|
Bothekan
PENDHITANE ANTIGA
Pepatah
Jawa di atas secara harfiah berarti (sifat) penditanya (seperti)
telur.
Pendeta, brahmana, pemimpin
umat beragama, orang suci diidentikkan dengan warna putih. Kesan
atau citraan putih ini sering dikuatkan dengan tampilan luar
(pakaian)-nya yang juga serba putih. Sebagai orang yang suci, putih
hendaknya keputihan atau kesuciannya bukan hanya di bagian luarnya
atau kesan fisik atau lahiriahnya belaka. Seyogyanya keputihan atau
kesuciannya sampai ke dasar-dasar hatinya. Demikian idealnya.
Pendhitane antiga adalah
pepatah yang ingin menyatakan tentang orang yang munafik. Di luarnya
atau kesan luarnya orang tersebut baik, halus budi, suci, penuh tata
krama, religius, dan seterusnya. Namun hal demikian tidak sampai ke
dasar-dasar hatinya. Artinya ruh atau hati orang tersebut penuh
kejahatan. Penuh rekayasa dan segala macam trik untuk memuaskan atau
memenuhi egonya sendiri. Hal ini sama dengan gambaran pendhitane
antiga.
Artinya, pada sisi
luar/fisik kelihatan suci namun di dalam hati penuh dengan segala
macam keruwetan yang gelap, dusta, tidak murni. Sama halnya dengan
antiga (telur) yang di luar (kulit)-nya kelihatan putih semua tetapi
di dalamnya kuning. Luar putih, dalamnya kuning. Intinya, lahir dan
batinnya tidak sama alias penuh kepalsuan, kepura-puraan, basa-basi,
rekayasa, kebusukan, dan sebagainya.
a.sartono |