|
Bothekan
SING SABAR SAREH BAKAL PIKOLEH
Pepatah
Jawa di atas secara harfiah dapat diartikan yang sabar arif akan
memperoleh.
Umumnya manusia
berkecenderungan tidak sabar. Bahkan juga tidak arif. Sifat dan
sikap sabar serta arif bahkan sering dianggap sebagai sikap yang
lemah, kalah, dan lamban. Tidak aneh jika dalam usaha untuk
memperoleh segala sesuatunya orang kemudian melakukan jalan pintas.
Semuanya dilakukan serba instan.
Untuk memperoleh nilai yang
baik dalam ujian pun kemudian dilakukan penyontekan dengan berbagai
cara. Untuk memperoleh kekayaan dilakukan tipu daya untuk korupsi,
manipulasi, mark up, ngutil, mencuri, dan sebagainya. Bahkan ada
pula yang menjalaninya dengan laku gaib semacam memelihara tuyul
atau berbagai macam pesugihan.
Pepatah Jawa di atas
sebenarnya mengajarkan untuk menghargai proses. Untuk menekuni
sebuah tindakan/pekerjaan. Untuk mendapatkan hasil maksimal
diperlukan ketekunan, ketelatenan, kecintaan, dan kesetiaan (konsistensi).
Seorang seniman atau pencipta tidak akan pernah dengan begitu saja
menemukan sebuah master karya. Untuk meraih semua itu diperlukan
prosesing yang ”berdarah-darah”.
Untuk meraih gelar sarjana
orang perlu belajar beberapa tahun dengan ketekunan. Bukan dengan
nyontek atau sogok sana sogok sini. Bukan dengan menjilat dosen ini
atau dosen itu. Kesabaran dan kearifan yang ditekuni akan membuahkan
sesuatu yang baik, yang manis di kemudian hari.
Pepatah ini pada intinya
ingin mengajarkan tentang pentingnya pengendalian diri, emosi,
keserakahan, dan ketekunan dalam ketenangan.
a.sartono |