondhan juga sering
diartikan sebagai menari saja (lepas dari pengertian yang merujuk
pada jenis dan karakter atau ciri-ciri Tari Bondhan). Sedangkan ratu
atau raja juga sering diartikan sebagai pusat segala peraturan,
hukum, moral, dan tatanan kehidupan.
Menari tanpa tatanan,
aturan, hukum, dan moral yang diacu pada arti konotatif peribahasa
ini menunjuk pada makna berbuat semaunya tanpa memperhatikan hukum
atau aturan yang telah dikeluarkan oleh ratu (raja). Mbondhan tanpa
ratu dapat diartikan sebagai berbuat dengan sengaja melawan atau
tidak menggubris ratu (raja). Pendeknya, sering disebut juga mbalela
atau berontak. Dalam skala yang lebih besar dapat juga diartikan
sebagai subversi atau makar.
a.sartono |