Bothekan

KOCAK TANDHA LOKAK

Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti kocak tanda tidak penuh. Sebuah wadah apa pun itu namanya jika diisi dengan suatu benda dan cara mengisinya tidak penuh, maka benda yang menjadi isi tersebut akan mudah dikocok atau digoyang-goyangkan.

Pepatah ini sebenarnya ingin mengajarkan bahwa orang yang banyak jual lagak atau bertingkah, umumnya kapasitas otaknya atau kepandaiannya tidak penuh atau tidak maksimal. Hal semacam ini dalam bahasa Indonesia mungkin setara dengan pepatah yang berbunyi tong kosong berbunyi nyaring.

Hal demikian, ini dapat dicontohkan misalnya dengan orang yang baru saja masuk ke sebuah sekolah, umumnya ia akan pamer tentang sekolah dan mungkin juga kelasnya. Ia tidak sadar bahwa ada banyak sekolah lain yang kualitasnya lebih baik. Ia tidak sadar bahwa ada kelas yang lebih tinggi.

Demikian pula dalam dunia beladiri. Banyak peserta beladiri yang jual lagak jika ia masih dalam tataran rendahan. Akan tetapi jika ia sudah mencapai tataran semacam pendekar atau pelatih umumnya akan lebih tenang dan luruh. Hal yang sama juga terjadi dalam dunia preman atau gali. Preman-preman kelas teri umumnya suka petentang-petenteng dan jual tampang angker di sekitar tempat tinggalnya, namun gali atau preman kelas kakap umumnya akan kelihatan tenang di kampungnya bahkan sering menyembunyikan identitas kepremanannya di lingkungan terdekatnya.

a. sartono