|
Bothekan
RENGGANG GULA KUMEPYUR PULUT
Pepatah
Jawa di atas secara harfiah berarti renggang (seperti ) gula
bertabur (seperti) getah.
Gula dalam
pengertian di atas adalah gula jawa atau gula merah. Gula merah
umumnya dibuat dengan cara dicetak dalam tempurung atau bambu. Hasil
cetakan gula merah ini jika disatukan (ditumpuk) dan terkena hawa
panas akan meleleh dan lengket atau menyatu antara yang satu dengan
yang lain. Gula merah yang mengalami kondisi demikian umumnya akan
sulit dipisahkan lagi karena begitu erat, lengket, dan menyatu.
Pulut atau
getah dalam pengertian ini umumnya mengacu pada getah nangka. Getah
nangka juga terkenal demikian lengket. Getah ini dapat menempel pada
benda apa pun dengan sangat lengket. Tidak pernah ada getah nangka
berwujud butiran atau debu sehingga bisa kumepyur ’bertaburan’.
Tidak ada pula gula jawa yang saling melengket disebut sebagai
renggang.
Pepatah di atas
sesungguhnya bermakna kebalikannya. Renggang gula dapat diartikan
sebagai sangat lengket sekali. Kumpyur pulut pun berarti sangat
lengket sekali. Kondisi yang demikian itu biasanya digunakan untuk
menggambarkan persahabatan dua orang sahabat atau lebih yang begitu
erat, akrab, dekat sehingga seperti tidak terpisahkan lagi.
Persahabatan yang demikian itulah yang kemudian disebut sebagai
renggang gula kumepyur pulut.
a. sartono |