|
Bothekan
KAYA PITIK TRONDHOL DIUMBAR ING PADARINGAN
Pepatah
Jawa di atas secara harfiah berarti seperti ayam trondhol (jenis
ayam yang tidak memiliki bulu di bagian leher/ayam koci)
dilepasbebaskan di tempat menyimpan beras.
Ayam trondhol dalam
masyarakat Jawa dianggap sebagai ayam yang kurang atau tidak
berkelas. Sama seperti ayam-ayam lain, ayam trondhol juga sangat
menyukai beras dan biji-bijian. Dari sekian jenis biji-bijian, beras
atau padi merupakan jenis biji-bijian yang sangat berharga karena
merupakan makanan pokok bagi kehidupan masyarakat Jawa.
Pepatah Jawa ini
sesungguhnya ingin menggambarkan keadaan dimana orang yang tidak
berkelas (berperangai buruk) yang dilepaskan atau diminta menunggui
sesuatu barang atau benda yang sangat bernilai, maka orang tersebut
bisa dipastikan akan mengambil atau mencuri barang yang sangat
bernilai tersebut. Hal ini dengan tegas dapat dicontohkan misalnya
orang yang kesukaannya mencuri tiba-tiba diminta untuk menjaga
gudang yang isinya barang-barang berharga. Suatu ketika nafsu
mencurinya pasti timbul dan kemungkinan besar ia justru akan
menggerogoti isi gudang yang menjadi tanggung jawabnya.
Contoh lain misalnya, orang
yang tabiatnya buruk kemudian dijadikan pengumbul pajak atau
retribusi. Sangat mungkin uang pajak atau retribusi yang semestinya
disetorkan untuk majikan atau negara justru ditilepnya. Demikianlah
yang dimaksudkan dengan pepatah Kaya Pitik Trondhol Diumbar ing
Padaringan.
a. Sartono k |