|
Bothekan
REBUTAN BAKUNG TANPA ISI
Pepatah
Jawa di atas secara harfiah berarti berebut tulang tanpa isi. Apa
yang digambarkan oleh kalimat ini sebenarnya sudah menjelaskan akan
arti atau maknanya. Tentu saja berebut tulang tanpa isi adalah
perbuatan yang mubazir. Perbuatan yang tidak akan menghasilkan
keuntungan apa-apa. Orang yang dapat memenangkan dalam perebutan ini
juga tidak akan memperroleh sesuatu yang berarti. Lebih-lebih lagi
yang kalah.
Umumnya dalam sebuah
peristiwa perebutan hampir selalu terjadi adu mulut, adu otot dan
bahkan sering memuncak pada perkelahian fisik. Dalam peristiwa
semacam itu hampir semua orang yang terlibat dalam perebutan pasti
mengerahkan segala kemampuan untuk mendapatkan apa yang
diperebutkannya. Perebutan itu sendiri menjadi berarti bila memang
yang diperebutkan memiliki nilai. Akan tetapi jika yang diperebutkan
hanya berupa tulang tanpa isi, apalah artinya itu semua.
Demikian pepatah itu ingin
menggambarkan tentang perebutan akan sesuatu dari dua atau lebih
orang atau kelompok sedangkan hal yang diperebutkan itu sesungguhnya
tidak bernilai apa-apa. Misalnya ada dua orang sama-sama ngeyel dan
marah kemudian berkelahi. Padahal hal yang menjadikan mereka berbuat
demikian hanyalah berupa saling mengejek. Berawal dari itu
perkelahian berkembang menjadi tawuran antarkampung dan seterusnya.
Hal demikian menjadi mubazir untuk alasan sebuah perkara yang sangat
sepele.
a. sartono |