|
Bothekan
WELAS TEMAHAN LALIS
Pepatah
Jawa di atas secara harfiah berarti berbelas kasihan (menyayang)
lalu (menyebabkan) mati. Kata lalis sendiri di samping bisa
diartikan sebagai mati bisa juga diartikan sebagai pergi.
Orang sering tidak sadar
bahwa welas, rasa sayang, atau belas kasihnya terhadap orang lain
sering tanpa perhitungan yang masuk akal. Oleh karena saking
sayangnya pada seseorang, maka apa pun yang dilakukan orang tersebut
dibela atau selalu didukungnya. Bahkan ketika orang yang
disayanginya itu meminta atau berbuat sesuatu yang tidak baik pun
tetap dibela atau diturutinya. Akibatnya orang yang disayang
tersebut tidak mandiri, tidak mengerti, selalu manja, egois, tidak
peduli pada orang lain dan lingkungan, kolokan dan seterusnya.
Akibat jauhnya, jika orang yang menyayangi tersebut meninggal, maka
orang yang disayang ini tidak bisa apa-apa, bingung, tumpul, dan
bahkan putus asa karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Contoh dari welas temahan
lalis ini bisa terjadi pada pasangan pria-wanita yang sedang
berpacaran. Oleh karena rasa cintanya itu bisa saja pihak wanitanya
kemudian memberikan kehormatannya begitu saja kepada pasangan
prianya. Padahal keduanya belum tentu kelak di kemudian hari resmi
menikah. Penyesalan wanita tersebut nantinya menjadi tidak berguna.
Ia akan selalu ditekan oleh rasa bersalah, berdosa, dan merasa tidak
punya nilai sebagai wanita terhormat.
Contoh lain dari pepatah ini
dapat dilihat juga misalnya ada orang tua yang teramat sayang kepada
anaknya sehingga apa pun yang dilakukan anaknya didukungnya. Bahkan
ketika anaknya berbuat jahat, tetap saja dibelanya. Hingga suatu
ketika anaknya tertangkap dan dipenjara pun ia tetap membela dan
merasa bahwa anaknya tidak bersalah. Anaknya ditebus dari penjara.
Anaknya kumat lagi kejahatannya. Demikian seterusnya hingga harta
dan daya orang tuanya habis. Si anak tertangkap lagi dan
dipenjarakan dan tidak ada lagi yang bisa menebus atau membelanya.
Riwayat kekuatan dan kekayaan orang tuanya sudah tamat dan riwayat
si anak sendiri tamat di balik jeruji besi.
Demikianlah beberapa contoh
pepatah welas temahan lalis. Maunya memberikan belas kasih dan
kemurahan kepada seseorang namun rasa sayang yang tanpa perhitungan
yang benar dan baik justru akan menjerumuskan orang yang disayang
itu pada kesengsaraan dan ketidakmengertian.
Pepatah ini dalam pengucapan
sehari-hari sering berubah menjadi welas tanpa alis. Kekeliruan ini
menjadi kaprah (umum) sehingga dianggap sebagai istilah atau pepatah
yang benar.
a sartono |